JIWA TENANG DENGAN DZIKRULLAH

Posted by newydsui Thursday, December 1, 2011 0 comments

JIWA TENANG DENGAN DZIKRULLAH
Oleh: Tengku Azhar, Lc.

“Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang?” demikianlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Ar-Ra’du: 28. Seyogyanya seorang muslim menghiasi hidupnya dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, di mana dan kapan pun juga. Ketenangan jiwa dan kenyamanan hidup hanya didapat oleh seorang manusia dengan berdzikir kepada Allah. Tentunya ‘dzikir’ dengan makna yang lebih luas cakupannya, bukan sebatas dzikir dengan lisan saja sebagaimana yang banyak kita saksikan hari ini.

Munculnya penomena majelis dzikir, Indonesia berdzikir, dzikir nasional dan istilah lainnya sebenarnya sesuatu yang positif. Namun amat disayangkan, banyak kaum muslimin yang melakukan hal demikian, justru terjerumus pada banyak kesalahan yang menunjukkan mereka tidak mengerti bagaimana dzikir pada hakikatnya.
Sebagai contoh, ada seorang ibu muda yang aktif mengikuti ‘majelis dzikir’. Kecintaannya pada dzikir begitu mempesona. Bahkan dia tidak canggung mengajak teman-temannya dari kalangan para ibu untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi, bila kita lihat kehidupannya sehari-hari sungguh memprihatinkan. Keluar rumah tanpa menutup auratnya, ngobrol dengan kaum pria yang bukan mahromnya begitu ‘nyantainya’.
Lantas di mana buah dzkir yang selama ini ia lakukan? Apa dzikir itu sendiri? Apakah dzikir itu hanya sebatas di lisan saja?

Tema kita kali ini akan membahas seputar dzikir dan hakikatnya yang sebenarnya, agar dzikir yang kita lakukan benar di mata Allah dan juga di mata manusia.

Urgensi dan Kedudukan Dzikir

Satu kepastian bahwa dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang mendekatkan diri seorang muslim kepada Rabbnya, bahkan ia merupakan kunci semua kebaikan yang diinginkan seorang hamba di dunia dan akhirat. Kapan saja yang Alah Ta’ala berikan kunci ini pada seorang hamba maka Allah Ta’ala inginkan ia membukanya dan jika Allah menyesatkannya maja pintu kebaikan tersisa jauh darinya, sehingga hatinya gundah gulana, bingung, pikiran kalut, depresi dan lemah semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga dzikir dan do’a serta terus berlindung kepada Allah maka hatinya akan tenang, sebagaiman firman Allah :

الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du :28)
Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam banyak ayatnya, diantaranya:

إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab :35)

Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan secara gamblang arti penting dan kedudukan dzikir pada diri seorang muslim dalam banyak haditsnya, diantaranya:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Dari Abu Musa , beliau berkata: telah bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhari)

Dan hadits beliau yang berbunyi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ

“Dari Abu Hurairah, beliau berkata: “Al-Mufarridun telah mendahului” mereka bertanya: ‘Siapakah Al-Mufarridun wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir.” (HR. Muslim)

Keutamaan dan Fadah Dzikir

Keutamaan dan faedah dzikir sangat banyak sekali, sampai-sampai imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al-Waabil Ash-Shoyyib bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus faedah dan menyebutkan tujuh puluh tiga faedah didalam kitab tersebut.
Diantara keutamaan dan faedah dzikir adalah:

1. Dzikir dapat mengusir syaitan dan melindungi orang yang berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Dan aku (Yahya bin Zakariya) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba tidak dapat melindungi dirinya dari syaitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: ‘Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah dan senantiasa gerak berdzikir, karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah maka musuh langsung menerkam dan memangsanya dan jika berdzikir kepada Alah maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti Al Wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat’.
Manusia ketika lalai dari dzikir maka syaitan langsung menempel dan menggodanya serta menjadi teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az Zukhruf:36).
Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syaitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.

2. Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du :28)

3. Dzikir dapat menghidupkan hati, bahkan dzikir itu sendiri pada hakekatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir maka seakan-akan kehilangan kehidupannya sehingga tidak hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‘Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan, lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?’

4. Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah, karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar dan kebaikan menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya)

5. Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak dihasilkan selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya, karena gerakan lisan lebih mudah dari gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
“Barang siapa mengucapkan (dzikir):
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepulih budak, ditulis seratus kebaikan untuknya dan dihapus seratus dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syeitan pada hari itu sampai sore dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya kecuali seorang yang beamal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayim berkata: ‘Dzikir adalah ibadah yang paling mudah namun paling agung dan utama, karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya sekali, bahkan tidak mampu.’

6. Dzikir adalah tanaman jannah. Ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi:
لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Aku berjumpa dengan Ibrohim pada malam isra’ dan mi’roj, lalu ia berkata: “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa jannah memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Jannah itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi Walhamdulillah Walaa ilaha illa Allah Wallahu Akbar.” (HR. At-Tirmidzi)

7. Dzikir menjadi cahaya penerang bagi yang berdzikir di dunia, di alam kubur dan di akhirat. Meneranginya di shirota, sehingga tidaklah hati dan kuburan memiliki cahaya seperti cahaya dzikrullah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (QS. Al-An’am:122)

8. Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan para malaikatNya, sebagamana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzaab:41-43)

9. Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan, karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’:142)
Shahabat Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafiq atau bukan?” Beliau menjawab: “Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.” Ini merupakan alamat kemunafikan, yaitu sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini maka banyak berdzikir merupakan pengaman dari kenifakan.

10. Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى
“Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbaik dan tersuci serta tertinggi pada derajat kalian, ia lebih baik dari berinfak emas dan perak dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka menjawab: “ya”, lalu Rasulullah menjawab: “Dzikrullah.” (HR. At-Tirmidzi)

Dzikrullah Tidak Sebatas Dengan Lisan
Berdzikir kepada Allah tidak sebatas dengan lisan, tetapi juga dengan anggota badan. Inilah yang terpenting. Melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya merupakan dzikir yang tidak semestinya diabaikan oleh setiap muslim dan muslimah yang senantiasa berdzikir dengan lisannya.
Wallahu A’lamu bish Shawab.

Hak Ibu Atas Anaknya

Posted by newydsui 0 comments

Hak Ibu Atas Anaknya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ـ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ـ فَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ : ” مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِيْ ؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : أُمُّكَ . قَالَ ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : ثُمَّ أَبُوْكَ ” . رَوَاهُ اْلبُخَارِي وَمُسْلِمُ وَابْنُ مَاجَهْ
Dari Abu Hurairah r.a. berkata: Ada seseorang yang datang menghadap Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulallah, siapakah orang yang lebih berhak dengan kebaikanku?” Jawab Rasulullah, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ibumu.” Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawabnya, “Ayahmu.” (Bukhari, Muslim, dan Ibnu Majah)

Pengulangan kata “ibu” sampai tiga kali menunjukkan bahwa ibu lebih berhak atas anaknya dengan bagian yang lebih lengkap, seperti al-bir (kebajikan), ihsan (pelayanan). Ibnu Al-Baththal mengatakan:
“Bahwa ibu memiliki tiga kali hak lebih banyak daripada ayahnya. Karena kata ‘ayah’ dalam hadits disebutkan sekali sedangkan kata ‘ibu’ diulang sampai tiga kali. Hal ini bisa dipahami dari kerepotan ketika hamil, melahirkan, menyusui. Tiga hal ini hanya bisa dikerjakan oleh ibu, dengan berbagai penderitaannya, kemudian ayah menyertainya dalam tarbiyah, pembinaan, dan pengasuhan.

Hal itu diisyaratkan pula dalam firman Allah swt., “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun –selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun–, bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Luqman: 14)
Allah swt. menyamakan keduanya dalam berwasiat, namun mengkhususkan ibu dengan tiga hal yang telah disebutkan di atas.
Imam Ahmad dan Bukhari meriwayatkan dalam Al-Adabul Mufrad, demikian juga Ibnu Majah, Al Hakim, dan menshahihkannya dari Al-Miqdam bin Ma’di Kariba, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Sesunguhnya Allah swt. telah berwasiat kepada kalian tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ibu kalian, kemudian berwasiat tentang ayah kalian, kemudian berwasiat tentang kerabat dari yang terdekat.”
Hal ini memberikan kesan untuk memprioritaskan kerabat yang didekatkan dari sisi kedua orang tua daripada yang didekatkan dengan satu sisi saja. Memprioritaskan kerabat yang ada hubungan mahram daripada yang tidak ada hubungan mahram, kemudian hubungan pernikahan. Ibnu Baththal menunjukkan bahwa urutan itu tidak memungkinkan memberikan kebaikan sekaligus kepada keseluruhan kerabat. Mari dekatkan diri kepada Allah dengan birrul walidaini. (red)

Hakekat Tasawuf
(Koreksi Terhadap Esensi Ajaran Tasawuf)

Prolog
Secara hakiki, ajaran tasawuf yang dianut umat islam mempunyai pandangan yang bercorak panteistis. Teori-teori yang diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf, baik teori Wihdah Al-Wujud, Wihdah As-syuhud, Al-Ittihad, Al-Ittishal, Al-Hulul Atau Al-Liqa’, semuanya bersifat panteistis. Pandangan pantaistis merupakan hasil dari konsepsi filsafat yang disebut monisme, yaitu konsepsi yang berpendapat bahwa Tuhan dan alam adalah satu. Sedangkan monisme dengan panteismenya secara historis merupakan esensi dari ajaran agama hindu, sebagai agama tertua di dunia yang lahir di india dengan kitab sucinya Weda (1250 SM), Unpanishad (750 SM), dan Mahabarata.

Ajaran tasawuf dengan filsafat monisme dan panteismenya dimiliki oleh hindu dan dianut dan dikembangkan oleh yunani kuno, kemudian dianut dan dikembangkan oleh Kristen, kemudian dianut oleh filosof muslim dan sufi muslim seperti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi.

Dari berbagai formulasi yang beraneka ragam -baik di dalam kitab weda, Upanishad, maupun baghawad gita- tentang filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya, yaitu hubungan antara brahma (Tuhan), yang tunggal dengan keanekaan dunia, baik yang menurun (emanasi) maupun yang menaik (panteisme) secara esensial adalah milik agama hindu. Filsafat monoisme dengan emanasi dan panteismenya yang dikembangkan oleh filosof yunani, yang kemudian diambil alih oleh filosof Kristen yang selanjutnya dijadikan prinsip dasar agama kristen seperti doktrin trinitas dan penebusan dosa, adalah berasal dari agama hindu. Karenanya secara esensial filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh hindu dan diyakini oleh filosof yunani dan Kristen adalah sama persis.

Kemudian, baik karena factor daerah sejarah, pergaulan yang begitu akrab antara golongan Kristen dengan umat islam, maka filsafat monisme dengan emanasinya dan panteismenya yang dimiliki oleh agama Kristen juga diambil alih oleh kaum muslim, khususnya golongan syi’ah dengan segala alirannya dan tasawuf dengan semua tarekatnya.
Persamaan persamaan prinsipil antara filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh hindu, filosof yunani, agama kristen, syi’ah, dan tasawuf sangatlah menonjol dan tidak ada perbedaannya sama sekali. Perbedaan gradual, seperti penggunaan istilah, formulasi yang disusun secara puitis ataupun prosa tidak menyebabkan persamaan prinsip itu menjadi kabur.

Dengan demikian, filsafat monisme dengan emanasi (al-fa’id) dan panteismenya (al- hulul, wihdah al-wujud, al-ittihad) yang dianut oleh golongan syi’ah dan tasawuf berasal dari agama hindu dan tidak bersumber dari ajaran islam. Lebih jauh dari itu, istilah-istilah yang digunakan dalam ajaran tasawuf seperti syari’at, thariqat, haqiqat dan ma’rifat sama sekali tidak didasarkan pada dalil al-qur’an dan as-sunnah.

Definisi Tasawuf

Pengertian tasawuf menurut istilah dirumuskan dengan berbagai macam definisi. Ada yang menyatakan bahwa intisari tasawuf ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad. Adapula yang menyatakan bahwa tujuan tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada tuhan dan berusaha agar bersatu dengan Tuhan.

Al-Junaid (wafat 910 M) berkata: “tasawuf berarti bahwa tuhan menjadikan kamu mati, untuk hidup kembali di dalam-Nya.” Sedangkan Abu Yazid Bustami berkata:” jika aku terhapus, maka Tuhan adalah kaca-Nya sendiri dalam diriku.”

Dari beberapa rumusan definisi tasawuf di atas, maka tasawuf secara istilah yaitu, suatu usaha yang sungguh-sungguh dengan jalan mengasingkan diri sambil bertafakur, melepaskan diri dari segala yang bersifat duniawi dan memusatkan diri hanya kepada Tuhan sehingga bersatu denganNya.

Esensi Ajaran Tasawuf

Esensi ajaran tasawuf adalah panteisme (al-wahdah al-wujud, al-hulul atau al-ittihad), emanasi dan monisme. Untuk mendapatkan gambaran yang objektif tentang esensi ajaran tasawuf maka akan penulis ketengahkan salinan pernyataan dari beberapa tokoh sufi yang penulis anggap dapat mewakili semua aliran yang ada dalam ajaran tasawuf.
Abu Yazid Al Bustami berkata: “tidak ada Tuhan, melainkan aku. Sembahlah aku, amat sucilah aku. Alangkah besar kuasaku.”

Al-Hallaj pernah mengungkapkan dalam sya’irnya tentang ajaran yang dianutnya, antara lain berbunyi: “sayalah orang yang saya rindui, dan orang yang saya rindui ialah saya. Kami dua jiwa yang bersatu di satu badan, kalau engkau lihat aku, engkau lihat Dia, bila engkau lihat Dia, terlihat oleh engkau kami. Telah bercampur ruh-Mu dalamruhku, laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih, bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah aku. Sebab itu, Engkau adalah aku dalam segala hal.”

Ibnu arabi berkata, “wahai yang menjadikan segala sesuatu pada diriNya, Engkau bagi apa yang engkau jadikan, engkaulah yang sempit dan lapang. Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba, demi syu’urku siapakah yang mukallaf. Kalau Engkau katakan hamba, padahal dia tuhan atau Engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintah.”
Filsafat monisme dengan emanasinya juga menjadi prinsip dasar tasawuf Ibnu Arabi dan Al-Hallaj. Ibnu Arabi menyatakan bahwa Allah adalah suatu dan satu. Dia adalah wujud yang mutlak. Maka nur (cahaya) Allah merupakan bagian dari diriNya, itulah hakekat muhammadiyah, itulah kenyataan pertama dalam ketuhanan. Dari hakekat muhammadiyah terjadi segala alam dalam setiap tingkatannya seperti alam jabarut, alam malakut, alam missal, alam ajsam (benda) dan alam arwah (ruh). Apabila Muhammad telah mati sebagai tubuh, namun nur Muhammad atau hakekat muhammadiyah itu tetap ada sebab dia merupakan sebagian dari Tuhan. Jadi Allah, adam dan Muhammad adalah satu dan insan kamil pun adalah Allah.
Al-Hallaj menggambarkan bahwa nur Muhammad atau hakekat muhammadiyah merupakan sumber kejadian alam semesta dan darinyalah terpancar segala makhluk di alam ini.

Menurutnya, cahaya segala kenabian terjelma dari nurnya. Ibnu Arabi dan Al-Hallaj mempunyai kedudukan yang sama yaitu sebagai penjelmaan Tuhan di alam ini, yang suci, dan maksum, yang mengetahui segala yang ghaib, yang berserikat dengan Tuhan dalam menentukan nasib, surga dan neraka. Ibnu Arabi dan Al Hallaj telah sampai pada tingkat wali Allah atau insan kamil yang dinyatakan bahwa matanya tuhan telah menjadikan mataNya untuk melihat, telingaNya untuk mendengar. Mereka berdua telah mendapat karamah, kemuliaan yang istimewa, sehingga mereka dapat berhubungan dengan alam ghaib, dengan ruh, dengan malaikat dan jin, serta mengetahui sesuatu hal sebelum kejadian.
Kedudukan tokoh- tokoh sufi yang telah mencapai tingkat wali Allah adalah sama dengan kedudukan imam imam pada kaum syi’ah, yaitu penjelmaan Tuhan di alam nyata. Karenannya tidak salah apabila ibnu kholdun berpendapat bahwa kepercayaan tentang wali Allah pada kaumsufi adalah karena mengikuti ajaran syi’ah: bathiniyyah, ismailiyah, imamiyah dan rafidhah.

Koreksi Terhadap Esensi Ajaran Tasawuf

Secara filosofis, monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh golongan tasawuf bertentengan secara diametral dengan teori “penciptaan” dan “monoteisme” yang dianut ummat islam. Agama islam mengajarkan bahwa segala sarwa yang ada terdiri dari dua esensi, yaituTuhan dan alam, Kholiq dan makhluk, yang pertama sebagai Maha Pencipta dan yang kedua sebagai yang diciptakan. Perbedaan fundamental antara Tuhan dan alam, baik secara esensinya maupun eksistensinya sangat prinsipil. Perbedaan fundamental itu dinyatakan oleh islam dalam al-qur’an, seperti tertuang dalam ayat berikut:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ اْلأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi.Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-syura:11)
Muhamad Ali Ash Shobuni menjelaskan pengertian ayat ini: “pengertiannya yaitu bahwa Allah SWT tidak dapat diumpamakan dan dipikirkan, baik mengenai zat-Nya, sifatNya, maupun perbuatanNya. Dia adalah Maha Tunggal, tempat semua makhluk menggantungkan tujuan dan permohonan. Allah swt terbebas dari segala bentuk ‘penyerupaan’ dengan makhlukNya.
Sedangkan Maulana Muhamad Ali memperkuat komentar di atas dengan umgkapan sebagai berikut; “zat Tuhan tidaklah terperikan, dan Ia di atas segala konsepsi kebendaan, hingga persamaan-Nya tidak dapat diangan-angankan, sekalipun secara ibarat.”

Oleh karena itu, berkenaan dengan perbedaan fundamental antara Tuhan di satu pihak dengan alam di pihak lain, maka sejak awal mula islam telah memberikan peringatan kepada ummat manusia agar tidak mendiskusikan tentang substansi atau zat Tuhan, karena tidak akan mungkin akal budi manusia mampu memecahkannya. Sebaliknya, berpikirlah tentang segala ciptaanNya dan dengan cara itu manusia akan sampai kepada pengakuan tentang substansi atau zat Tuhan. Peringatan itu dikemukakan oleh nabi Muhamad saw seperti tertuang dalam sabdanya, “berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan kamu berpikir tentang zat Allah, sebab kamu tidak akan mampu.” (al hadist)

Dalam hubungan ini Hasan Al Banna menyatakan antara lain,”ketahuilah bahwa zat Allah itu Maha Besar untuk dijangkau oleh akal budi manusia, betapapun tingginya akal budi itu. Kekuatan dan kemampuan akal budi itu terbatas. Akal budi manusia dapat mengetahui tentang segala sesuatu yang bersifat alami, akan tetapi akal budi belum mampu mengetahui hakekat sesuatu itu, seperti antara lain hakekat materi atau energy. Apabila hakekat materi dan energy saja manusia terbatas untuk mengetahuinya, apalagi zat Tuhan yang Maha Besar dan Maha Luas tak terhingga. Untuk itu Rasulullah saw melarang memikirkan zat Allah, sebaliknya beliau menyuruh manusia memikirkan segala ciptaanNya.
Berpikir tentang zat Kholiq berarti mencari hakekat Zat Kholiq itu dari segi yang kecil sekali yaitu diri manusia. Hal itu tak mungkin dibenarkan oleh akal budi itu sendiri, karena alat (akal budi) yang dipakai terlalu lemah dan tidak seimbang; sebab antara dua wujud itu, akal budi dan zat tuhan memiliki perbedaan yang sangat jauh dan sama sekali tidak seimbang.
Dari sisi lain, usaha menyelami sesuatu yang tidak mungkin akal budi menusia sampai kepadanya berarti sama halnya dengan menghabiskan umur secara sia-sia, bahkan akan menimbulkan celaka. Percuma karena mengusahakan sesuatu yang tidak mungkin akan tercapai, dan celaka karena hal itu akan membawa kepada keraguan dan merusak keyakinan.

Penutup

Uraian yang telah penulis paparkan bertujuan menjelaskan secara ringkas tentang esensi ajaran tasawuf menurut para penganutnya, dan penulis telah melakukan koreksi secara singkat tentang kesalahan dan pertentangannya dengan ajaran islam. kesimpulannya, hampir setiap dimensi ajaran tasawuf bertentangan dengan islam. Oleh kare itu, sudah seharusnya umat islam tidak mengikuti pola ajaran tasawuf dan kembali kepada ajaran islam secara utuh kemudian mengamalkannya sesuai menurut ajaran Rasulullah saw.
Referensi:
Abdulah Yusuf Ali, The Meaning Of The Glorius Qur’an (Bairut: Dar Kitab Al Lubnani, Tanpa Tahun)
Muhamad Ali Ash Shobuni, Shafwah At Tafasir (Bairut: Dar Al Qur’an Al Karim, 1981)
Hamka, Tasawuf: Perkembangan Dan Pemurniannya (Jakarta: Nurul Islam, 1980)
Martin Lings, Membedah Tasawuf Terj (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)
Harun Nasution, Filsafatdan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)
Abu Al Wafa Al Ghanimi At Taftazani, Sufi Dari Zaman Ke Zaman Terj. (Bandung: Pustaka, 1985)
Zoetmulder P.J, Manunggaling Kawula Gusti Terj. (Jakarta: Gramedia, 1990)
Abdul Qadir Djailani, Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)

DZIKIR DAN SYUKUR

Posted by newydsui 0 comments

DZIKIR DAN SYUKUR
Oleh: Tengku Azhar, Lc

Tafsir QS. Al-Baqarah: 152

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

TAFSIR AYAT
Para mufassirin mengatakan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, yaitu masalah nikmat Allah berupa diutusnya para Rasul kepada manusia (terkhusus kaum muslimin), yang bertugas membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Karena itulah maka Allah menyerukan kepada orang-orang mukmin agar mengakui nikmat ini dan membalasnya dengan banyak berzikir menyebut asma-Nya dan bersyukur kepada-Nya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Yakni sebagaimana Aku telah melimpahkan nikmat kepada kalian, maka ingatlah kalian kepada-Ku.
Abdullah ibnu Wahb meriwayatkan dari Hisyam ibnu Sa’id, dari Zaid ibnu Aslam, bahwa Nabi Musa pernah berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu?” Tuhan berfirman kepadanya, “Ingatlah Aku dan jangan kamu lupakan Aku. Maka apabila kamu ingat kepada-Ku, berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku. Apabila kamu lupa kepada-Ku, berarti kamu ingkar kepada-Ku.”

Al-Hasan Al-Basri, Abui Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengingat orang yang ingat kepada-Nya, memberikan tambahan nikmat kepada orang yang bersyukur kepada-Nya, dan mengadzab orang yang ingkar terhadap- Nya. Salah seorang ulama Salaf mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 102)
Bahwa makna yang dimaksud ialah hendaknya kita taat kepada-Nya dan tidak durhaka terhadap-Nya, selalu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya dan tidak ingkar terhadap-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Imarah As- Saidalani, telah menceritakan kepada kami Mak-hul Al-Azdi yang mengatakan atsar berikut, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimanakah menurutmu tentang orang yang membunuh jiwa, peminum khamr, pencuri, dan pezina yang selalu ingat kepada Allah, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian.”
Ibnu Umar menjawab, “Apabila Allah mengingat orang ini, maka Dia mengingatnya melalui laknat-Nya hingga dia diam (dari maksiatnya).”
Hasan Al-Bashri –rahimahullah- dalam menafsirkan ayat ini berkata,
Makna yang dimaksud ialah: “Ingatlah kalian kepada-Ku dalam semua apa yang telah Ku-fardhukan atas kalian, maka niscaya Aku akan mengingat kalian dalam semua apa yang Aku wajibkan bagi kalian atas diri-Ku.”

Sa’id bin Jubair –rahimahullah- berkata,

Ingatlah kalian kepada-Ku dengan taat kepada-Ku, niscaya Aku selalu ingat kepada kalian dengan maghfirah (ampunan)-Ku.” Menurut riwayat yang lain disebutkan “dengan rahmat-Ku.”
Disebutkan bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah ‘ingat Allah kepada kalian jauh lebih banyak daripada ingat kalian kepada-Nya’. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَمَنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ مِنَ النَّاسِ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ
“Barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam diri-Ku; dan barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam golongan yang lebih baik daripada golongannya.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ ، أَوْ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا ، دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا ، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا ، دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي ، أَتَيْتُكَ أُهَرْوِلُ
“Hai anak Adam, jika kamu ingat kepada-Ku di dalam dirimu, niscaya Aku ingat pula kepadamu di dalam diri-Ku. Dan jika kamu mengingat-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat pula kepadamu di dalam golongan dari kalangan para malaikat -atau beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Di dalam golongan yang lebih baik dari golonganmu’-. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, niscaya Aku mendekat kepadamu satu hasta. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu datang kepada-Ku jalan kaki, niscaya Aku datang kepadamu dengan berlari kecil.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya, no. 12432)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bersyukur dan menjanjikan pahala bersyukur berupa tambahan kebaikan dari-Nya. Seperti disebutkan dalam ayat yang lain:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat)-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Fudail ibnu Fudalah (seorang lelaki dari kalangan Bani Qais), telah menceritakan kepada kami Abu Raja Al-Ataridi yang mengatakan bahwa Imran Ibnu Husain keluar menemui kami memakai jubah kain sutra campuran yang belum pernah kami lihat dia memakainya, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. Lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
[ مَنْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ نِعْمَةً فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ ] .
“Barang siapa dianugerahi suatu nikmat oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menyukai bila melihat penampilan dari nikmat yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya, no. 20469)

ULASAN ULAMA TENTANG URGENSI DZIKIR DAN SYUKUR
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah –rahimahullah- berkata:
Syukur termasuk tempat persinggahan yang paling tinggi dan lebih tinggi daripada ridha. Ridha merupakan satu tahapan dalam syukur. Sebab mustahil ada syukur tanpa ada ridha. Syukur adalah separuh iman, dan separuhnya lagi adalah sabar.

Allah menamakan Diri-Nya Asy-Syakir dan Asy-Syakur, dan juga menamakan orang-orang yang bersyukur dengan dua nama ini. Dengan begitu Allah mensifati mereka dengan sifat-Nya dan memberikan nama kepada mereka dengan nama-Nya. Yang demikian ini sudah cukup untuk menggambarkan kecintaan dan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bersyukur. Pengabaran tentang sedikitnya orangorang yang bersyukur di dunia ini, berarti menunjukkan kekhususan mereka, seperti firman-Nya,
“Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa ketika kedua telapak kaki beliau bengkak karena terlalu lama berdiri mendirikan shalat malam, lalu ada orang yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau melakukan yang demikian itu, padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lampau dan yang akan datang?” Maka beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
Syukur dilandaskan kepada lima sendi:
1. Orang yang bersyukur tunduk kepada yang disyukuri,
2. mencintai-Nya,
3. mengakui nikmat-Nya,
4. memuji-Nya karena nikmat itu,
5. dan tidak menggunakan nikmat itu untuk sesuatu yang dibenci-Nya.
Inilah lima sendi dan dasar syukur. Jika ada salah satu di antaranya yang hilang, maka sendi syukur itu pun menjadi lowong, yang membuat syukur tidak sempurna. Siapa pun yang berbicara tentang syukur dan batasan-batasannya, tentu akan kembali ke lima sendi ini dan pembicaraannya berkisar padanya.
Banyak orang yang membicarakan perbedaan antara pujian dan syukur, mana yang lebih tinggi dan lebih utama di antara keduanya? Di dalam hadits disebutkan, “Pujian adalah pangkal syukur. Siapa yang tidak memuji Allah, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.”
Perbedaan di antara keduanya, bahwa syukur lebih umum jika ditilik dari jenis-jenis dan sebab-sebabnya, namun lebih khusus jika ditilik dari kaitan-kaitannya. Sedangkan pujian lebih umum jika ditilik dari kaitan-kaitannya, namun lebih khusus jika ditilik dari sebab-sebabnya. Artinya, syukur itu bisa dengan hati yang menunjukkan ketundukan, dengan lisan yang menunjukkan pengakuan, dengan anggota tubuh yang menunjukkan ketaatan. Sedangkan kaitannya adalah nikmat, tanpa sifat-sifat Dzat Allah. Maka tidak bisa dikatakan, “Kami bersyukur kepada Allah atas hidup, pendengaran, penglihatan dan ilmuNya.” Allah adalah yang dipuji dengan sifat-sifat ini, sebagaimana Dia dipuji karena kebaikan dan keadilan-Nya. Syukur dilakukan karena kebaikan dan nikmat.

Pengarang Manazilus Sa’irin berkata, “Syukur merupakan istilah untuk mengetahui nikmat, karena mengetahui nikmat ini merupakan jalan untuk mengetahui Dzat Pemberi nikmat. Karena itu Allah menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur.”
Mengetahui nikmat merupakan salah satu dari beberapa rukun syukur, bukan karena ia bagian dari syukur seperti yang disebutkan di atas, bahwa syukur itu merupakan pengakuan terhadap nikmat, pujian kepada Allah karena nikmat itu dan mengamalkan nikmat seperti yang diridhai-Nya, tapi karena mengetahui nikmat ini merupakan rukun syukur yang paling besar, sehingga syukur mustahil ada tanpa mengetahui nikmat. Nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Pemberi nikmat, artinya dengan mengetahui nikmat itu akan membuat seorang hamba bisa Dzat Pemberi nikmat. Jika dia mengetahui Pemberi nikmat, tentu akan mencintai-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mengharapkan-Nya. Sebab siapa yang mengetahui Allah, tentu akan mencintai-Nya, dan siapa yang mengetahui dunia, maka Allah akan membuatnya membenci dunia.

Reference:
1. Tafsir Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari.
2. Tafsir Qur`anil Azhim, Imam Ibnu Katsir.
3. Madarijussalikin, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

Beribu Manfaat dari Dzikir Sesaat
Oleh : Imtihan

Maraknya hiburan dan mudahnya kehidupan jamak membikin orang terlena dengan kenikmatan hidup sehingga melupakan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat bagi kehidupan mereka, yakni kesenangan hidup di akherat. Serta melalaikan tujuan hidup mereka, beribadah kepada Allah swt. Penatnya fisik setelah seharian mencari nafkah tak jarang dijadikan alasan untuk malas, menunda ibadah atau bahkan tidak beribadah sama sekali. Alih-alih menambahnya dengan ibadah sunnah, yang wajib saja sering dilalaikan. Padahal sejatinya banyak sekali ragam ibadah yang ringan untuk dilakukan namun syarat manfaat. Di antaranya adalah berdzikir. Jenis ibadah yang tak perlu banyak menguras tenaga dan biaya.

Dzikir, meski merupakan ibadah yang paling mudah namun ia memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia. Karena gerakan lisan adalah gerakan anggota badan yang paling tersembunyi dan paling mudah. Seandainya anggota badan manusia mampu beraktifitas sehari semalam sesuai dengan gerak lisannya maka sungguh merupakan pekerjaan yang amat berat. Bahkan tidak mungkin untuk melakukannya. Banyak manfaat yang bisa kita petik dari dzikir yang kita lazimi ini, di antaranya adalah:
Agar lisan terhindar dosa
Seseorang itu pasti bicara. Jika tidak berdzikir kepada Allah dan mengingat perintah-perintah-Nya maka ia akan bicara tentang hal-hal yang diharamkan. Dan tidak ada jalan untuk selamat darinya kecuali dengan dzikrullah. Barangsiapa yang lisannya disibukkan dengan dzikrullah, terjagalah lisannya dari kebatilan dan perkataan yang sia-sia. Dan barangsiapa yang lisannya kering dari dzikrullah niscaya lisannya akan dibasahi dengan kebatilan, perkataan sia-sia dan kekejian.

Majelis malaikat
Dzikir akan menyelamatkan hamba dari kerugian di akherat. Karena setiap majlis yang didalamnya tidak disebut nama Allah adalah majlis yang mendatangkan kerugian dan kesengsaraan pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah dari suatu kaum mereka bangkit dari suatu majlis yang tidak disebutkan nama Allah padanya kecuali mereka bangkit semisal bangkai keledai, dan bagi mereka hanyalah penyesalan”.(HR. Abu Dawud)
Sedang majelis dzikir adalah majelisnya para malaikat. Para malaikat akan mengelilingi dan menaungi orang-orang yang bermajelis untuk berdzikir kepada Alloh dengan sayapnya. Rasulullah saw bersabda:
”Sesungguhnya Allah Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkelana di jalan-jalan mencari orang-orang yang berdzikir. Jika mereka telah mendapatkan sekelompok orang yang berdzikir kepada Allah, mereka duduk bersama dengan orang-orang yang berdzikir. Mereka saling mengajak: ‘Kemarilah kepada hajat kamu’. Maka para malaikat mengelilingi orang-orang yang berdzikir dengan sayap mereka hingga langit dunia. Kemudian Allah Azza wa Jalla bertanya kepada mereka (sedangkan Dia lebih mengetahui daripada mereka), ’Apa yang diucapkan oleh hamba-hambaKu?’ Para malaikat menjawab,’Mereka mensucikanMu (mengucapkan tasbih: Subhanallah), mereka membesarkanMu (mengucapkan takbir: Allah Akbar), mereka memujiMu (mengucapkan Alhamdulillah), mereka mengagungkanMu’. Allah bertanya, ’Apakah mereka melihatKu?’ Mereka menjawab,’Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatMu’. Allah berkata, ’Bagaimana seandainya mereka melihatKu?’ Mereka menjawab, ’Seandainya mereka melihatMu, tentulah ibadah mereka menjadi lebih kuat kepadaMu, lebih mengagungkan kepadaMu, lebih mensucikan kepadaMu’.....” [Muslim, no. 2689]
Alam menjadi saksi
Dengan berdzikir terus-menerus baik di jalan, di rumah, ketika mukim atau safar akan memperbanyak saksi bagi hamba tersebut pada hari kiamat. Karena sesungguhnya rawa-rawa, gunung-gunung, rumah-rumah, dan bumi akan menjadi saksi pada hari kiamat nanti bagi orang-orang yang berdzikir.

Sesungguhnya gunung-gunung dan gurun-gurun merasa bangga dan senang terhadap orang yang berdzikir, mengingat Allah ta’ala.
Ibnu Mas’ud berkata, “Sesungguhnya gunung akan memanggil gunung lain dengan namanya dan bertanya: “Apakah hari ini telah lewat orang yang berdzikir kepada Allah azza wa jalla?” Ketika dijawab, “ya, ada.” Maka gunung tadi bergembira.
Aun bin Abdullah juga berkata, “Sungguh rawa-rawa akan saling menyeru satu sama lain, ‘wahai tetanggaku, apakah hari ini telah lewat orang yang berdzikir kepada Allah?’ Sebagian menjawab, ‘ya. Ada’ sebagian yang lain menjawab, ‘tidak ada.’
Allah berfirman:

“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.” (Al zalzalah: 5)
Ketika rasulullah membaca ayat tersebut, beliau bertanya kepada para sahabatnya, “Tahukah kalian apa yang diberitakan bumi?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau lantas bersabda, “Sesungguhnya yang diberitakan adalah bahwa ia menjadi saksi atas setiap hamba baik laki-laki maupun perempuan terhadap amalan-amalan yang dilakukan. Bumi akan berkata, ‘ia telah beramal pada suatu hari dengan amalan ini dan amalan ini.’” (HR. Tirmidzi)

Tanaman di jannah
Allah swt menjadikan kalimat subhanallah, alhamdulillah, laa ilaaha illallah, dan allahu akbar sebagai tanaman yang menghiasi jannah. Ketika kita mau berdzikir dengan kalimat tersebut berarti kita telah menabung tanaman di jannah yang akan kita petik buahnya kelak di akherat. Rasulullah saw pernah bersabda:

“Ketika malam isra’ mi’raj aku bertemu dengan Ibrahim as. Kemudian beliau berkata, “Wahai Muhammad, sampaikan kepada umatmu dan kabarkan kepada mereka bahwa jannah itu adalah tempat yang paling baik, airnya paling segar dan ia merupakan tanah lapang sedangkan tanamannya adalah subhanallah, Alhamdulillah, laa ilaha illallah dan allahu akbar.” (HR. Tirmidzi)

Subhanallah, alangkah indahnya jika rentang waktu 24 jam yang kita lalui kita hiasi sela-sela aktivitas kita dengan dzikrullah sehingga kita bisa menuai beribu manfaat dari dzikir yang kita lakukan, meski hanya sesaat. Wallahul muwafiq.

SEKALI LAGI TENTANG HEPATITIS B

Hepatitis adalah penyakit infeksi pada hati yang disebabkan oleh virus . Untuk hepatitis B , virus penyebabnya adalah virus hepatitis B ( HBV ) .Virus Hepatitis B merupakan virus DNA yang termasuk golongan Hepadnaviridae. Genome virus ini mempunyai empat buah open reading frame: inti, kapsul, polimerase, dan X. Gen inti mengkode protein nukleokapsid yang penting dalam membungkus virus dan HBeAg. Gen permukaan mengkode protein pre-S1, pre-S2, dan protein S. Gen X mengkode protein X yang berperan penting dalam proses karsinogenesis.
Untuk cara penularan , selain transmisi vertikal, virus Hepatitis B dapat ditransmisikan dengan efektif melalui cairan tubuh, perkutan, dan melalui membran mukosa. Penularan yang lebih rendah dapat terjadi melalui kontak dengan karier Hepatitis B, hemodialisis, paparan terhadap pekerja kesehatan yang terinfeksi, alat tato, alat tindik, hubungan seksual, dan inseminasi buatan. Selain itu penularan juga dapat terjadi melalui transfusi darah dan donor organ. Hepatitis B dapat menular melalui pasien dengan HBsAg yang negatif tetapi anti-HBc positif, karena adanya kemungkinan DNA virus Hepatitis B yang bersirkulasi, yang dapat dideteksi dengan PCR (10-20% kasus).Virus Hepatitis B 100 kali lebih infeksius pada pasien dengan infeksi HIV dan 10 kali lebih infeksius pada pasien Hepatitis C. Adanya HBeAg yang positif mengindikasikan risiko transmisi virus yang tinggi.
Patogenesis infeksi virus Hepatitis B merupakan suatu proses yang kompleks, yang melibatkan respon imun humoral dan seluler. Virus bereplikasi di dalam hepatosit. Virus Hepatitis B tidak bersifat sitopatik, dimana yang membuat kerusakan sel hati dan manifestasi klinis bukan disebabkan oleh virus yang menyerang hepatosit, tetapi oleh karena respon imun yang dihasilkan oleh tubuh. Respon antibodi terhadap antigen permukaan berperan dalam eliminasi virus. Respon sel T terhadap selubung, nukleokapsid, dan antigen polimerase berperan dalam eliminasi sel yang terinfeksi. Terdapat hipotesis yang menyatakan bahwa infeksi kronik berhubungan dengan respon sel T yang lemah. Penemuan DNA virus di ekstrahepatik menjelaskan tingginya tingkat transmisi virus dari organ donor yang mengandung anti-HBc yang positif.

Gambaran Klinis
Infeksi virus Hepatitis B terdiri dari empat fase: imunotoleran, immune clearance, fase non replikasi (karier inaktif), dan reaktivasi. Pasien yang sudah terinfeksi sejak lahir biasanya mempunyai kadar DNA serum yang tinggi tanpa manifestasi hepatitis aktif. Fase ini disebut fase imunotoleran. Fase immune clearance ditandai dengan menurunnya kadar DNA, meningkatnya kadar ALT, aktivitas histologi, dan lisis hepatosit. Fase non replikasi merupakan fase dimana terjadi serokonversi HBeAg menjadi anti-HBe. Pada fase ini DNA virus hanya dapat dideteksi dengan PCR, diikuti dengan normalisasi ALT, dan berkurangnya nekroinflamasi. Pada fase reaktivasi, terjadi peningkatan DNA virus yang tinggi dengan atau tan[a serokonversi HBeAg, disertai peningkatan ALT. Mutasi pada precore dan inti menghambat produksi HBeAg.
Berikut gejala klinis pada hepatitis B akut dan kronis ;

1. Hepatitis B akut
Masa inkubasi dari beberapa minggu sampai 6 bulan, tergantung dari jumlah replikasi virus. Hanya 30% pasien yang disertai ikterus. Infeksi akut biasanya ditandai dengan serum sickness pada 10-20% kasus, dengan demam, artralgia, artritis, dan kemerahan pada kulit. Ikterus akan hilang dalam waktu 1-3 bulan, tetapi beberapa pasien mengalami kelelahan kronik meskipun kadar ALT telah kembali normal. Pada umumnya kadar ALT dan HBsAg akan menurun dan hilang bersamaan; 80% kasus HBsAg hilang dalam 12 minggu setelah sakit. Kadar aminotransferase yang tinggi mencapai 1000-2000 IU/l sering terjadi, dimana ALT lebih tinggi daripada AST. Hepatitis fulminan terjadi pada kurang dari 1% kasus, biasanya terjadi dalam waktu 4-8 minggu setelah gejala, dan berhubungan dengan ensefalopati dan kegagalan multiorgan. Mortalitas hepatitis B fulminan > 80%.

2. Hepatitis B kronik
Gejala yang paling sering adalah kelelahan, anoreksia, dan malaise. Kadang-kadang juga disertai nyeri ringan pada abdomen kanan atas. Hepatitis B kronik dapat tidak bergejala. Bila terdapat sirosis hati, reaktivasi infeksi dapat disertai dengan ikterus dan gagal hati. Selain itu dapat pula disertai manifestasi klinis ekstrahepatik.
Komplikasi
Infeksi virus Hepatitis B pada orang dewasa dengan sistem imun yang intak menyebabkan infeksi akut, dengan 1-5% kasus menjadi kronik. Namun sebaliknya, 95% neonatus yang terinfeksi akan menjadi Hepatitis B kronik. Pada orang dewasa, gagal hati fulminan akibat Hepatitis B akut terjadi pada kurang dari 1% kasus. Survival spontan pada gagal hati akut akibat Hepatitis B adalah sekitar 20%. Infeksi Hepatitis B dikatakan kronik bila HBsAg dalam serum positif lebih dari 6 bulan. Sekitar 1/4-1/3 pasien dengan infeksi Hepatitis B kronik akan mengalami penyakit hati yang progresif.
Infeksi pada bayi 90% akan cenderung menjadi hepatitis B kronik, sedangkan infeksi pada anak usia 1-5 tahun 30-50% akan menjadi kronik. Hepatitis B kronik dapat menjadi sirosis hati dan hepatoma. Dua puluh lima persen pasien dengan hepatitis B kronik akan meninggal akibat sirosis hati maupun hepatoma.

Pencegahan
Pencegahan infeksi virus Hepatitis B dapat dilakukan melalui non imunisasi dan imunisasi. Pencegahan non imunisasi dapat dilakukan dengan cara, menghindari kontak dengan darah maupun cairan tubuh pasien yang terinfeksi virus Hepatitis B, tidak menggunakan jarum suntik dan alat kedokteran yang tidak steril, menghindari hubungan seksual yang tidak aman, dan cara-cara pencegahan umum lainnya.

Fatwa-Fatwa seputar Dzikir Berjama’ah

Dzikir Berjama’ah Dengan Satu Suara Mengucapkan, “Alloh Alloh atau Huwa Huwa”

Pertanyaan:
Kami anggota jama’ah tarekat Tijaniyah, mereka berkumpul tiap malam Juma’at dan Senin untuk berszikir dengan mengucapkan laa ilaha illa Alloh dan di terakhirnya mengucapkan Alloh Alloh dengan suara tinggi, apa hukum amalan mereka?

Jawab:
Keyakinan tarekat Tijaniyah termasuk keyakinan yang bid’ah dan tarekat (metode) yang munkar. Banyak kemungkaran, kebid’ahan dan keharaman serta kesyirikan pada mereka yang harus ditinggalkan dan tidak boleh ajaran mereka diambil kecuali apa yang mencocoki syariat yang datang dari sisi Rasulullah.

Dzikir Berjama’ah dengan satu suara tidak ada dalilnya dalam syariat bahkan bid’ah. Demikian juga ucapan Alloh Alloh atau huwa huwa. Dzikir yang disyariatkan adalah laa ilaha illa Alloh, subhanallah wal hamdulillah wallahu akbar walaa haula walaa quwwata illa billah, astaghfirullah atau allahummagh fir li.

Wajib bagi tidap muslim meninggalkan kebid’ahan karena Rasulullah berkata, “Barangsiapa mengadakan suatu perkara dalam agama kami yang bukan darinya maka ia tertolak.” (HR. Bukhari, 2697, Muslim, 1718) Dan sabdanya, “Barangsiapa beramal suatu amalan yang bukan dari agama kami maka tertolak.” (HR. Muslim, 1718)

Rasulullah berkata, “Jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru dalam agama. Sesungguhnya tiap perkara yang baru dalam agama adalah bid’ah dan tiap bid’ah sesat.” (HR. Ahmad, 126) Dalam suatu khatbah beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kalamullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah sesat.” (HR. Muslim, 867)

Tiap muslim harus /wajib menjauhi bid’ah apakah bid’ah Tijaniyah atau selainnya dan harus berpegang teguh dengan apa yang telah disyariatkan Alloh melalui Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah, “Dan apa yang datang dari rasul itu (Muhammad ) maka ambillah dan apa yang ia larang maka berhentilah. Takutlah kepada Alloh sesungguhnya ia Maha Keras Siksanya.” (Al-Hasyr :7)

Dan Firman-Nya, “Hai orang-orang beriman taatilah Alloh dan taatilah rasulNya dan pemimpin kalian. Jika kamu berselisih dalam satu uursan maka kembalikanlah kepada Alloh dan rasul-Nya”. (Al-Qur’an dan as-sunnah)(AnNisa :59)

Dan firman-Nya, “Dan perselisihan apa saja maka kembalikanlah kepada Alloh.” (Asy-Syura: 10)

Dan firman-Nya, “Dan tegakkanlah shalat, bayarlah zakat dan taatilah rasul agar kamu beruntung.” (An-Nur :56)

Maka wajib bagi tiap muslim laki-laki dan perempuan mentaati Alloh dan rasul-Nya dan menjauhi bid’ah. Karena Alloh telah menyempurnakan kenikmatan-Nya dan agama bagi kita sebagaimana Alloh terangkan, ”Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu dan nikmatKu atas kamu dan Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu.” (Al-Maidah: 3) Maka agama Islam yang telah Allah ridhai dan sempurnakan wajib kita pegang erat-erat, istiqomah di atas jalannya, menjaganya dan tidak mengadakan perkara baru dalam di dalamnya sedikitpun yang tidak Alloh syariatkan. Kita memohon hidayah kepada Alloh untuk kita semua. (Fatawa Nur ‘Alad Darb 1/354, oleh Syaikh bin Bazz)

Talbiah Dengan Berjama’ah

Pertanyaan:
Syaikh Muhammad bin Shalih al’Utsaimin ditanya, “Apa hukum talbiah dengan berjama’ah?”

Beliau menjawab: Amalan mereka tidak memiliki dasar sama sekali dalam sunnah dan bid’ah. Maka sudah sepantasnya bagi pencari ilmu menerangkan kepada mereka bahwa hal itu bukan dari petunjuk nabi shallallahu alai wa sallam. Adapun berhenti antara hajar aswad dan ka’abah pernah dilakukan sahabat dan tidak mengapa dikerjakan. Akan tetapi bila dilakukan dengan berdesakan seperti sekarang maka tidak boleh. Tidak sepantasnya seorang muslim melakukan sesuatu yang mengganggu atau menyakiti muslim yang lain yang mana perbuatan itu bukan masalah yang wajib. (Dlilul Akhtha’ Al-lati yaqa’u fiha Al-Hjj wal Mu’tamir, hal. 43, oleh Syaikh Utsaimin)

Doa Berjama’ah Ketika Thawaf

Pertanyaan:
Syaikh Shalih bin Fauzan ditanya: Banyak terjadi kesalahan pada rangkaian ibadah haji ketika thawaf, apa hukumnya?

Jawab:

Banyak jama’ah haji yang menetapkan doa-doa khusus pada waktu thawaf dan terkadang mereka dipimpin oleh satu orang dan mengulang-ulang dengan satu suara. Amalan ini merupakan kesalahan dilihat dari dua sisi:

Pertama : Menetapkan doa-doa yang tidak sepantasnya ditetapkan pada tempat itu karena tidak pernah ada dari Rasulullah doa khusus pada waktu thawaf.

Kedua : Doa berjama’ah adalah bid’ah yang membuat gaduh. Yang disyariatkan tiap-tiap orang berdoa sendiri-sendiri dengan suara pelan.

Di antara kesalahan haji, sebagian jama’ah haji mencium ruknul Yamany. Karena ruknul Yamany hanya diusap dengan tangan tidak dicium. Yang dicium adalah hajar aswad jika memungkinkan dan bila tidak memungkinkan misalnya karena berdesakan maka isyarat dengan tangan. Rukun-rukun yang lainnya tidak diusap dan tidak juaga dicium. (Fatawa Fadhilah Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, 2/30)

RADIO DAKWAH SYARI'AH

Browser tidak support

DONATUR YDSUI

DONATUR YDSUI
Donatur Ags - Sept 2011

DOWNLOAD DMagz

DOWNLOAD DMagz
Edisi 10 Th XI Oktober 2011

About Me

My Photo
newydsui
Adalah lembaga independent yang mengurusi masalah zakat, infaq dan shodaqoh dari para donatur yang ikhlas memberikan donasinya sebagai kontribusinya terhadap da'wah islamiyah diwilayah kota solo pada khususnya dan indonesia pada umumnya.
View my complete profile

Followers