Showing posts with label Tafsir. Show all posts
Showing posts with label Tafsir. Show all posts

MAKNA KESUCIAN DARI BULAN-BULAN HARAM (ASYHURUL HURUM)

Posted by newydsui Sunday, June 10, 2012 0 comments

MAKNA KESUCIAN DARI BULAN-BULAN HARAM (ASYHURUL HURUM)
Oleh: Tengku Azhar, S.Sos.I

    Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

    إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِين
 
  “Sesungguhnya bilangan bulan-bulan di sisi (hukum) Allah ialah dua belas bulan, (yang telah ditetapkan) dalam Kitab Allah semasa Ia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan yang dihormati. Ketetapan yang demikian itu ialah agama yang betul lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan-bulan yang dihormati itu (dengan melanggar laranganNya); dan perangilah kaum kafir musyrik seluruhnya sebagaimana mereka memerangi kamu seluruhnya; dan ketahuilah sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.”

    Tafsir Ayat

Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia telah menetapkan bilangan bulan itu dua belas semenjak Dia menciptakan langit dan bumi. Yang dimaksud dengan bulan di sini ialah bulan Qamariah karena dengan perhitungan Qamariah itulah Allah menetapkan waktu untuk mengerjakan ibadah yang fardu dan ibadah yang sunnah dan beberapa ketentuan lainnya. Maka menunaikan ibadah haji, puasa, ketetapan mengenai iddah wanita yang diceraikan dan masa menyusui ditentukan dengan bulan Qamariah bukan Syamsiah.
Di antara bulan-bulan yang dua belas itu ada empat bulan yang ditetapkan sebagai bulan haram yaitu bulan Dzulqa'dah, Dzulhijjah, Muharam dan Rajab. Keempat bulan itu harus dihormati dan pada waktu itu tidak boleh melakukan peperangan. Ketetapan ini berlaku pula dalam syariat Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail sampai kepada syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wa Sallam.

Kalau ada yang melanggar ketentuan ini maka pelanggaran itu bukanlah karena ketetapan itu sudah berubah, tetapi semata-mata karena menuruti kemauan hawa nafsu sebagaimana yang telah dilakukan oleh kaum musyrikin. Biasanya orang-orang Arab amat patuh kepada ketetapan ini sehingga apabila seseorang terbunuh saudaranya atau bapaknya lalu ia bertemu dengan pembunuhnya pada salah satu bulan haram ini dia tidak akan berani menuntut balas, karena menghormati bulan haram itu.
Padahal orang Arab sangat terkenal semangatnya untuk menuntut bela dan membalas dendam. Itulah ketetapan yang harus dipenuhi karena pelanggaran terhadap ketentuan ini sama saja dengan menganiaya diri sendiri karena Allah telah memuliakan dan menjadikannya bulan-bulan yang harus dihormati. Kecuali kalau kita dikhianati atau diserang pada bulan haram itu maka dalam hal ini wajib mempertahankan diri dan membalas kejahatan dengan kejahatan pula sebagaimana tersebut dalam firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang Artimya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram, katakanlah: “Berperang pada bulan itu adalah dosa besar tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan membuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh.” Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran)”. (QS. Al-Baqarah: 217)
Pada ayat ini Allah memerintahkan kepada kaum Muslimin supaya memerangi kaum musyrikin karena mereka memerangi kaum Muslimin. Mereka memerangi kaum Muslimin bukan karena balas dendam, atau fanatik kesukuan atau merampas harta benda sebagaimana biasa mereka lakukan di masa yang lalu terhadap kabilah lain, tetapi maksud utama adalah menghancurkan agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad dan memadamkan cahayanya. Maka wajiblah bagi setiap muslim bangun serentak memerangi mereka sampai agama Islam itu tegak dan agama mereka hancur binasa. Hendaklah ditanamkan ke dalam dada setiap muslim semangat jihad yang berkobar-kobar serta tekad dan keyakinan bahwa mereka pasti menang karena Allah selamanya menolong orang-orang yang bertakwa kepada-Nya.
Definisi Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang dihormati)

Ibnu Jarir Ath-Thabari –rahimahullah- meriwayatkan melalui sanadnya, dari Ibnu Abbas –radhiyallahu anhu- sehubungan dengan pengagungan Allah terhadap kesucian bulan-bulan ini, beliau berkata, “Allah Ta’ala telah menjadikan bulan-bulan ini sebagai (bulan-bulan yang) suci, mengagungkan kehormatannya dan menjadikan dosa yang dilakukan pada bulan-bulan ini menjadi lebih besar dan menjadikan amal shalih serta pahala pada bulan ini juga lebih besar.”

Orang-orang Arab pada masa Jahiliyah mengharamkan (mensucikan) bulan ini, mengagungkannya serta mengharamkan peperangan pada bulan-bulan ini. Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- mengatakan, “Bulan-bulan yang diharamkan (disucikan) itu hanya ada empat. Tiga bulan secara berurutan dan satu bulannya berdiri sendiri (tidak berurutan) lantaran adanya manasik Haji dan Umrah. Maka, ada satu bulan yang telah diharamkan (disucikan) yang letaknya sebelum bulan-bulan Haji, yaitu bulan Dzulqa’dah, karena ketika itu mereka menahan diri dari perang. Sedangkan bulan Dzulhijah diharamkan (disucikan) karena pada bulan ini mereka pergi menunaikan ibadah Haji, dan pada bulan ini mereka menyibukkan diri dengan berbagai ritual manasik Haji. sebulan setelahnya, yaitu bulan Muharram juga disucikan karena pada bulan ini mereka kembali dari Haji ke negeri asal mereka dengan aman dan damai. Adapun bulan Rajab yang terletak di tengah-tengah tahun diharamkan (disucikan) karena orang yang berada di pelosok Jazirah Arabia berziarah ke Baitul Haram. Mereka datang berkunjung ke Baitul Haram dan kembali ke negeri mereka dengan keadaan aman.”

Beberapa Keberkahan Dan Keutamaan Bulan-Bulan Haram

Telah dijelaskan di muka mengenai kemuliaan bulan-bulan haram ini atas bulan-bulan lainnya, serta agungnya kesucian bulan-bulan haram ini. Maka sekarang, penulis akan memaparkan beberapa keutamaan dan keberkahan yang terkandung dalam setiap bulan haram (yang disucikan) ini.

1. Bulan Dzulqa’dah
Dia merupakan salah satu bulan Haji (asyhurul hajji) yang dijelaskan oleh Allah dalam friman-Nya:
“(Musim) Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi…” (QS.Al-Baqarah:197)
Asyhurun ma’luumaat (bulan-bulan yang dikenal) merupakan bulan yang tidak sah ihram Haji kecuali pada bulan-bulan ini (asyhurun ma’luumaat) menurut pendapat yang shahih. (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Dan yang dimaksud dengan bulan-bulan Haji (asyhurul hajji) adalah bulan Syawal, Dzulqa’dah dan sepuluh hari dari bulan Dzulhijjah. Diantara keistimewaan bulan ini, bahwa empat kali ‘Umrah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam terjadi pada bulan ini, hal ini tidak termasuk ‘Umrah beliau yang dibarengi dengan Haji, walaupun ketika itu beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berihram pada bulan Dzulqa’dah dan mengerjakan ‘Umrah tersebut di bulan Dzulhijjah bersamaan dengan Hajinya. (Lathaa if al Ma’aarif, karya Ibnu Rajab; Zaadul Ma’aad).

Ibnul Qayyim menjelaskan pula bahwa ‘Umrah di bulan-bulan Haji setara dengan pelaksanaan Haji di bulan-bulan Haji. Bulan-bulan haji dikhususkan oleh Allah dengan ibadah Haji, dan Allah menjadikan bulan-bulan ini sebagai waktu pelaksanaannya. Sementara ‘Umran merupakan Haji kecil, maka waktu yang paling utama untuk ‘Umrah adalah pada bulan-bulan Haji. Sedangkan Dzulqa’dah berada di tengah-tengah bulan Haji tersebut.

2. Bulan Dzulhijjah
Diantara beberapa keutamaan dan keberkahan bulan ini, bahwa seluruh manasik Haji dilakukan pada bulan ini. Kesemuanya itu merupakan syi’ar-syi’ar yang besar dari berbagai syi’ar Islam. Terdapat di dalamnya, sepuluh hari pertama yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan, lalu tiga hari berikutnya merupakan hari-hari tasyriq yang agung. (sebagaimana yg dijelaskan pada artikel khusus tentang bulan Dzulhijjah, keutaman sepuluh hari pertama Dzulhijjah).

3. Bulan Muharram
Di antara keutamaan dan keberkahan bulan ini, sebagaimana yang tercantum dalam Shahih Muslim dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah (puasa yang jatuh pada) bulan Allah, (yaitu) Muharram…” (HR. Muslim)
Ibnu Rajab –rahimahullah- mengatakan, “Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam menamakan Muharram dengan bulan Allah (syahrullaah). Penisbatan nama bulan ini dengan lafazh ‘Allah’ menunjukkan kemuliaan dan keutamaan bulan ini, karena sesungguhnya Allah tidak menyandarkan (menisbatkan) lafazh tersebut kepada-Nya kecuali karena keistimewaan dan kekhususan yang dimiliki oleh makhluk-nya tersebut dan seterusnya. ”

Sebagian ulama memberikan alasan yang mengaitkan tentang keutamaan puasa pada bulan ini. Maksudnya, bahwa sebaik-baik bulan untuk melakukan puasa sunnah secara penuh setelah bulan Ramadhan, adalah Muharram. Karena berpuasa sunnat pada sebagian hari, seperti hari ‘Arafah atau enam hari di bulan Syawal lebih utama (afdhal) daripada berpuasa pada sebagian hari-hari bulan Muharram.
Diantara keberkahan bulan Muharram berikutnya, jatuh pada hari kesepuluh, yaitu hari ‘Asyura. Hari ‘Asyura ini merupakan hari yang mulia dan penuh berkah. Hari ‘Asyura ini memiliki kesucian dan kemuliaan sejak dahulu. Dimana pada hari ‘Asyura ini Allah Ta’ala menyelamatkan seorang hamba sekaligus Nabi-Nya, Musa ‘Alaihis Salam dan kaumnya serta menenggelamkan musuhnya, Fir’aun dan bala tentaranya. Sesungguhnya Nabi Musa ‘Alaihis Salam berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukurnya kepada Allah. Sedangkan orang-orang Quraisy di zaman Jahilliyah juga berpuasa pada hari ini, begitu juga Yahudi. Mereka dulu berpuasa pada hari ‘Asyura. Berdasarkan pendapat kebanyakan ulama, puasa ini pada mulanya wajib bagi kaum muslimin sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, kemudian (berubah) menjadi sunnah. Sebagaimana yang tedapat dalam Ash-Shahihain dari ‘Aisyah –radhiallahu- anha, ia berkata:

“Dahulu orang-orang Quraisy berpuasa ‘Asyura pada zaman Jahilliyah. Dan Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam sendiri juga berpuasa ‘Asyura. Ketika beliau hijrah ke Madinah, beliau terus melaksanakan puasa ‘Asyura, dan memerintahkan orang-orang untuk berpuasa. Lalu ketika diwajibkan berpuasa pada bulan Ramadhan, beliau bersabda: ‘Barangsiapa yang mau berpuasa ‘Asyura, berpuasalah dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya, tinggalkanlah’.” (HR. Bukhari dan Muslim)

4. Bulan Rajab
Diriwayatkan bahwa apabila Rasulullah SAW memasuki bulan Rajab beliau berdo’a:
“Ya, Allah berkahilah kami di bulan Rajab (ini) dan (juga) Sya’ban, dan sampaikanlah kami kepada bulan Ramadhan.” (HR. Imam Ahmad, dari Anas bin Malik)
Setelah menelaah hadist ini, Ibnu Taimiyyah –rahimahullah- menyatakan,“Tidak pernah diriwayatkan dari Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam tentang fadhilah bulan Rajab di hadits-hadits yang lain. Bahkan kebanyakan hadits yang tersebar tentang keutamaan bulan Rajab ini yang disandarkan kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam adalah dusta…”(Iqtidhaa-ush Shiraatil Mustaqiim).

Ahlul bid’ah telah memalsukan banyak hadits tentang keutamaan bulan yang disucikan ini, dan juga tentang kekhususan sebagian ibadah yang dilakukan pada bulan ini, seperti shalat dan puasa. Dan diantara orang yang mengingatkan hal ini adalah Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani –rahimahullah- dalam risalahnya, Tabyiinul ‘Ajab bi Maa Warada fii Fadhli Rajab. Dalam risalah ini beliau menjelaskan, “Tidak muncul satupun hadits shahih tentang keutamaan bulan Rajab, tidak pula tentang puasanya, tidak tentang puasa tertentu, dan tidak juga tentang mendirikan shalat malam tertentu di bulan ini yang dikuatkan oleh sebuah hadits yang layak untuk dijadikan sebagai hujjah.” Kemudian beliau menyebutkan hadits-hadits yang meriwayatkan hal ini dan menjelaskan hukum-hukum dari hadits tersebut.
Ibnu Rajab –rahimahullah- menyatakan: “Tidak benar bahwa di dalam bulan Rajab terdapat shalat tertentu yang khusus untuk bulan ini saja.” Lalu dia mengatakan, “Tidak benar dalam keutamaan puasa bulan Rajab secara khusus terdapat satu riwayat dari Nabi Shalallahu ‘Alahi Wassalam dan para Sahabatnya.” Karena itu kebanyakan ulama Salaf membenci pengkhususan bulan Rajab dengan puasa.

Abu Bakar Ath-Thurthusi telah merinci masalah ini dengan mengatakan: “Shaumnya seseorang (yang dikhususkan) pada bulan ini dimakruhkan dari tiga segi, di antaranya bahwa pengkhususan kaum muslimin dengan puasa setiap tahunnya (pada bulan ini) akan menyebabkan orang-orang awam mengira bahwa hal itu adalah fardhu seperti halnya Ramadhan, atau mereka akan mengira bahwa hal itu adalah sunnah yang tetap. dikhususkan oleh Rasul Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dengan shaum rutin, atau shaum yang didalamnya dikhususkan dengan keutamaan pahala atas seluruh bulan…” Kemudian beliau mengatakan, “Jika ditinjau dari bab keutamaan-keutamaan Sunnah Nabi atau dari praktiknya, tidak wajib dan tidak pula sunnah menurut kesepakatan dan tidak ada lagi anjuran melakukan puasa melainkan puasa yang sudah ditentukan.”
Adapun Umrah di bulan Rajab telah disebutkan oleh Ibnu Rajab bahwa umrah dibulan Rajab itu adalah hukumnya sunnah menurut pendapat mayoritas generasi Salaf. Diantaranya Umar bin Khaththab –radhiallahu anhu- dan Aisyah –radhiallahu anha-. Wallahu A'lamu bish Shawab


WAHAI ANAKKU…JANGAN SEKALI-KALI ENGKAU MENYEKUTUKAN ALLAH!
Oleh: Tengku Azhar

            Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
          وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيم
            "Dan ingatlah ketika Luqman Al-Hakim berkata kepada anaknya ketika dia memberi pelajaran kepadanya, "Wahai anakku, janganlah engkau menyekutukan Allah, karena sesungguhnya menyekutukan Allah benar-benar kezhaliman yang sangat besar." (QS. Luqman: 13)
            Jangan Syirik, Nasehat Terbesar
            Nasihat Luqman Al-Hakim kepada anaknya merupakan nasihat terbesar, yang sepatutnya setiap muslim meniru dan meneladaninya.
            Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- menjelaskan bahwa dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta'ala mengabarkan kepada kita tentang wasiat Luqman Al-Hakim kepada anaknya, yang merupakan orang yang paling dicintai dan disayangi oleh Luqman.
            Luqman Al-Hakim adalah Luqman bin 'Anqa` bin Sadun. Adapun nama anaknya menurut As-Suhaily bernama Tsaaraan. Nasihat Luqman merupakan nasihat terbesar, yaitu nasihat kepada anaknya untuk tidak melakukan perbuatan syirik kepada Allah.
            Imam Al-Bukhari meriwayatkan sebuah hadits bahwa ketika turun ayat yang berbunyi:
          الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ
            "Orang-orang yang beriman dan tidak mempercampuradukkan iman mereka dengan kazhaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat rasa aman dan mereka mendapat petunjuk." (QS. Al-An'am: 82)
            Maka para shahabat merasa sangat berat seraya berkata, "Siapakaha di antara kami yang tidak pernah mempercampuradukkan keimanannya dengan kezhaliman?" Mendengar hal itu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Bukan kezhaliman itu yang dimaksud, tidakkah kalian telah mendengar perkataannya Luqman kepada anaknya, 'Sesungguhnya syirik adalah kezhaliman yang besar'."
            Kemudian Allah Subhanahu wa Ta'ala melanjutkan firman-Nya:
          وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ * وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
            "Dan kami perintahkan kepada manusia (agar mereka berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kamu kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan." (QS. Luqman: 14-15)
            Ayat ini memberikan peringatan kepada kita bahwa adakalanya orang tua memaksa dan memerintahkan kepada kita untuk menyekutukan Allah dengan sesuatu, tidak sebagaimana yang dilakukan oleh Luqman Al-Hakim yang justru melarang hal itu kepada anaknya. Maka Allah memerintahkan kepada kita untuk tidak menaati perintah orang tua tersebut. Karena perintah tersebut adalah perintah batil yang bertentangan dengan perintah Allah.
            Sedangkan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda:
            لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةٍ ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ
            "Tidak ada ketaatan (kepada makhluk) dalam kemaksiatan, hanyasaja ketaatan itu dalam perkara yang makruf." (HR. Al-Bukhari)
            Menghindarkan Kesyirikan dari Anak Sejak Dini
            Kewajiban setiap orang tua untuk menjauhkan dan menghindarkan anaknya dari kesyirikan dari sejak dini. Hal ini sangat penting, di karenakan berapa banyak orang tua yang sangat akrab memperkenalkan anak-anak mereka dengan budaya syirik sejak mereka lahir, bahkan terkadang sejak mereka berada dalam kandungan, wal'iyadzubillah.
            Untuk itu hendaknya setiap orang tua menjauhi berbagai budaya syirik dalam menyambut kedatangan seorang anak, karena hal itu tidak hanya menyengsarakan si anak tapi juga menyengsarakan diri kita.
            Selain daripada itu hendaknya orang tua mewaspadai berbagai media baik cetak maupun massa yang menampilkan acara-acara dan sajian yang mengandung kemusyrikan. Karena berapa banyak anak-anak muslim yang sangat akrab dengan dunia kesyirikan setelah mereka mengenalnya dari media.
            Salah satu sajian kemusyrikan yang amat digandrungi oleh kaula muda adalah Ramalan Zodiak. Itu bisa kita lihat dalam bioghrafi-bioghrafi mereka yang senantiasa mencamtumkan zodiak mereka. Padahal, percaya dengan ramalan zodiak adalah syirik akbar yang bisa mengeluarkan seseorang dari agamanya. Termasuk juga acara-acara TV yang masih banyak acara yang sarat dengan ritual perdukunan, sihir dan ramalan-ramalan. Untuk itu hendaknya orang menjauhkan acara-acara keji tersebut dari tontonan anak-anak kita. Karena bisa jadi hari ini adalah tontonan suatu saat ia berubah menjadi tuntunan.
            Proses pernikahan kita harus selamat dari kemusyrikan
            Sebagai orang tua yang baik harus memiliki komitmen yang kuat agar proses pernikahan anak-anak kita kelak selamat dari perkara-perkara syirik dan kufur. Tidak seyogyanya ibadah nikah yang agung dan mulia tersebut tercampuri dengan perkara-perkara yang akan menjauhkannya dari ridha dan berkah-Nya Allah Subhanahu wa Ta'ala.
            Bila tidak kita antisipasi sejak dini, itu akan menjadi malapetaka bagi kita di saat pernikahan anak-anak kita kelak. Apalagi masih banyak orang tua dan keluarga besar mereka yang masih awam yang meletakkan adat-istiadat di atas segala-galanya. Menurut mereka, melanggar adat akan menyebabkan datangnya hukum karma, dari meninggal dunia, perceraian, tertimpa perlbagai penyakit dan musibah serta lainnya.
            Karenanya, orang tua harus mengetahui bahwa pernikahan adalah sejarah hidup yang akan dikenang dan disaksikan oleh banyak orang. Untuk itu kita berusaha semampu kita untuk menjadikan proses pernikahan anak-anak kita, dari pra hingga pasca pernikahan betul-betul sesuai dengan syariat Allah dan Rasul-Nya. Untuk itu perlu kami sebutkan pada makalah ini beberapa perkara syirik yang kerap dilakukan oleh umat Islam menjelang pernikahannya:
1.      Menentukan calon pasangan dengan meminta nasihat dan pertimbangan dukun dan peramal.
2.      Menentukan hari dan tanggal pernikahan menurut permintaan dukun dan peramal.
3.      Kedua calon mempelai harus menjalani pelbagai ritual adat demi kelancaran dan keharmonisan rumah tangga, dari mandi kembang, pijak telur, melangkahi pasangan sapi, dan lainnya.
4.      Menggunakan pawang hujan agar hujan tidak turun selama pesta pernikahan berlangsung.
5.      Memberikan sesajikan diperempatan jalan, agar mempelai pria tidak diganggu oleh para penguasa dan penunggu jalan.
Semua itu, dan bentuk-bentuk ritual lainnya yang mengandung kemusyrikan akan menjadikan pernikahan dan rumah tangga kita jauh dari keberkahan Allah Subhanahu wa Ta'ala kecuali mereka yang bertaubat kepada Allah. Namun bukan berarti kita boleh melakukan ritual kesyirikan, karena kita berkeyakinan bisa bertaubat kepada Allah. Bagaimana jika sebelum kita bertaubat Allah telah mencabut nyawa kita? Wal'iyadzubillah.
Tauhid Tiada, Barokah Rumah Tangga Sirna
Disunnahkan bagi para tamu undangan untuk mendoakan kedua mempelai dengan doa,
"Semoga Allah memberkahi pernikahanmu baik dalam suasana suka maupun duka, dan semoga Allah mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan."
Keberkahan itulah yang kita harapkan. Jadi keluarga samara adalah keluarga yang dibarokahi oleh Allah, dan itu tidak akan terwujud kecuali jika kita merealisasikan tauhid dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita.
Jadilah para suami dan istri yang senantiasa bertaqwa kepada Allah. Hindari perkara-perkara syirik yang akan menenggelamkan bahtera rumah tangga kita pada kehancuran dan kesengsaraan. Cubalah kita lihat di sekeliling kita, berapa banyak rumah tangga yang dirudung masalah, dan mereka menjadikan paranormal sebagai penasihat pribadi mereka, dan akhirnya setan tidak menambahkan kepada mereka melainkan kesesatan. Mahabenar Allah yang telah berfirman:
وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا
 "Dan sesungguhnya ada beberapa orang laki-laki dari kalangan manusia yang meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki dari jin, tetapi mereka (para jin) menjadikan mereka (para manusia) bertambah sesat." (QS. Al-Jinn: 6)
Wallahu A'lamu bish Shawab

PERSIAPKAN BEKAL UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT!

Posted by newydsui Tuesday, January 10, 2012 0 comments

PERSIAPKAN BEKAL UNTUK KEHIDUPAN AKHIRAT!
Tafsir QS. Al-Hasyr: 18
Oleh: Tengku Azhar, Lc.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Tafsir Ayat

Al-Mufassir Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.”

Jangan sampai kalian menyesal, ketika kematian menjemput kalian sama sekali tidak memiliki bekal, dan kemudian kalian meminta penangguhan kepada Allah. Padahal itu mustahil akan terjadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ . وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ . وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)

Imam Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi dalam Kitab Tafsirnya ‘Ruhul Ma’ani’ berkata, “Setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan di akhirat kelak. Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akhirat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya.”

Hidup di dunia kita mesti memiliki bekal sekalipun jumlahnya sedikit. Terlebih lagi kelak di akhirat. Kehidupan akhirat tidaklah sama dengan dunia. Di dunia kita masih bisa mendapatkan pertolongan dan bantuan dari orang lain jika kita kekurangan bekal dan penghidupan. Namun kelak di akhirat tidak akan ada orang yang bisa menolong kita sedikitpun, sekalipun itu orang terdekat kita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ . يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيه
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. Abasa: 33-37)

Pada ayat di atas (QS. Al-Hasyr ayat 18), Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin agar tidak nekat mati. Karena kematian bukanlah akhir dari segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Mati adalah pindah dari kehidupan duniawi menuju kehidupan ukhrawi.

Kematian merupakan kelanjutan kehidupan dunia ini. Di akhirat, manusia kelak akan menerima dan mendapatkan ganjaran yang sesuai dan setimpal atas apa yang telah mereka perbuat di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zilzalah: 7-8)
Dan firman Allah:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi: 49)

Si Cerdas Yang Berbekal

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ

“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menahan hawa nafsunya dan beramal (berbekal) untuk kehidupan setelah mati. Orang yang bodoh adalah mereka yang mengumbar hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah (diampuni dosa-dosanya).” (HR. At-Tirmidzi)
Inilah orang yang cerdas. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan kemudian beramal untuk bekal di kehipan akhirat kelak. Adapun si Bodoh, mereka yang memperturutkan hawa nafsu mereka, dan kemudian mereka berangan-angan pasti akan di ampuni oleh Allah dan pasti masuk jannah. Tepatnya orang-orang bodoh akan berangan-angan: Kecil di manja, Muda kaya raya, Tua poya-poya, dan Mati masuk surga.

Untuk itu pulalah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari meremehkan kebaikan sekecil apapun ia. Karena kebaikan sekecil apapun kelak akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syaikh Khalid Abu Shalih dalam bukunya Az-Zair Al-Akhir, telah menghimpunkan untuk kita beberapa amalan yang terbaik untuk kita jadikan sebagai bekal kelak di akhirat.
Beliau –hafizhahullah- berkata:

Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:

1. Keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.
2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama’ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu’an dan memahami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.
3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari’atkan.
4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)
7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta’atan.
8. Berbuat ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan riya’ dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)
9. Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Baca: QS. Ali ‘Imran: 31)
10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum mukminin sekali pun mereka jauh, dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.
11. Takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.
12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.
13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca: QS. Al-Ma’idah: 23)
14. Menuntut ilmu yang bermanfa’at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187)
15. Mengagungkan Al-Qur`an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang.” (Muttafaqun ‘alaih)
17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih)
18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)
19. Tidak melakukan zina, minum khamr, membunuh jiwa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33)
20. Wara’ (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)
21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun ‘alaih)
22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.
23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.
24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26)
25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehormatan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.
26. Beramar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara hikmah dan Mau’izhah Hasanah.
27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An’am: 152)
28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu’ (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.
29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)
30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)
31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.
32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan.
33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.
34. Mencintai shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau mencela mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.” (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)
35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas.
36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya.
37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena’ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)
38. Tidak berbuat bid’ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.
39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.
40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka.
Wallahu A’lamu bish Shawab

DZIKIR DAN SYUKUR

Posted by newydsui Thursday, December 1, 2011 0 comments

DZIKIR DAN SYUKUR
Oleh: Tengku Azhar, Lc

Tafsir QS. Al-Baqarah: 152

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”

TAFSIR AYAT
Para mufassirin mengatakan bahwa ayat ini berkaitan erat dengan ayat sebelumnya, yaitu masalah nikmat Allah berupa diutusnya para Rasul kepada manusia (terkhusus kaum muslimin), yang bertugas membacakan ayat-ayat-Nya, mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan apa yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Karena itulah maka Allah menyerukan kepada orang-orang mukmin agar mengakui nikmat ini dan membalasnya dengan banyak berzikir menyebut asma-Nya dan bersyukur kepada-Nya, seperti yang disebutkan oleh firman-Nya:
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
Yakni sebagaimana Aku telah melimpahkan nikmat kepada kalian, maka ingatlah kalian kepada-Ku.
Abdullah ibnu Wahb meriwayatkan dari Hisyam ibnu Sa’id, dari Zaid ibnu Aslam, bahwa Nabi Musa pernah berkata, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku bersyukur kepada-Mu?” Tuhan berfirman kepadanya, “Ingatlah Aku dan jangan kamu lupakan Aku. Maka apabila kamu ingat kepada-Ku, berarti kamu telah bersyukur kepada-Ku. Apabila kamu lupa kepada-Ku, berarti kamu ingkar kepada-Ku.”

Al-Hasan Al-Basri, Abui Aliyah, As-Saddi, dan Ar-Rabi’ ibnu Anas mengatakan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala selalu mengingat orang yang ingat kepada-Nya, memberikan tambahan nikmat kepada orang yang bersyukur kepada-Nya, dan mengadzab orang yang ingkar terhadap- Nya. Salah seorang ulama Salaf mengatakan sehubungan dengan tafsir firman-Nya:
Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 102)
Bahwa makna yang dimaksud ialah hendaknya kita taat kepada-Nya dan tidak durhaka terhadap-Nya, selalu ingat kepada-Nya dan tidak melupakan-Nya, selalu bersyukur kepada-Nya dan tidak ingkar terhadap-Nya.

Ibnu Abu Hatim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Al-Hasan ibnu Muhammad ibnus Sabbah, telah menceritakan kepada kami Yazid ibnu Harun, telah menceritakan kepada kami Imarah As- Saidalani, telah menceritakan kepada kami Mak-hul Al-Azdi yang mengatakan atsar berikut, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Umar, “Bagaimanakah menurutmu tentang orang yang membunuh jiwa, peminum khamr, pencuri, dan pezina yang selalu ingat kepada Allah, sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman:
“Karena itu, ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kalian.”
Ibnu Umar menjawab, “Apabila Allah mengingat orang ini, maka Dia mengingatnya melalui laknat-Nya hingga dia diam (dari maksiatnya).”
Hasan Al-Bashri –rahimahullah- dalam menafsirkan ayat ini berkata,
Makna yang dimaksud ialah: “Ingatlah kalian kepada-Ku dalam semua apa yang telah Ku-fardhukan atas kalian, maka niscaya Aku akan mengingat kalian dalam semua apa yang Aku wajibkan bagi kalian atas diri-Ku.”

Sa’id bin Jubair –rahimahullah- berkata,

Ingatlah kalian kepada-Ku dengan taat kepada-Ku, niscaya Aku selalu ingat kepada kalian dengan maghfirah (ampunan)-Ku.” Menurut riwayat yang lain disebutkan “dengan rahmat-Ku.”
Disebutkan bahwa makna yang dimaksud dalam ayat ini ialah ‘ingat Allah kepada kalian jauh lebih banyak daripada ingat kalian kepada-Nya’. Di dalam sebuah hadis sahih disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى وَمَنْ ذَكَرَنِى فِى مَلإٍ مِنَ النَّاسِ ذَكَرْتُهُ فِى مَلإٍ أَكْثَرَ مِنْهُمْ وَأَطْيَبَ
“Barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam dirinya, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam diri-Ku; dan barang siapa yang ingat kepada-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat (pula) kepadanya di dalam golongan yang lebih baik daripada golongannya.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا ابْنَ آدَمَ ، إِنْ ذَكَرْتَنِي فِي نَفْسِكَ ذَكَرْتُكَ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرْتَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُكَ فِي مَلَإٍ مِنَ الْمَلاَئِكَةِ ، أَوْ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي شِبْرًا ، دَنَوْتُ مِنْكَ ذِرَاعًا ، وَإِنْ دَنَوْتَ مِنِّي ذِرَاعًا ، دَنَوْتُ مِنْكَ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَيْتَنِي تَمْشِي ، أَتَيْتُكَ أُهَرْوِلُ
“Hai anak Adam, jika kamu ingat kepada-Ku di dalam dirimu, niscaya Aku ingat pula kepadamu di dalam diri-Ku. Dan jika kamu mengingat-Ku di dalam suatu golongan, niscaya Aku ingat pula kepadamu di dalam golongan dari kalangan para malaikat -atau beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Di dalam golongan yang lebih baik dari golonganmu’-. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu jengkal, niscaya Aku mendekat kepadamu satu hasta. Dan jika kamu mendekat kepada-Ku satu hasta, niscaya Aku mendekat kepadamu satu depa. Dan jika kamu datang kepada-Ku jalan kaki, niscaya Aku datang kepadamu dengan berlari kecil.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya, no. 12432)
Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang-orang mukmin untuk bersyukur dan menjanjikan pahala bersyukur berupa tambahan kebaikan dari-Nya. Seperti disebutkan dalam ayat yang lain:
وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Dan (ingatlah) tatkala Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian; dan jika kalian mengingkari (nikmat)-Ku, maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih’.”

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari Al-Fudail ibnu Fudalah (seorang lelaki dari kalangan Bani Qais), telah menceritakan kepada kami Abu Raja Al-Ataridi yang mengatakan bahwa Imran Ibnu Husain keluar menemui kami memakai jubah kain sutra campuran yang belum pernah kami lihat dia memakainya, baik sebelum itu ataupun sesudahnya. Lalu ia mengatakan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda:
[ مَنْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ نِعْمَةً فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ ] .
“Barang siapa dianugerahi suatu nikmat oleh Allah, maka sesungguhnya Allah menyukai bila melihat penampilan dari nikmat yang telah Dia berikan kepada makhluk-Nya.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya, no. 20469)

ULASAN ULAMA TENTANG URGENSI DZIKIR DAN SYUKUR
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah –rahimahullah- berkata:
Syukur termasuk tempat persinggahan yang paling tinggi dan lebih tinggi daripada ridha. Ridha merupakan satu tahapan dalam syukur. Sebab mustahil ada syukur tanpa ada ridha. Syukur adalah separuh iman, dan separuhnya lagi adalah sabar.

Allah menamakan Diri-Nya Asy-Syakir dan Asy-Syakur, dan juga menamakan orang-orang yang bersyukur dengan dua nama ini. Dengan begitu Allah mensifati mereka dengan sifat-Nya dan memberikan nama kepada mereka dengan nama-Nya. Yang demikian ini sudah cukup untuk menggambarkan kecintaan dan karunia Allah yang diberikan kepada orang-orang yang bersyukur. Pengabaran tentang sedikitnya orangorang yang bersyukur di dunia ini, berarti menunjukkan kekhususan mereka, seperti firman-Nya,
“Dan sedikit sekali di antara hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” (QS. Saba’: 13).
Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, bahwa ketika kedua telapak kaki beliau bengkak karena terlalu lama berdiri mendirikan shalat malam, lalu ada orang yang bertanya kepada beliau, “Mengapa engkau melakukan yang demikian itu, padahal Allah telah mengampuni dosa engkau yang telah lampau dan yang akan datang?” Maka beliau menjawab, “Tidak bolehkah aku menjadi seorang hamba yang banyak bersyukur?”
Syukur dilandaskan kepada lima sendi:
1. Orang yang bersyukur tunduk kepada yang disyukuri,
2. mencintai-Nya,
3. mengakui nikmat-Nya,
4. memuji-Nya karena nikmat itu,
5. dan tidak menggunakan nikmat itu untuk sesuatu yang dibenci-Nya.
Inilah lima sendi dan dasar syukur. Jika ada salah satu di antaranya yang hilang, maka sendi syukur itu pun menjadi lowong, yang membuat syukur tidak sempurna. Siapa pun yang berbicara tentang syukur dan batasan-batasannya, tentu akan kembali ke lima sendi ini dan pembicaraannya berkisar padanya.
Banyak orang yang membicarakan perbedaan antara pujian dan syukur, mana yang lebih tinggi dan lebih utama di antara keduanya? Di dalam hadits disebutkan, “Pujian adalah pangkal syukur. Siapa yang tidak memuji Allah, maka dia tidak bersyukur kepada Allah.”
Perbedaan di antara keduanya, bahwa syukur lebih umum jika ditilik dari jenis-jenis dan sebab-sebabnya, namun lebih khusus jika ditilik dari kaitan-kaitannya. Sedangkan pujian lebih umum jika ditilik dari kaitan-kaitannya, namun lebih khusus jika ditilik dari sebab-sebabnya. Artinya, syukur itu bisa dengan hati yang menunjukkan ketundukan, dengan lisan yang menunjukkan pengakuan, dengan anggota tubuh yang menunjukkan ketaatan. Sedangkan kaitannya adalah nikmat, tanpa sifat-sifat Dzat Allah. Maka tidak bisa dikatakan, “Kami bersyukur kepada Allah atas hidup, pendengaran, penglihatan dan ilmuNya.” Allah adalah yang dipuji dengan sifat-sifat ini, sebagaimana Dia dipuji karena kebaikan dan keadilan-Nya. Syukur dilakukan karena kebaikan dan nikmat.

Pengarang Manazilus Sa’irin berkata, “Syukur merupakan istilah untuk mengetahui nikmat, karena mengetahui nikmat ini merupakan jalan untuk mengetahui Dzat Pemberi nikmat. Karena itu Allah menamakan Islam dan iman di dalam Al-Qur`an dengan syukur.”
Mengetahui nikmat merupakan salah satu dari beberapa rukun syukur, bukan karena ia bagian dari syukur seperti yang disebutkan di atas, bahwa syukur itu merupakan pengakuan terhadap nikmat, pujian kepada Allah karena nikmat itu dan mengamalkan nikmat seperti yang diridhai-Nya, tapi karena mengetahui nikmat ini merupakan rukun syukur yang paling besar, sehingga syukur mustahil ada tanpa mengetahui nikmat. Nikmat merupakan jalan untuk mengetahui Pemberi nikmat, artinya dengan mengetahui nikmat itu akan membuat seorang hamba bisa Dzat Pemberi nikmat. Jika dia mengetahui Pemberi nikmat, tentu akan mencintai-Nya dan bersungguh-sungguh dalam mengharapkan-Nya. Sebab siapa yang mengetahui Allah, tentu akan mencintai-Nya, dan siapa yang mengetahui dunia, maka Allah akan membuatnya membenci dunia.

Reference:
1. Tafsir Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari.
2. Tafsir Qur`anil Azhim, Imam Ibnu Katsir.
3. Madarijussalikin, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.

TAQWA DAN TAWAKKAL DUA KUNCI REZEKI YANG UTAMA
Tafsir QS. Ath-Thalaq: 2-3
Oleh: Abu Hilya Al-Muhairy

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
“…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”

TAFSIR AYAT
Shahabat Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- berkata, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar, yakni Allah akan memberinya jalan keluar dari segala kesukaran dan kesulitan. Serta memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
Imam Masruq –rahimahullah- mengatakan, yang dimaksud dengan ‘makhraja’ dalam ayat ini adalah bahwa orang-orang yang bertaqwa benar-benar mengetahui bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah yang memberi dan menahan rezeki seorang hamba.
Dalam ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa orang yang merealisasikan taqwa akan dibalas Allah dengan dua hal. Pertama, “Allah akan mengadakan jalan keluar baginya.” Artinya, Allah akan menyelamatkannya –sebagaimana dikatakan Ibnu Abbas –radhiallahu ‘anhu- (di atas) dari setiap kesusahan dunia maupun akhirat. Kedua, “Allah akan memberinya rizki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Artinya, Allah akan memberinya rizki yang tidak pernah ia harapkan dan angankan.

Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengatakan: “Maknanya, barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah dengan melakukan apa yang diperintahkan-Nya dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya, niscaya Allah akan memberinya jalan keluar serta rizki dari arah yang tidak disangka-sangka, yakni dari arah yang tidak pernah terlintas dalam benaknya.
Alangkah agung dan besar buah taqwa itu! Abdullah bin Masud –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Sesungguhnya ayat terbesar dalam hal pemberian janji jalan keluar adalah: “Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya.”
Dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka di-sebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al-A’raf: 96)

Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan, seandainya penduduk negeri-negeri merealisasikan dua hal, yakni iman dan taqwa, niscaya Allah akan melapangkan kebaikan (kekayaan) untuk mereka dan memudahkan mereka menda-patkannya dari segala arah.
Janji Allah yang terdapat dalam ayat yang mulia tersebut terhadap orang-orang beriman dan bertaqwa mengandung beberapa hal, di antaranya:

a) Janji Allah untuk membuka “(keberkahan) bagi mereka.” Imam Al-Baghawi berkata, “Ia berarti mengerjakan sesuatu secara terus menerus”. Atau seperti kata Imam Al-Khazin, “Tetapnya suatu kebaikan Allah atas sesuatu.”
Jadi, yang dapat disimpulkan dari makna kalimat “Barakaat” adalah bahwa apa yang diberikan Allah disebabkan oleh keimanan dan ketaqwaan mereka merupakan kebaikan yang terus menerus, tidak ada keburukan atau konsekuensi apa pun atas mereka sesudahnya.
Tentang hal ini, Sayid Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Adapun orang-orang beriman maka apa yang dibukakan untuk mereka adalah berupa berkah dan kenikmatan. Dan untuk hal itu, mereka senantiasa bersyukur kepada Allah, ridha terhadap-Nya dan mengharapkan karunia-Nya. Lalu mereka menggunakannya di jalan kebaikan, bukan jalan keburukan, untuk perbaikan bukan untuk merusak. Sehingga balasan bagi mereka dari Allah adalah ditambahnya berbagai kenikmatan di dunia dan pahala yang baik di akhirat.”

Syaikh Ibnu ‘Asyur mengungkapkan hal itu dengan ucapannya: “Barakaat” adalah kebaikan yang murni yang tidak ada konsekuensinya di akhirat. Dan ini adalah sebaik-baik jenis nikmat.”
b. Kata berkah disebutkan dalam bentuk jama' sebagaimana firman Allah:
“Pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berbagai berkah.” Ayat ini, sebagaimana disebutkan Syaikh Ibnu ‘Asyur untuk menunjukan banyaknya berkah sesuai dengan banyaknya sesuatu yang diberkahi.

Selain Taqwa kepada Allah, Tawakkal kepada-Nya merupakan Kunci Rezeki utama berikutnya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
Kemudian apa yang dimaksud dengan tawakkal itu?
Para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan– telah menjelaskan makna tawakkal. Di antaranya adalah Imam Al-Ghazali –rahimahullah-, beliau berkata: “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada wakil (yang ditawakkali) semata.”
Al-Allamah Al-Manawi –rahimahullah- berkata: “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali.”
Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qori –rahimahullah- berkata: “Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik makhluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semua-nya itu adalah dari Allah.”

Imam Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Al-Mubarak, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Qhudha`i dan Al-Baghawi meriwayatkan dari Umar bin Khaththab bahwa Rasulullah bersabda:
“Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal kepada-Nya, niscaya kalian akan diberi rizki sebagaimana rizki burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Dalam hadits yang mulia ini, Rasulullah yang berbicara dengan wahyu menjelaskan, orang yang bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya dia akan diberi rizki oleh Allah sebagaimana burung-burung diberi-Nya rizki. Betapa tidak demikian, karena dia telah bertawakkal kepada Dzat Yang Maha Hidup, Yang tidak pernah mati. Karena itu, barangsiapa bertawakkal kepada-Nya, niscaya Allah akan mencukupinya. Allah berfirman:
“Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Se-sungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Menafsirkan ayat tersebut, Imam Ar-Rabi’ bin Khutsaim –rahimahullah- mengatakan: “(Mencukupkan) diri setiap yang membuat sempit manusia.”

TAWAKKAL TIDAK MENINGGALKAN USAHA
Sebagian orang mukmin ada yang berkata: “Jika orang yang bertawakkal kepada Allah itu akan diberi rizki, maka kenapa kita harus lelah, berusaha dan mencari penghidupan. Bukankah kita cukup duduk-duduk dan bermalasan-malasan, lalu rizki kita datang dari langit?”
Perkataan ini sungguh menunjukkan kejahilan orang yang mengucapkan tentang hakikat tawakkal. Nabi kita yang mulia telah menyerupakan orang yang bertawakkal dan diberi rizki itu dengan burung yang pergi di pagi hari dan pulang pada sore hari, padahal burung itu tidak memiliki sandaran apapun, baik perdagangan, pertanian, pabrik atau pekerjaan tertentu. Ia keluar berbekal tawakkal kepada Allah Yang Maha Esa dan Yang kepada-Nya tempat bergantung. Dan sungguh para ulama –semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik kebaikan– telah memperingatkan masalah ini.

Di antaranya adalah Imam Ahmad, beliau berkata: “Dalam hadits tersebut tidak ada isyarat yang membolehkan untuk meninggalkan usaha, sebaliknya justru di dalamnya ada isyarat yang menunjukkan perlunya mencari rizki. Jadi maksud hadits tersebut, bahwa seandainya mereka bertawakkal kepada Allah dalam kepergian, kedatangan dan usaha mereka, dan mereka mengetahui kebaikan (rizki) itu di Tangan-Nya, tentu mereka tidak akan pulang kecuali dalam keadaan mendapatkan harta dengan selamat, sebagaimana burung-burung tersebut.”
Imam Ahmad juga pernah ditanya tentang seorang laki-laki yang hanya duduk di rumah atau masjid seraya berkata, “Aku tidak mau bekerja sedikit pun, sampai rizkiku datang sendiri.” Maka beliau berkata, “Ia adalah laki-laki yang tidak mengenal ilmu. Sungguh Rasulullah telah bersabda:
“Sesungguhnya Allah telah menjadikan rizkiku melalui panahku.”
Dan beliau bersabda:
“Sekiranya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya Allah memberimu rizki sebagaimana yang diberikan-Nya kepada burung-burung, berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang.”
Dalam hadits tersebut dikatakan, burung-burung itu berangkat pagi-pagi dan pulang sore hari dalam rangka mencari rizki.

Selanjutnya Imam Ahmad berkata: “Para shahabat –radhiyallahu ‘anhum- ada yang berdagang dan bekerja dengan pohon kurmanya. Dan mereka itulah teladan kita.”
Syaikh Abu Hamid berkata: “Barangkali ada yang mengira bahwa makna tawakkal adalah, meninggalkan pekerjaan secara fisik, meninggalkan perencanaan dengan akal serta menjatuhkan diri di atas tanah seperti sobekan kain yang dilemparkan, atau seperti daging di atas landasan tempat memotong daging. Ini adalah sangkaan orang-orang bodoh. Semua itu adalah haram menurut hukum syari'at. Sedangkan syari’at memuji orang yang bertawakkal. Lalu, bagaimana mungkin sesuatu derajat ketinggian dalam agama dapat diperoleh dengan hal-hal yang dilarang oleh agama pula?
Hakikat yang sesungguhnya dalam hal ini dapat kita katakan, “Sesungguhnya pengaruh bertawakkal itu tampak dalam gerak dan usaha hamba ketika bekerja untuk mencapai tujuan-tujuannya.”

Imam Abul Qasim Al-Qusyairi berkata: “Ketahuilah sesungguhnya tawakkal itu letaknya di dalam hati. Adapun gerak secara lahiriah hal itu tidak bertentangan dengan tawakkal yang ada di dalam hati setelah seorang hamba meyakini bahwa rizki itu datangnya dari Allah. Jika terdapat kesulitan, maka hal itu adalah karena taqdir-Nya, dan jika terdapat kemudahan maka hal itu karena kemudahan dari-Nya.”

Di antara yang menunjukkan bahwa tawakkal kepada Allah tidaklah berarti meninggalkan usaha adalah apa yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Hibban dan Imam Al-Hakim dari Ja’far bin Amr bin Umayah dari ayahnya , ia berkata:
“Seseorang berkata kepada Nabi, “Aku lepaskan untaku dan (lalu) aku bertawakkal?” Nabi bersabda: “Ikatlah (untamu) kemudian bertawakkallah.”
Wallahu A’lamu bish Shawab.

Reference:
1. Tafsir Ath-Thabari, Imam Ath-Thabari.
2. Tafsir Al-Qur`anil ‘Azhim, Imam Ibnu Katsir.
3. Mafaatihur Rizki fi Dhau`il Kitabi was Sunnah, DR. Fadhl Ilahi.

TAKUT TERHADAP GENERASI LEMAH

Posted by newydsui Tuesday, September 20, 2011 0 comments

TAKUT TERHADAP GENERASI LEMAH
Oleh: Tengku Azhar, Lc.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” (QS. An-Nisaa`: 9)

Tafsir Ayat
Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- berkata, “Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhu- meriwayatkan bahwa ayat ini berkenaan dengan seorang lelaki yang sedang menjelang ajalnya, lalu kedengaran seorang lelaki bahwa dia mengucapkan suatu wasiat yang menimbulkan mudharat terhadap ahli warisnya. Maka Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada orang yang mendengar wasiat tersebut, hendaknya dia bertakwa kepada Allah, membimbing si sakit serta meluruskannya ke jalan yang benar. Hendaknya si sakit memandang kepada keadaan para ahli warisnya sebagaimana diwajibkan baginya berbuat sesuatu untuk ahli warisnya, bila dikhawatirkan mereka akan terlunta-lunta.

Hal yang sama dikatakan oleh Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Di dalam sebuah hadits dalam kitab Sahihain disebutkan seperti berikut: “Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam masuk ke dalam rumah Sa’ad Ibnu Abi Waqqas – radhiyallahu ‘anhu- dalam rangka menjenguknya, maka Sa’ad bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai harta, sedangkan tidak ada orang yang mewarisiku kecuali hanya seorang anak perempuan. Maka bolehkah aku menyedekahkan dua pertiga dari hartaku?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Tidak boleh.’ Sa’ad bertanya. ‘Bagaimana kalau dengan separonya?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Jangan.’ Sa’ad bertanya, ‘Bagaimana kalau sepertiganya?’ Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab, ‘Sepertiganya sudah cukup banyak.’ Kemudian Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya kamu bila meninggalkan ahli warismu dalam keadaan berkecukupan adalah lebih baik daripada kamu membiarkan. mereka dalam keadaan miskin meminta-minta kepada orang.”

Di dalam kitab Shahih dari Ibnu Abbas mengatakan, “Seandainya orang-orang menurunkan dari sepertiga ke seperempat, maka sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Sepcrtiganya sudah cukup banyak’.”
Para ahli fiqih mengatakan, “Jika ahli waris si mayat adalah orang-orang yang berkecukupan, maka si mayat disunahkan berwasiat sebanyak sepertiga dari hartanya secara penuh. Jika ahli warisnya adalah orang-orang yang miskin, maka wasiatnya kurang dari sepertiga.”
Menurut pendapat yang lain, makna yang dimaksud oleh ayat ini ialah takutlah kalian kepada Allah dalam memegang harta anak-anak yatim.
Saatnya Membangun Generasi Rabbani yang Tangguh
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Ali ‘Imran: 110)

Semenjak keruntuhan khilafah Islamiyah pada tahun 1924, kemerosotan peradaban dan akhlak islamiyah dikalangan umat semakin menjadi-jadi. Kemaksiatan dan kemungkaran merajalela demikian maraknya, sampai-sampai terjadi talbisul haqqa bil bathil (percampuradukan kebenaran dengan kebathilan) dan bahkan kitmanul haqqo (menyembunyikan kebenaran) pun sudah menjadi hal yang lumrah, baik dikalangan ulama, ’umara maupun ummat. Dampak dari itu semua terpampang didepan mata kita yaitu mengorbitnya generasi yang tidak takut terhadap adzab dan dosa sekalipun akbarul kabaa’ir. Benarlah sabda Rasulullah yang memberikan sinyaleman mengenai kondisi kaum muslimin ketika mendekati akhir zaman laksana hidangan yang dikerumuni orang-orang yang rakus.

Terlepas dari itu semua, usaha-usaha ke arah pembangunan kembali dan peradaban dan akhlak Islamiyah merupakan kewajiban yang tidak terelakkan. Oleh karena itu, hal yang sangat mendesak untuk segera dilaksanakan adalah mencetak sebanyak-banyaknya ’agent of change’(du’at ilallah) yang berfungsi mengemban amanah untuk mengembalikan kejayaan umat sebagaimana di zaman Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin.

Selaku ’agent of change’(du’at ilallah), ia harus memiliki syakhsiyyah Rabbaniyyah (kepribadian Rabbani) karena hanya syakhsiyyah Rabbaniyyah sajalah yang mampu mengembalikan kejayaan ummat dan menegakkan ’izzah Islam. Prototypenya dalam tarikh Islam bertebaran bak bintang dilangit mulai dari Anbiyaa’, para shahabat Rasulullah dan tabi’in sampai para ulama salaf.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, merupakan satu dari sekian prototype syakhsiyyah Rabbaniyyah. Sejak kecil beliau dididik dan dibesarkan dilinkungan ulama salaf yang memiliki pemahaman ad-Din berada di tataran puncak. Mengomentari hal ini Imam Adz-Dzahabi berkata: ”Dia (Ibnu Taimiyah) merupakan lambang kecerdasan dan kecepatan memahami, paling hebat pemahamannya terhadap Al Quran dan As-Sunnah serta perbedaan pendapat dan beliau merupakan lautan dalil naqli........”

Beliau merupakan profil ulama Rabbani yang teguh berpijak kepada aqidah salafiyah dan paling gigih memerangi para mubtadi’(ahli bid’ah) sekaligus memerangi ajaran-ajaran falsafah. Kehidupannya sangat pekat dalam suasan ruhiyyah yang tinggi, sisi lain beliau juga mujahid yang ahli perang dan memberikan komando kepada kaum Muslimin untuk bangkit melawan serbuan tentara Tartar (tahun 700,702,713 H). Beliau adalah pembela tiap jengkal tanah umat Islam dari kezholiman musuh dengan pedangnya, sebagaimana beliau juga pembela aqidah umat dari rongrongan para ahli bid’ah dengan lidah dan penanya. Semboyan ruhbanun fi al-laili wa fursanun fi an-nahari, benar-benar teraplikasikan dalam kehidupannya.
Pribadi-pribadi seperti beliaulah yang kelak mampu mengembalikan kejayaan umat dan menegakkan ’izzah Islam. Sehingga wajar kalau seandainya program-program dakwah baik secara jama’i maupun fardhi diarahkan kepada pembentukan syakhsiyyah Rabbaniyyah. secara mujmal (global mereka baru disebut syakhsiyyah Rabbaniyyah setelah memenuhi tiga khasha’ishuha (kriterianya) yaitu:

A. Al-Islamu Qoo’imun fi Nafsih
Islam tegak dalam diri, maksudnya ia harus diimplementasikan oleh para ’agent of change’ dalam kehidupan sehari-harinya, dengan catatan harus benar, baik secara aqidah maupun syari’ah. Benar dalam aqidah, berarti dalam setiap ’agent of change’ harus berpegang teguh kepada aqidah Islamiyah yang hanif (QS Al-An’am: 161) tanpa embel-embel paham-paham falsafah apalagi ajaran-ajaran ahli bid’ah semacam Rafidhah, Inkar Sunnah, Hamadiyah dan lain sebagainya, yang nota bene sesat dan menyesatkan ummat dam bukannya menegakkan ’izzah Islam wal Muslimin.

Benar dalam syar’i, berarti bahwa dalam menjalankan syari’at harus sesuai denagn ketetapan Rasulullah tanpa menyertakan atau menyandingkannya dengan fatwa-fatwa atau ide-ide ahli bid’ah. Allah berfirman QS Al-Baqarah: 208,
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”
Agar maksud ayat diatas dapat tercapai, dua point dimuka merupakan syarat mutla, jika salah satunya cacat maka batallah ia. Dalam konteks ini, hendaknya ditumbuhkembangkan sikap tawadhu’ terhadap al-haq dan sikap wara’ terhadap selainnya.

Sementara itu masih dalam kerangka Al-Islamu qoo’imun fi nafsih. Hendaknya dibudayakan suasana ruhiyyah yang kental diantara para ’agent of change’, seperti: meningkatkam itensitas ibadah nafilah, mentadabburi ayat-ayat tarhib dan targhib, mengingat kematian dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya serta merenungkan kehidupan sesudahnya.
Bukanlah kedekatan (taqarrub) pertolongan Allah berbanding lurus dengan kedekatan kita kepada Allah ’azza wa jalla, dan bukanlah kedekatan itu kita peroleh dalam kepekatan dan ketinggian suasana ruhiyyah kita. Dan kemenangan tidaklah ditentukan oleh kecanggihan senjata dan melimpahnya prajurit, tetapi ruhiyyahnya kering lagi tandus.

B. Al-Hirsu ’Ala ad Dakwah
Kriteria kedua dari syakhsiyyah Rabbaniyyah adalah bahwa ’agent of change’ harus memiliki kemampuan yang membaja untuk berdakwah, tanpa ini ia akan cepat patah semangat kemudian berjatuhan bak daun kering. Allah berfirman:
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?" (QS. Fushilat: 33)

Ayat diatas merupakan kalimat pertanyaan retoris yang jawabannya ada dalam pertanyaan tersebut. Dakwah merupakan pekerjaan terbaik dari seluruh perkerjaan yang ada, dan ia sudah menjadi kewajiban setiap muslim sebagaimana amanat Rasulullah disaat haji wada’ yang berbunyi, “Hendaklah kalian yang menyaksikan menyampaikannya kepada yang tidak hadir”.
Setelah kesadaran akan wajibnya dakwah serta kemauan yang keras untuk mengembangkannya, maka langkah selanjutnya adalah memahami watak dakwah dan ma’arakah (tribulasi) diseputarnya. Dakwah bukanlah sebuah perjalanan yang mulus tanpa hambatan, melainkan ia dipenuhi onak dan duri yang ditebar baik secaa sengaja maupun secara tidak sengaja oleh mereka yang tidak ridha terhadapnya. Onak dan duri tersebut dapat berbentuk fitnah (gangguan eksternal) yang cenderung destruktif, namun dapat pula berbentuk mihnah (gangguan internal) lebih bersifat kontruktif, akan tetapi kesemuanya ini selain sebagai sunnatullah juga bermaksud untuk meningkatkan kualitas aqidah dan dakwah sang ’agent of change’. Lagi pula bukankah yang namanya ujian itu dimaksudkan untuk menaikkan level dan bukan sebaliknya.

Syakhsiyyah Rabbaniyyah adalah mereka yang berkesadaran dan berkemajuan untuk melakukan dakwah Islamiyah, sedangkan program dakwah yang dilakukannya hendaknya diarahkan pada terbentuknya Syakhsiyyah-syakhsiyyah Rabbaniyyah yang baru. Dengan demikian peluang kearah pembangunan kembali peradaban Islamiyah senmakin menjadi sebuah keniscayaan.

C. Al-Isti’dad Lil Mauti fi Sabiili Ad-dakwah
Satu hal yang membuat kondisi umat demikian kronisnya laksana hidangan yang dikerumuni orang-orang yang rakus, tidak lain adalah karena kualitas umat itu sendiri yang laksana buih di lautan. Kualitas yang demikian rendahnya berkembang karena telah mewabahnya penyakit “wahn” yaitu ‘hubbudunya wa karahiyatul maut’(cita dunia dan takut mati), demikian siyalemen Rasulullah empat belas abad yang lalu. Dalam bahasa yang lain ulama salaf menyebutnya dengan “umat telah meletakkan dunia di dalam hatinya, sedang para shahabat meletakkannya dalam genggaman”.

Maka kiteria selanjutnya yang harus dimiliki ’agent of change’ agar ia dapat disebut sebagai syakhsiyyah Rabbaniyyah adalah rela untuk mati karena dakwah.allah berfirman dalam QS Al-Ahzab: 23,
“Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang Telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”
Seorang ‘agent of change’ harus tampil di muka memberikan contoh sebagaimana yang telah dilakukan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Pertemuan di Darun Nadwah telah menelurkan keputusan bahwa Muhammad harus dibunuh, dalam melaksanakannya, kaum kuffar Quraisy bersepakat bahwa setiap kabilah yang ada harus mengirim satu orang pemuda yang membunuhnya. Hari yang telah ditentukan tiba dan kediaman rasul pun dikepung dari segenap penjuru olah para kuffar Quraisy, dengan kecermatan perhitungan, Rasulullah memerintahkan Ali untuk tidur ditempat Rasul dan ia pun dengan penuh ketaatan melakukannya. Mala berlalu tanpa ada prahara, tapi ‘ibrah dibalik peristiwa itu sangat banyak.

Sepenggal kisah diatas agaknya dapat menghibur hati para du’at yang ikhlas. Demikian ridhonya Ali menggantikan posisi rasul yang ketika itu hendak dibunuh, yang beliau lakukan tiada lain ialah demi kelangsungan dakwah Islamiyah. Kematian adalah suatu kepastian, ia bukanlah akibat dari suatu hal atau perbuatan tertentu dan ia bukanlah sebuah resiko. Sepanjang tarikh Islam tak terhitung banyaknya para du’at yang mengikhlaskan nyawanya untuk dakwah dan tak terbilang pula banyaknya para du’at yang darahnya menyirami taman syuhada’ dan ia akan semakin tak terbilang banyaknya kelak.
Diantara fitnah yang ditebarkan, inilah fitnah yang besar menimpa para du’at. Akan tetapi betapa tenangnya Sayyid Qutb menghadapi tiang gantungan, begitupun dengan Ibnu Taimiyah,bahkan beliau sempat berujar: ”di penjara bagiku adalah khalwat, terusirku adalah siyaahah dan kematianku adalah syahadah”

Ketiga kriteria itulah yang akan membentuk seseorang menjadi syakhsiyyah Rabbaniyyah,dan ‘agent of change’ harus memilikinya tanpa reserve agar segala usaha yang telah dilakukan untuk pembangunan kembali peradaban Islam tidak menjadi utopia.

Wallahu A’lamu bish Shawab
Reference:
1. Tafsir Ibnu Katsir, Imam Ibnu Katsir
2. Dari berbagai sumber.

RADIO DAKWAH SYARI'AH

Browser tidak support

DONATUR YDSUI

DONATUR YDSUI
Donatur Ags - Sept 2011

DOWNLOAD DMagz

DOWNLOAD DMagz
Edisi 10 Th XI Oktober 2011

About Me

My Photo
newydsui
Adalah lembaga independent yang mengurusi masalah zakat, infaq dan shodaqoh dari para donatur yang ikhlas memberikan donasinya sebagai kontribusinya terhadap da'wah islamiyah diwilayah kota solo pada khususnya dan indonesia pada umumnya.
View my complete profile

Followers