Hakekat Tasawuf (Koreksi Terhadap Esensi Ajaran Tasawuf)

Posted by newydsui Thursday, December 1, 2011
Hakekat Tasawuf
(Koreksi Terhadap Esensi Ajaran Tasawuf)

Prolog
Secara hakiki, ajaran tasawuf yang dianut umat islam mempunyai pandangan yang bercorak panteistis. Teori-teori yang diajarkan oleh berbagai macam aliran tasawuf, baik teori Wihdah Al-Wujud, Wihdah As-syuhud, Al-Ittihad, Al-Ittishal, Al-Hulul Atau Al-Liqa’, semuanya bersifat panteistis. Pandangan pantaistis merupakan hasil dari konsepsi filsafat yang disebut monisme, yaitu konsepsi yang berpendapat bahwa Tuhan dan alam adalah satu. Sedangkan monisme dengan panteismenya secara historis merupakan esensi dari ajaran agama hindu, sebagai agama tertua di dunia yang lahir di india dengan kitab sucinya Weda (1250 SM), Unpanishad (750 SM), dan Mahabarata.

Ajaran tasawuf dengan filsafat monisme dan panteismenya dimiliki oleh hindu dan dianut dan dikembangkan oleh yunani kuno, kemudian dianut dan dikembangkan oleh Kristen, kemudian dianut oleh filosof muslim dan sufi muslim seperti Al-Hallaj dan Ibnu Arabi.

Dari berbagai formulasi yang beraneka ragam -baik di dalam kitab weda, Upanishad, maupun baghawad gita- tentang filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya, yaitu hubungan antara brahma (Tuhan), yang tunggal dengan keanekaan dunia, baik yang menurun (emanasi) maupun yang menaik (panteisme) secara esensial adalah milik agama hindu. Filsafat monoisme dengan emanasi dan panteismenya yang dikembangkan oleh filosof yunani, yang kemudian diambil alih oleh filosof Kristen yang selanjutnya dijadikan prinsip dasar agama kristen seperti doktrin trinitas dan penebusan dosa, adalah berasal dari agama hindu. Karenanya secara esensial filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh hindu dan diyakini oleh filosof yunani dan Kristen adalah sama persis.

Kemudian, baik karena factor daerah sejarah, pergaulan yang begitu akrab antara golongan Kristen dengan umat islam, maka filsafat monisme dengan emanasinya dan panteismenya yang dimiliki oleh agama Kristen juga diambil alih oleh kaum muslim, khususnya golongan syi’ah dengan segala alirannya dan tasawuf dengan semua tarekatnya.
Persamaan persamaan prinsipil antara filsafat monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh hindu, filosof yunani, agama kristen, syi’ah, dan tasawuf sangatlah menonjol dan tidak ada perbedaannya sama sekali. Perbedaan gradual, seperti penggunaan istilah, formulasi yang disusun secara puitis ataupun prosa tidak menyebabkan persamaan prinsip itu menjadi kabur.

Dengan demikian, filsafat monisme dengan emanasi (al-fa’id) dan panteismenya (al- hulul, wihdah al-wujud, al-ittihad) yang dianut oleh golongan syi’ah dan tasawuf berasal dari agama hindu dan tidak bersumber dari ajaran islam. Lebih jauh dari itu, istilah-istilah yang digunakan dalam ajaran tasawuf seperti syari’at, thariqat, haqiqat dan ma’rifat sama sekali tidak didasarkan pada dalil al-qur’an dan as-sunnah.

Definisi Tasawuf

Pengertian tasawuf menurut istilah dirumuskan dengan berbagai macam definisi. Ada yang menyatakan bahwa intisari tasawuf ialah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan tuhan dengan mengasingkan diri dan berkontemplasi. Kesadaran berada dekat dengan Tuhan itu dapat mengambil bentuk ittihad. Adapula yang menyatakan bahwa tujuan tasawuf adalah untuk mendekatkan diri kepada tuhan dan berusaha agar bersatu dengan Tuhan.

Al-Junaid (wafat 910 M) berkata: “tasawuf berarti bahwa tuhan menjadikan kamu mati, untuk hidup kembali di dalam-Nya.” Sedangkan Abu Yazid Bustami berkata:” jika aku terhapus, maka Tuhan adalah kaca-Nya sendiri dalam diriku.”

Dari beberapa rumusan definisi tasawuf di atas, maka tasawuf secara istilah yaitu, suatu usaha yang sungguh-sungguh dengan jalan mengasingkan diri sambil bertafakur, melepaskan diri dari segala yang bersifat duniawi dan memusatkan diri hanya kepada Tuhan sehingga bersatu denganNya.

Esensi Ajaran Tasawuf

Esensi ajaran tasawuf adalah panteisme (al-wahdah al-wujud, al-hulul atau al-ittihad), emanasi dan monisme. Untuk mendapatkan gambaran yang objektif tentang esensi ajaran tasawuf maka akan penulis ketengahkan salinan pernyataan dari beberapa tokoh sufi yang penulis anggap dapat mewakili semua aliran yang ada dalam ajaran tasawuf.
Abu Yazid Al Bustami berkata: “tidak ada Tuhan, melainkan aku. Sembahlah aku, amat sucilah aku. Alangkah besar kuasaku.”

Al-Hallaj pernah mengungkapkan dalam sya’irnya tentang ajaran yang dianutnya, antara lain berbunyi: “sayalah orang yang saya rindui, dan orang yang saya rindui ialah saya. Kami dua jiwa yang bersatu di satu badan, kalau engkau lihat aku, engkau lihat Dia, bila engkau lihat Dia, terlihat oleh engkau kami. Telah bercampur ruh-Mu dalamruhku, laksana bercampurnya khamar dengan air yang jernih, bila menyentuh akan-Mu sesuatu, tersentuhlah aku. Sebab itu, Engkau adalah aku dalam segala hal.”

Ibnu arabi berkata, “wahai yang menjadikan segala sesuatu pada diriNya, Engkau bagi apa yang engkau jadikan, engkaulah yang sempit dan lapang. Hamba adalah Tuhan dan Tuhan adalah hamba, demi syu’urku siapakah yang mukallaf. Kalau Engkau katakan hamba, padahal dia tuhan atau Engkau kata Tuhan, yang mana yang diperintah.”
Filsafat monisme dengan emanasinya juga menjadi prinsip dasar tasawuf Ibnu Arabi dan Al-Hallaj. Ibnu Arabi menyatakan bahwa Allah adalah suatu dan satu. Dia adalah wujud yang mutlak. Maka nur (cahaya) Allah merupakan bagian dari diriNya, itulah hakekat muhammadiyah, itulah kenyataan pertama dalam ketuhanan. Dari hakekat muhammadiyah terjadi segala alam dalam setiap tingkatannya seperti alam jabarut, alam malakut, alam missal, alam ajsam (benda) dan alam arwah (ruh). Apabila Muhammad telah mati sebagai tubuh, namun nur Muhammad atau hakekat muhammadiyah itu tetap ada sebab dia merupakan sebagian dari Tuhan. Jadi Allah, adam dan Muhammad adalah satu dan insan kamil pun adalah Allah.
Al-Hallaj menggambarkan bahwa nur Muhammad atau hakekat muhammadiyah merupakan sumber kejadian alam semesta dan darinyalah terpancar segala makhluk di alam ini.

Menurutnya, cahaya segala kenabian terjelma dari nurnya. Ibnu Arabi dan Al-Hallaj mempunyai kedudukan yang sama yaitu sebagai penjelmaan Tuhan di alam ini, yang suci, dan maksum, yang mengetahui segala yang ghaib, yang berserikat dengan Tuhan dalam menentukan nasib, surga dan neraka. Ibnu Arabi dan Al Hallaj telah sampai pada tingkat wali Allah atau insan kamil yang dinyatakan bahwa matanya tuhan telah menjadikan mataNya untuk melihat, telingaNya untuk mendengar. Mereka berdua telah mendapat karamah, kemuliaan yang istimewa, sehingga mereka dapat berhubungan dengan alam ghaib, dengan ruh, dengan malaikat dan jin, serta mengetahui sesuatu hal sebelum kejadian.
Kedudukan tokoh- tokoh sufi yang telah mencapai tingkat wali Allah adalah sama dengan kedudukan imam imam pada kaum syi’ah, yaitu penjelmaan Tuhan di alam nyata. Karenannya tidak salah apabila ibnu kholdun berpendapat bahwa kepercayaan tentang wali Allah pada kaumsufi adalah karena mengikuti ajaran syi’ah: bathiniyyah, ismailiyah, imamiyah dan rafidhah.

Koreksi Terhadap Esensi Ajaran Tasawuf

Secara filosofis, monisme dengan emanasi dan panteismenya yang dianut oleh golongan tasawuf bertentengan secara diametral dengan teori “penciptaan” dan “monoteisme” yang dianut ummat islam. Agama islam mengajarkan bahwa segala sarwa yang ada terdiri dari dua esensi, yaituTuhan dan alam, Kholiq dan makhluk, yang pertama sebagai Maha Pencipta dan yang kedua sebagai yang diciptakan. Perbedaan fundamental antara Tuhan dan alam, baik secara esensinya maupun eksistensinya sangat prinsipil. Perbedaan fundamental itu dinyatakan oleh islam dalam al-qur’an, seperti tertuang dalam ayat berikut:

فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ جَعَلَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ اْلأَنْعَامِ أَزْوَاجًا يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَىْءُُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“(Dia) Pencipta langit dan bumi.Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu.Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-syura:11)
Muhamad Ali Ash Shobuni menjelaskan pengertian ayat ini: “pengertiannya yaitu bahwa Allah SWT tidak dapat diumpamakan dan dipikirkan, baik mengenai zat-Nya, sifatNya, maupun perbuatanNya. Dia adalah Maha Tunggal, tempat semua makhluk menggantungkan tujuan dan permohonan. Allah swt terbebas dari segala bentuk ‘penyerupaan’ dengan makhlukNya.
Sedangkan Maulana Muhamad Ali memperkuat komentar di atas dengan umgkapan sebagai berikut; “zat Tuhan tidaklah terperikan, dan Ia di atas segala konsepsi kebendaan, hingga persamaan-Nya tidak dapat diangan-angankan, sekalipun secara ibarat.”

Oleh karena itu, berkenaan dengan perbedaan fundamental antara Tuhan di satu pihak dengan alam di pihak lain, maka sejak awal mula islam telah memberikan peringatan kepada ummat manusia agar tidak mendiskusikan tentang substansi atau zat Tuhan, karena tidak akan mungkin akal budi manusia mampu memecahkannya. Sebaliknya, berpikirlah tentang segala ciptaanNya dan dengan cara itu manusia akan sampai kepada pengakuan tentang substansi atau zat Tuhan. Peringatan itu dikemukakan oleh nabi Muhamad saw seperti tertuang dalam sabdanya, “berpikirlah tentang ciptaan Allah dan jangan kamu berpikir tentang zat Allah, sebab kamu tidak akan mampu.” (al hadist)

Dalam hubungan ini Hasan Al Banna menyatakan antara lain,”ketahuilah bahwa zat Allah itu Maha Besar untuk dijangkau oleh akal budi manusia, betapapun tingginya akal budi itu. Kekuatan dan kemampuan akal budi itu terbatas. Akal budi manusia dapat mengetahui tentang segala sesuatu yang bersifat alami, akan tetapi akal budi belum mampu mengetahui hakekat sesuatu itu, seperti antara lain hakekat materi atau energy. Apabila hakekat materi dan energy saja manusia terbatas untuk mengetahuinya, apalagi zat Tuhan yang Maha Besar dan Maha Luas tak terhingga. Untuk itu Rasulullah saw melarang memikirkan zat Allah, sebaliknya beliau menyuruh manusia memikirkan segala ciptaanNya.
Berpikir tentang zat Kholiq berarti mencari hakekat Zat Kholiq itu dari segi yang kecil sekali yaitu diri manusia. Hal itu tak mungkin dibenarkan oleh akal budi itu sendiri, karena alat (akal budi) yang dipakai terlalu lemah dan tidak seimbang; sebab antara dua wujud itu, akal budi dan zat tuhan memiliki perbedaan yang sangat jauh dan sama sekali tidak seimbang.
Dari sisi lain, usaha menyelami sesuatu yang tidak mungkin akal budi menusia sampai kepadanya berarti sama halnya dengan menghabiskan umur secara sia-sia, bahkan akan menimbulkan celaka. Percuma karena mengusahakan sesuatu yang tidak mungkin akan tercapai, dan celaka karena hal itu akan membawa kepada keraguan dan merusak keyakinan.

Penutup

Uraian yang telah penulis paparkan bertujuan menjelaskan secara ringkas tentang esensi ajaran tasawuf menurut para penganutnya, dan penulis telah melakukan koreksi secara singkat tentang kesalahan dan pertentangannya dengan ajaran islam. kesimpulannya, hampir setiap dimensi ajaran tasawuf bertentangan dengan islam. Oleh kare itu, sudah seharusnya umat islam tidak mengikuti pola ajaran tasawuf dan kembali kepada ajaran islam secara utuh kemudian mengamalkannya sesuai menurut ajaran Rasulullah saw.
Referensi:
Abdulah Yusuf Ali, The Meaning Of The Glorius Qur’an (Bairut: Dar Kitab Al Lubnani, Tanpa Tahun)
Muhamad Ali Ash Shobuni, Shafwah At Tafasir (Bairut: Dar Al Qur’an Al Karim, 1981)
Hamka, Tasawuf: Perkembangan Dan Pemurniannya (Jakarta: Nurul Islam, 1980)
Martin Lings, Membedah Tasawuf Terj (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1991)
Harun Nasution, Filsafatdan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1992)
Abu Al Wafa Al Ghanimi At Taftazani, Sufi Dari Zaman Ke Zaman Terj. (Bandung: Pustaka, 1985)
Zoetmulder P.J, Manunggaling Kawula Gusti Terj. (Jakarta: Gramedia, 1990)
Abdul Qadir Djailani, Koreksi Terhadap Ajaran Tasawuf (Jakarta: Gema Insani Press, 1996)

0 comments

Post a Comment

RADIO DAKWAH SYARI'AH

Browser tidak support

DONATUR YDSUI

DONATUR YDSUI
Donatur Ags - Sept 2011

DOWNLOAD DMagz

DOWNLOAD DMagz
Edisi 10 Th XI Oktober 2011

About Me

My Photo
newydsui
Adalah lembaga independent yang mengurusi masalah zakat, infaq dan shodaqoh dari para donatur yang ikhlas memberikan donasinya sebagai kontribusinya terhadap da'wah islamiyah diwilayah kota solo pada khususnya dan indonesia pada umumnya.
View my complete profile

Followers