Showing posts with label Utama. Show all posts
Showing posts with label Utama. Show all posts
Peristiwa Dan Amalan Dalam Bulan
Hijriyah
(Upaya
Mengenal Keutamaan Kalender Islam)
oleh Ryan Arif Rahman
Selintas Sejarah Penanggalan Islam
Sejak dahulu, ada tiga barometer yang dijadikan pijakan dan
pegangan oleh manusia untuk menentukan waktu di muka bumi ini; pertama, dengan
melihat gerakan bumi dengan bumi itu sendiri. Penghitungan ini melahirkan
hitungan hari. Kedua, dengan melihat gerakan bumi terhadap matahari, yang
kemudian melahirkan tahun matahari, tahun masehi (Assanah Asy Syamsiyah).
Ketiga, dengan melihat gerakan bulan terhadap bumi, yang kemudian melahirkan
hitungan tahun bulan (As Sanah Al Qamariyah).
Tahun syamsiyah adalah tahun di mana berdasarkan penglihatan
gerakan bumi yang mengelilingi matahari di mulai dari titik tertentu, sampai
kembali lagi. Sementara tahun qamariyah merupakan masa yang didasarkan kepada
bulan yang mengililingi sekitar bumi.
Dalam islam, tahun yang dipergunakan adalah tahun yang
berdasarkan bulan, yakni tahun qamariyah. Hal ini ditegaskan oleh Allah swt
dalam al qur’an:
يَسْئَلُونَكَ عَنِ
اْلأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ
“Mereka bertanya
kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah :"Bulan sabit itu adalah
tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji..” (QS. Al baqarah:189)
Jumlah bulan bulannya sama dengan jumlah bulan pada tahun
syamsiyah, yaitu dua belas bulan, sebagaimana firman Allah swt:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ
عِنْدَ اللهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتَابِ اللهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّماَوَاتِ
وَاْلأَرْضَ مِنْهَآ أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ فَلاَتَظْلِمُوْا
فِيْهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَآفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ
كَآفَّةً وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi
Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan
langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang
lurus, maka jnaganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu,dan perangilah
musyrikin itu semuanya sebagaimana mereka memerangi semuanya; dan ketahuilah
bahwasannya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa.” (QS. At-taubah:36)
Pada masa Rasulullah saw, nama nama bulan tersebut sudah
ada, sebagaimana dapat kita jumpai dalam banyak hadist rasulullah saw menyebut
nama nama bulan tersebut. akan tetapi nama tahun seperti tahun 1432 hijriyah
dan yang lainnya belum ada pada masa rasulullah saw. Pada masa itu, nama tahun
umumnya dikaitkan dengan kejadian besar yang terjadi pada tahun tersebut,
misalnya ada tahun gajah karena pada tahun itu tentatara abrahah yang
menunggangi gajah berangkat ke makkah untuk menghancurkan ka’bah. Bahkan pada
masa khalifah abu bakar pun belum ada penentuan tahun.
Baru pada masa Khalifah Umar Bin Khatab, dimulai adanya
penamaan tahun. Beliau adalah orang yang pertama kali meletakkan penanggalan
hijriyah. Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan
diantara sebab mengapa umar melakukan penanggalan tersebut. dikisahkan bahwa
ketika Abu Musa Al As’ary diangkat menjadi gubernur irak, dan Umar berkirim surat
kepadanya, Abu Musa kembali berkirim surat bahwa surat dari khalifah Umar tidak tertulis tanggalnya.
Kemudian Umar segera bermusyawarah dengan para sahabat lainnya. Sebagian
mengatakan, berpegang pada waktu nabi diangkat menjadi rasul, sebagian yang
lain berpegang pada hijrah nabi, sebagian yang lain berdasar kelahiran dan
wafat Rasulullah. Hanya Umar lebih
setuju kepada pendapat yang berdasar pada hijrah nabi, mengingat sejak hijrah
itulah jelas adanya pembeda antara al haq dan al batil.
Peristiwa
Dan Amalan Dalam Bulan Hijriyah
Nama nama kedua belas bulan dimaksud berdasarkan urutannya,
peristiwa penting dan amalan yang dianjurkan/diwajibkan di dalamnya adalah
sebagai berikut:
1.
Al muharram ( yang diharamkan)
Disebut demikian karena bulan ini termasuk bulan yang diharamkan
untuk melakukan peperangan.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, peristiwa karbala, yaitu terbunuhnya
Husain cucu rasulullah saw putra Ali Bin Abi Thalib dari Fatimah Binti
Rasulullah pada tanggal 10 muharam di karbala, kufah, irak. Kedua, pada
tanggal10 muharam, Allah menyalamatkan Nabi Musa dari fir’aun,dan ditenggelamkannya
Fir’aun.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, memperbanyak puasa terutama hari
senin dan kamis, pertengahan bulan dan puasa tanggal 10 muharam yang disebut
dengan puasa asyura. Kedua, menyantuni fakir miskin.
2.
Shafar (kosong/nol)
Disebut demikian karena rumah rumah orang arab pada bulan
ini kosong dari penghuninya karena mereka keluar untuk melakukan peperangan
setelah pada bulan sebelumnya tidak diperbolehkan berperang.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, terjadinya peristiwa sumur ma’unah, yaitu
terbunuhnya 70 sahabat rasulullah saw, para penghafal al qur’an. Kedua,
terjadinya perang shiffin, antara pasukan imam Ali Bin Abi Thalib dengan Muawiyyah
Bin Abi Sufyan.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama: berpuasa senin kami dan puasa
pertengahan bulan. Kedua, melakukan ibadah ibadah rutin dan harian lainnya.
3.
Rabiul awal (musim semi pertama)
Disebut demikian, karena pada bulan tersebut memasuki muism semi
pertama. Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini adalah
sebagai berikut: pertama, rasulullah saw dilahirkan. Kedua, majid quba dibangun
pertama kali oleh rasulullah dan para sahabat. Ketiga, pembangunan masjid
nabawi di madinah oleh rasulullah dan para sahabat. Keempat, hijrah rasulullah
saw dari makah ke madinah. Kelima, rasulullah saw wafat pada hari senin bulan
ini tahun 11 hijriyah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, berpuasa senin dan kamis juga pertengahan
bulan. Kedua, melakukan ibadah rutin dan harian lainnya.
4.
Rabiul akhir (musim semi kedua)
Disebut demikian karena pada bulan tersebut dahulunya
memasuki musim semi kedua.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah ibadah seperti pada bulan bulan lainnya, mulai dari sholat,
puasa, sedekah, dan yang lainnya.
5.
Jumadal ula (membeku yang pertama)
Disebut demikian, karena dinamakannya pada musim dingin, dimana
air mulai membeku.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, terjadi perang Mu’tah pada tahun 8
hijriyah. Kedua, Sayyidah Zainab dilahirkan pada tahun 6 hijriyah putri Ali Bin
Abi Thalib dan Sayidah Fatimah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, berpuasa senin dan kamis juga
pertengahan bulan. Kedua, melakukan ibadah rutin dan harian lainnya.
6.
Jumadal akhirah (membeku yang kedua)
Disebut demikian, karena dinamakannya pada musim dingin, dimana
air mulai membeku tahap kedua.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, Sayyidah Fatimah Putri Rasulullah
dilahirkan. Kedua, wafatnya Abu Bakar pada hari selasa 22 jumadil akhirah tahun
13 hijriyah. Ketiga, terjadi Perang Jamal antara pasukan Ali Bin Abi Thalib dengan
pasukan Sayyidah Aisyah.
Sedangkan sebagian
amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan ini adalah sebagai berikut:
pertama, berpuasa senin dan kamis juga pertengahan bulan. Kedua, melakukan
ibadah rutin dan harian lainnya.
7.
Rajab (mulia, agung)
Disebut demikian karena pada bulan ini orang orang arab
dahulu memuliakan dan mengagungkan bulan ini dengan mengadakan perayaan
perayaan agama dan tidak diperbolehkan melakukan peperangan. Dan bulan ini
termasuk di antara bulan haram.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, peristiwa Isra Dan Mi’raj yaitu pada malam
27 rajab tahun 10 kenabian. Kedua, terjadi Perang Tabuk, tahun 9 hijriyah
antara rasulullah melawan tentara ramawi. Ketiga, terjadi Perang Yarmuk antara
kaum muslimin dan ramawi tahun 13 hijriyah dibawah pimpinan Khalid Bin Walid.
Sedangkan sebagian
amalan yang dianjurkan untuk dilakukan pada bulan ini adalah sebagai berikut:
pertama, berpuasa senin dan kamis juga pertengahan bulan. Kedua, melakukan
ibadah rutin dan harian lainnya. Ketiga,
berdo’a agar sampai kebulan ramadhan
dengan do’a: allahumma baarik lana fi rajab wa sya’ban wa balighnaa ramadhan.
(ya allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban serta sampaikanlah usia kami
ke bulan ramadhan)
8.
Sya’ban (bergerombol)
Disebut demikian karena pada bulan ini orang-orang arab
dahulu mulai bergerombol untuk kembali melakukan peperangan dan penyerangan.
Adapun sebagian peristiwa penting yang terjadi pada bulan
ini adalah sebagai berikut: pertama, pengalihan qiblat dari menghadap masjidil
aqsha di palestina, ke ka’bah di mekah pada tahun 2 hijriyah. Kedua, diwajibkan
jihad pada tahun 2 hijriyah. Ketiga, terjadi peristiwa Haidts Al Ifki, yaitu Sayyidah
Aisyah dituduh selingkuh dengan sahabat bernama Shafwan Bin Al Muaththal pada
tahun 6 hijriyah. Keempat, terjadi perang badar kecil pada tahun 4 hijriyah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, berpuasa senin dan kamis juga
pertengahan bulan. Kedua, melakukan ibadah rutin dan harian lainnya. Ketiga, berdo’a agar sampai ke bulan ramadhan dengan do’a: allahumma
baarik lana fi rajab wa sya’ban wa balighnaa ramadhan. (ya allah berkahilah
kami di bulan rajab dan sya’ban serta sampaikanlah usia kami ke bulan ramadhan)
9.
Ramadhan (sangat panas)
Disebut demikian karena pada bulan ini, udara sangat panas
sehingga pasir di padang pasir menjadi sangat panas.
Adapun peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini
sebagiannya adalah sebagai berikut: pertama, wahyu pertama surat al alaq turun
kepada rasulullah pada tahun 13 tahun sebelum rasul diangkat menjadi nabi.
Kedua, wafatnya sayyidah khadijah, istri rasulullah. Ketiga, terjadi perang
badar kubra, tanggal 17 ramadhan tahun 2 hijriyah. Keempat, penundukan kota
makkah pada 17 ramadhan tahun 8 hijriyah. Kelima, wafatnya sayyidah aisyah, istri
rasul tanggal 17 ramadhan tahun 57 hijriyah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, berpuasa ramadhan sebaik
mungkin. Kedua, mambaca, mentadaburi dan mengamalkan kandungan al qur’an.
Ketiga, gemar berinfak dan bersedekah. Keempat, perbanyak melakukan sholat dan
ibadah sunnah karena pahalanya dilipatgandakan. Kelima, rajin melakukan
qiyamullail/shalat terawih. Keenam, I’tikaf terutama pada sepuluh hari terakhir
di bulan ramadhan.
10.
Syawal (meninggikan)
Disebut demikian, karena pada bulan ini unta unta mengangkat
ekor-ekornya untuk dibuahi, hamil dan kemudian melahirkan.
Adapun peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini
sebagiannya adalah sebagai berikut: pertama, terjadi perang uhud, tahun 3
hijriyah. Kedua, terjadi perang ahzab tahun 5 hijriyah. Disebut perang parit, karena
pada peperangan ini rasulullah saw membuat parit atas usul dari salman al
farisi. Ketiga, terjadi perang hunain pada tahun 8 hijriyah. Keempat,
rasulullah menikah dengan sayyidah aisyah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama, puasa sunnah enam hari di bulan
syawal, boleh dilakukan berurutan boleh juga tidak, yang keutamaannya bagaikan berpuasa
selama satu tahun. Kedua, memperbanyak silaturrahim terutama berkunjung ke
tetangga dan para kerabat.
11.
Dzul qa’dah (duduk, berhenti)
Disebut demikian karena pada bulan ini mereka berhenti dari
peperangan, karena termasuk bulan haram.
Adapun peristiwa penting yang terjadi pada bulan ini
sebagiannya adalah sebagai berikut: pertama, terjadi perang bani quraidzah
antara rasulullah dengan orang yahudi, suku quraidzah yang berada di madinah.
Kedua, rasulullah menikah dengan ummu salamah pada tahun 7 hijriyah.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama: berpuasa senin dan kamis juga
pertengahan bulan. Kedua, melakukan ibadah rutin dan harian lainnya.
12.
Dzul hijjah (berhaji).
Disebut demikian karena pada bulan ini orang-orang melakukan
ibadah haji. Adapun peristiwa penting
yang terjadi pada bulan ini sebagiannya adalah sebagai berikut: pertama, haji
wada’ yaitu haji perpisahan, karena tidak lama setelah peristiwa haji ini
rasulullah saw meninggal dunia. Terjadi pada tahun 10 hijriyah. Kedua, terjadi
dua bai’at aqabah. Rasul saw membai’at orang orang madinah yang baru selesai melakukan ibadah haji, pada tahun
12 kenabian.
Sedangkan sebagian amalan yang dianjurkan untuk dilakukan
pada bulan ini adalah sebagai berikut: pertama: berpuasa sunnah pada tanggal 9
dzul hijjah atau puasa arafah yang pahalanya dapat menghapus dosa satu tahun
sebelum dan sesudahnya. Kedua, melakukan ibadah haji dan umrah bagi yang mampu.
Ketiga, berkurban pada hari raya idul adha bagi yang mampu. Keempat,
memperbanyak berdo’a, bersedekah dan ibadah ibadah lainnya.
Demikian penjelasan singkat beberapa peristiwa dan amalan yang
terjadi dan berlaku pada bulan hijriyah, semoga dengan pemaparan tersebut
memberikan dorongan bagi kita untuk menggunakan kalan derhijriyah sebagai kalender
dalam mengatur dan menjadwal agenda dan rutinitas harian kita, karena dengannya
dapat mengingatkan kita untuk selalu mengerjakan amalan amalan yang diwajibkan
dan dianjurkan di dalamnya sekaligus mengingatkan kita terhadap peristiwa yang
terjadi pada masa rasulullah dan para sahabat dalam memperjuangkan islam. wallahu
a’lam.
Referensi:
1.
Sami
bin Abdulah Al Maghluts, Atlas Agama Islam (Jakarta: Almahira, 2009) Cetakan
Pertama.
2.
Sami
bin Abdulah Al Maghluts, Atlas Perjalanan Hidup Nabi (Jakarta: Almahira, 2008) Cetakan Kedua.
3.
Ibnu
Hajar Al Asqalani, Fathul Bari Bisyarhi Shohih Al Bukhori
4.
Muhamad
Al Amīn Bin Muhamad Al Mukhtār Al Jakani As Syanqithi, Adwāùl Bayān Fī Idāh Al
Qurān Bi Al Qurān (Bairut: Ālim Al Kutub, t.thn)
5.
Abdurrahman
Bin Nashīr As Sádi, Taisīr Al Karīm Ar Rahmān Fī Tafsiri Kalām Al Manān
(Bairut: Muassasah Ar risālah, 1423) Cet I
6.
Abu
Abdilah Muhamad Bin Ahmad Al Ansharī Al Qurthubi, Al Jāmì Li Ahkām Al Qurān
(t.tp: t.tt)
7.
Ahmad
Bin Ali Bin Hajar Al Asqalani, Fath Al Bāry Bi Syarh Shahīh Al Bukhary (Bairut:
Dar Al Fikr, 1421)
GENERASI AKHIRAT
Oleh: Tengku Azhar, Lc.
Muqadimah
Shahabat Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- pernah memberikan wasiat,
وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
“Masing-masing dari keduanya memiliki generasi (penggemar), maka jadilah generasi akhirat, dan janganlah menjadi generasi dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah tempat berjuang (beramal) belum ada perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan, tidak ada lagi amal.” (HR. Al-Bukhari)
Generasi akhirat mungkin jarang diperbincangkan, apalagi didambakan banyak orang. Karena memang sebagian orang masih ragu dengan alam akhirat, apakah nyata ataukah sekedar dongeng (mitos) belaka. Memang negeri akhirat adalah ghaib (abstrak), belum terjadi, tetapi pasti terjadi. Dan generasinya pun juga pasti ada.
Semua manusia bergerak dan berusaha demi kenikmatan yang menjadi tujuan. Garis besarnya ada dua titik akhir yang diharapkan. Ada yang menginginkan dunia sebagai terminal akhir perjalanan, ada pula yang menatap lebih jauh ke depan, mereka jadikan akhirat sebagai akhir perjalanan yang didambakan. Masing-masing titik tujuan, ada penggemarnya. Ada yang banting tulang demi nikmat dunia yang didamba, ada yang bekerja keras demi kejayaan hidup setelah dunia menjadi sirna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Sebagai mukmin sejati, akhirat adalah terminal dan tujuan terakhir kita. Apapun yang kita perbuat di dunia ini adalah wasilah (jembatan) untuk kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِمَنْكِبِى فَقَالَ « كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ » . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia seperti orang asing, atau orang yang sedang dalam perjalanan (untuk mampir sementara)’. Dan Ibnu Umar berkata, ‘Apabila telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu pagi. Jika telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhari)
Karakter Generasi Akhirat
Setiap generasi memiliki karakter. Generasi akhirat memiliki karakter sebagaimana generasi dunia juga memiliki karakter.
Dunia diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih hina dari bangkai cempe (anak kambing). Perumpamaan yang sangat pantas juga bagi para pemuja dan pemburunya. Wal’iayadzubillah.
Para ulama juga telah memberikan perumpamaan tentang dunia dengan perumpamaan yang cukup rendah dan hina.
Perumpamaan pertama datang dari Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi –rahimahullah-. Beliau berkata, “Dunia itu laksana biji-bijian yang dikumpulkan semut di musim panas sebagai simpanan menghadapi musim dingin. Tanpa sadar, tatkala semut sedang asyik membawa sebutir biji di mulutnya, datanglah seekor burung yang mematuk sang semut beserta sebutir biji yang sedang dibawanya. Maka semut itu tak sempat menikmati makanan yang dikumpulkannya, tidak pula mendapatkan apa yang diharapkannya.” Terapkanlah permisalan tersebut, di mana biji-bijian itu adalah kenikmatan dunia, semut itu adalah manusia, sedangkan burung tersebut ibarat malakul maut. Betapa banyak manusia sibuk mengumpulkan harta, hingga kematian tiba-tiba menyergapnya di saat dia masih mengumpulkan dunianya, dan dia belum sempat mengenyam semua hasil jerih payahnya.
Perumpamaan kedua datang dari seorang ulama yang sangat faqih di Abad 6 H, Ibnu Al-Jauzi –rahimahullah-. Beliau mengumpamakan dunia laksana perangkap yang ditebar di dalamnya biji-bijian. Sedangkan manusia ibarat seekor burung yang menyukai biji-bijian. Burung-burung itu hanya asyik menikmati bijian-bijian itu, tanpa menaruh waspada terhadap perangkap yang akan menjeratnya sekejap mata. Cukup jelas, pemburu dunia terperangkap kenikmatan yang menipu, akhirnya mendekam dalam kesengsaraan tanpa batasan waktu.
Perumpamaan yang lebih menohok dibuat oleh senior tabi’in, Imam penduduk Bashrah, Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah-. Beliau berkata, “Wahai anak Adam, pisau telah diasah, dapur api telah dinyalakan, sedangkan domba masih sibuk menikmati makanan.”
Berbeda dengan generasi akhirat, dunia bukanlah tujuan tetapi ladang dan jembatan menuju negeri akhirat yang kekal.
Berikut beberapa karakter generasi akhirat, semoga kita bisa meneladaninya.
1. Peribadatan Secara Mutlak Hanya Untuk Allah.
Generasi akhirat adalah generasi yang mampu menundukkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dengan penuh ketundukan dan kepasrahan.
Sifat mereka tersebut Allah jelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. an orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan: 63-76)
2. Bersifat jujur
Sifat ini merupakan karakter para generasi akhirat. Mereka berlaku jujur kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzaab: 23)
Maka kejujuran merupakan syiar bagi mereka, dan menepati janji sebagai selimut bagi mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar senantiasa bersama dengan golongan orang-orang yang jujur. Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Dan Allah Ta’ala juga telah memuji mereka dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
3. Berani Dalam Membela Kebenaran
Inilah sifat diantara akhirat, dan termasuk sifat seorang mukmin pemberani, berani dalam membela kebenaran serta berqudwah (mengambil suritauladan) kepada orang terdahulu dari para Nabi dan Rasul.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”
Dan tentunya, masih banyak sifat dan karakter generasi akhirat lainnya. Yang pasti akhirat akan datang dan dunia akan berlalu. Jadilah kita generasi pemburu akhirat bukan pemburu dunia. Wallahu A’lamu bish Shawab.
JIWA TENANG DENGAN DZIKRULLAH
Oleh: Tengku Azhar, Lc.
Oleh: Tengku Azhar, Lc.
“Bukankah dengan mengingat Allah hati menjadi tenang?” demikianlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS. Ar-Ra’du: 28. Seyogyanya seorang muslim menghiasi hidupnya dengan memperbanyak dzikir kepada Allah, di mana dan kapan pun juga. Ketenangan jiwa dan kenyamanan hidup hanya didapat oleh seorang manusia dengan berdzikir kepada Allah. Tentunya ‘dzikir’ dengan makna yang lebih luas cakupannya, bukan sebatas dzikir dengan lisan saja sebagaimana yang banyak kita saksikan hari ini.
Munculnya penomena majelis dzikir, Indonesia berdzikir, dzikir nasional dan istilah lainnya sebenarnya sesuatu yang positif. Namun amat disayangkan, banyak kaum muslimin yang melakukan hal demikian, justru terjerumus pada banyak kesalahan yang menunjukkan mereka tidak mengerti bagaimana dzikir pada hakikatnya.
Sebagai contoh, ada seorang ibu muda yang aktif mengikuti ‘majelis dzikir’. Kecintaannya pada dzikir begitu mempesona. Bahkan dia tidak canggung mengajak teman-temannya dari kalangan para ibu untuk mengikuti kegiatan tersebut. Tapi, bila kita lihat kehidupannya sehari-hari sungguh memprihatinkan. Keluar rumah tanpa menutup auratnya, ngobrol dengan kaum pria yang bukan mahromnya begitu ‘nyantainya’.
Lantas di mana buah dzkir yang selama ini ia lakukan? Apa dzikir itu sendiri? Apakah dzikir itu hanya sebatas di lisan saja?
Tema kita kali ini akan membahas seputar dzikir dan hakikatnya yang sebenarnya, agar dzikir yang kita lakukan benar di mata Allah dan juga di mata manusia.
Urgensi dan Kedudukan Dzikir
Satu kepastian bahwa dzikir dan do’a adalah sebaik-baik amalan yang mendekatkan diri seorang muslim kepada Rabbnya, bahkan ia merupakan kunci semua kebaikan yang diinginkan seorang hamba di dunia dan akhirat. Kapan saja yang Alah Ta’ala berikan kunci ini pada seorang hamba maka Allah Ta’ala inginkan ia membukanya dan jika Allah menyesatkannya maja pintu kebaikan tersisa jauh darinya, sehingga hatinya gundah gulana, bingung, pikiran kalut, depresi dan lemah semangat dan keinginannya. Apabila ia menjaga dzikir dan do’a serta terus berlindung kepada Allah maka hatinya akan tenang, sebagaiman firman Allah :
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللهِ أَلاَبِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du :28)
Allah berfirman menjelaskan arti penting dan kedudukan dzikir dalam banyak ayatnya, diantaranya:
إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّآئِمِينَ وَالصَّآئِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أّعَدَّ اللهُ لَهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mu’min, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab :35)
Demikian juga Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan secara gamblang arti penting dan kedudukan dzikir pada diri seorang muslim dalam banyak haditsnya, diantaranya:
عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
“Dari Abu Musa , beliau berkata: telah bersabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dan yang tidak berdzikir seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhari)
Dan hadits beliau yang berbunyi:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ
“Dari Abu Hurairah, beliau berkata: “Al-Mufarridun telah mendahului” mereka bertanya: ‘Siapakah Al-Mufarridun wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab: “Laki-laki dan perempuan yang banyak berdzikir.” (HR. Muslim)
Keutamaan dan Fadah Dzikir
Keutamaan dan faedah dzikir sangat banyak sekali, sampai-sampai imam Ibnul Qayyim menyatakan dalam kitabnya Al-Waabil Ash-Shoyyib bahwa dzikir memiliki lebih dari seratus faedah dan menyebutkan tujuh puluh tiga faedah didalam kitab tersebut.
Diantara keutamaan dan faedah dzikir adalah:
1. Dzikir dapat mengusir syaitan dan melindungi orang yang berdzikir darinya, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Dan aku (Yahya bin Zakariya) memerintahkan kalian untuk banyak berdzikir kepada Allah. Permisalannya itu seperti seseorang yang dikejar-kejar musuh lalu ia mendatangi benteng yang kokoh dan berlindung di dalamnya. Demikianlah seorang hamba tidak dapat melindungi dirinya dari syaitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad)
Ibnul Qayim memberikan komentarnya terhadap hadits ini: ‘Seandainya dzikir hanya memiliki satu keutamaan ini saja, maka sudah cukup bagi seorang hamba untuk tidak lepas lisannya dari dzikir kepada Allah dan senantiasa gerak berdzikir, karena ia tidak dapat melindungi dirinya dari musuhnya kecuali dengan dzikir kepada Allah. Para musuh hanya akan masuk melalui pintu kelalaian dalam keadaan terus mengintainya. Jika ia lengah maka musuh langsung menerkam dan memangsanya dan jika berdzikir kepada Alah maka musuh Allah itu meringkuk dan merasa kecil serta melemah sehingga seperti Al Wash’ (sejenis burung kecil) dan seperti lalat’.
Manusia ketika lalai dari dzikir maka syaitan langsung menempel dan menggodanya serta menjadi teman yang selalu menyertainya, sebagaimana firman Allah:
وَمَن يَعْشُ عَن ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
“Barangsiapa yang berpaling dari dzikir (Rabb) Yang Maha Pemurah (Al-Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Az Zukhruf:36).
Seorang hamba tidak mampu melindungi dirinya dari syaitan kecuali dengan dzikir kepada Allah.
2. Dzikir dapat menghilangkan kesedihan, kegundahan dan depresi dan dapat mendatangkan ketenangan, kebahagian dan kelapangan hidup. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah.Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’du :28)
3. Dzikir dapat menghidupkan hati, bahkan dzikir itu sendiri pada hakekatnya adalah kehidupan bagi hati tersebut. Apabila hati kehilangan dzikir maka seakan-akan kehilangan kehidupannya sehingga tidak hidup sebuah hati tanpa dzikir kepada Allah. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‘Dzikir bagi hati seperti air bagi ikan, lalu bagaimana keadaan ikan jika kehilangan air?’
4. Dzikir menghapus dosa dan menyelamatkannya dari adzab Allah, karena dzikir merupakan satu kebaikan yang besar dan kebaikan menghapus dosa dan menghilangkannya. Tentunya hal ini dapat menyelamatkan orang yang berdzikir dari adzab Allah sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam :
مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلًا قَطُّ أَنْجَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ
“Tidaklah seorang manusia mengamalkan satu amalan yang lebih menyelamatkan dirinya dari adzab Allah dari dzikrullah.” (HR. Imam Ahmad dalam Al-Musnadnya)
5. Dzikir menghasilkan pahala, keutamaan dan karunia Allah yang tidak dihasilkan selainnya, padahal sangat mudah mengamalkannya, karena gerakan lisan lebih mudah dari gerakan anggota tubuh lainnya. Diantara pahala dzikir yang disebutkan Rasulullah adalah:
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ وَكُتِبَتْ لَهُ مِائَةُ حَسَنَةٍ وَمُحِيَتْ عَنْهُ مِائَةُ سَيِّئَةٍ وَكَانَتْ لَهُ حِرْزًا مِنْ الشَّيْطَانِ يَوْمَهُ ذَلِكَ حَتَّى يُمْسِيَ وَلَمْ يَأْتِ أَحَدٌ بِأَفْضَلَ مِمَّا جَاءَ بِهِ إِلَّا أَحَدٌ عَمِلَ أَكْثَرَ مِنْ ذَلِكَ
“Barang siapa mengucapkan (dzikir):
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
dalam sehari seratus kali, maka itu sama dengan pahala sepulih budak, ditulis seratus kebaikan untuknya dan dihapus seratus dosanya. Juga menjadi pelindungnya dari syeitan pada hari itu sampai sore dan tidak ada satupun yang lebih utama dari amalannya kecuali seorang yang beamal dengan amalan yang lebih banyak dari hal itu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Ibnul Qayim berkata: ‘Dzikir adalah ibadah yang paling mudah namun paling agung dan utama, karena gerakan lisan adalah gerakan anggota tubuh yang paling ringan dan mudah. Seandainya satu anggota tubuh manusia sehari semalam bergerak seukuran gerakan lisannya, tentulah hal itu sangat menyusahkannya sekali, bahkan tidak mampu.’
6. Dzikir adalah tanaman jannah. Ini berlandaskan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam hadits Abdillah bin Mas’ud yang berbunyi:
لَقِيتُ إِبْرَاهِيمَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ بِي فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ أَقْرِئْ أُمَّتَكَ مِنِّي السَّلَامَ وَأَخْبِرْهُمْ أَنَّ الْجَنَّةَ طَيِّبَةُ التُّرْبَةِ عَذْبَةُ الْمَاءِ وَأَنَّهَا قِيعَانٌ وَأَنَّ غِرَاسَهَا سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
“Aku berjumpa dengan Ibrohim pada malam isra’ dan mi’roj, lalu ia berkata: “Wahai Muhammad, sampaikan salamku kepada umatmu dan beritahulah mereka bahwa jannah memiliki tanah yang terbaik dan air yang paling menyejukkan. Jannah itu dataran kosong (Qai’aan) dan tumbuhannya adalah (dzikir) Subhanallahi Walhamdulillah Walaa ilaha illa Allah Wallahu Akbar.” (HR. At-Tirmidzi)
7. Dzikir menjadi cahaya penerang bagi yang berdzikir di dunia, di alam kubur dan di akhirat. Meneranginya di shirota, sehingga tidaklah hati dan kuburan memiliki cahaya seperti cahaya dzikrullah. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
“Dan apakah orang yang sudah mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya.” (QS. Al-An’am:122)
8. Dzikir menjadi sebab mendapatkan shalawat dari Allah dan para malaikatNya, sebagamana firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Ahzaab:41-43)
9. Banyak berdzikir dapat menjauhkan seseorang dari kemunafikan, karena orang munafik sangat sedikit berdzikir kepada Allah, sebagiamana firman Allah Ta’ala:
“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut nama Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisaa’:142)
Shahabat Ali bin Abi Thalib ditanya tentang Khawarij: “Apakah mereka munafiq atau bukan?” Beliau menjawab: “Orang munafik tidak berdzikir kepada Allah kecuali sedikit.” Ini merupakan alamat kemunafikan, yaitu sedikit berdzikir kepada Allah. Berdasarkan hal ini maka banyak berdzikir merupakan pengaman dari kenifakan.
10. Dzikir adalah amalan yang paling baik, paling suci dan paling tinggi derajatnya, sebagaimana dinyatakan Rasulullah dalam sabdanya:
أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيكِكُمْ وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ قَالُوا بَلَى قَالَ ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى
“Inginkah kalian aku beritahu amalan kalian yang terbaik dan tersuci serta tertinggi pada derajat kalian, ia lebih baik dari berinfak emas dan perak dan lebih baik dari kalian menjumpai musuh lalu kalian memenggal kepalanya dan mereka memenggal kepala kalian?” Mereka menjawab: “ya”, lalu Rasulullah menjawab: “Dzikrullah.” (HR. At-Tirmidzi)
Dzikrullah Tidak Sebatas Dengan Lisan
Berdzikir kepada Allah tidak sebatas dengan lisan, tetapi juga dengan anggota badan. Inilah yang terpenting. Melaksanakan perintah Allah dan meninggalkan seluruh larangan-Nya merupakan dzikir yang tidak semestinya diabaikan oleh setiap muslim dan muslimah yang senantiasa berdzikir dengan lisannya.
Wallahu A’lamu bish Shawab.
MAKANAN HALAL DAN PENGARUHNYA
DALAM KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN
DALAM KEHIDUPAN KAUM MUSLIMIN
Oleh: Tengku Azhar
PERINTAH MAKAN DAN MINUM YANG HALAL DAN MENJAUHI YANG HARAM
Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan agar manusia memakan makanan yang halal dan baik.
Dia Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُون
“Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.” (QS. An-Nahl: 114)
Ada tiga kata penting yang perlu dibahas pengertiannya, yaitu makan, halal, dan baik. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, makan berarti memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya. Namun, pengertian tersebut terasa kurang tepat jika diterapkan dalam perkara makanan halal dan haram karena orang dapat menyalahgunakannya. Misalnya, makanan haram dianggap menjadi halal jika dibuat minuman atau kuah. Oleh karena itu, dalam makalah ini, makan adalah peristiwa memasukkan sesuatu ke dalam tubuh melalui mulut atau bagian tubuh lainnya (misalnya dalam infus). Dengan demikian, memasukkan cairan ke dalam mulut dalam bentuk kuah atau minuman termasuk kategori makan.
Halal berarti lawful yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi sah menurut hukum. Kebalikan dari halal adalah haram. Dalam kaitannya dengan makanan, halal dan haram adalah istilah yang menerangkan status hukum suatu makanan, yaitu sah atau tidak sah menurut hukum Allah. Artinya, suatu makanan halal (sah menurut hukum Tuhan) belum tentu boleh dimakan. Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa makanan yang boleh dimakan adalah yang halal (sah menurut hukum Allah) dan baik. Jadi, perlu ditegaskan di sini bahwa pengertian halal tidak sama dengan boleh dimakan. Yang boleh dimakan adalah yang halal dan baik.
Makanan yang haram adalah tidak halal. Dan sebaliknya, makanan yang tidak haram adalah halal. Mulai dari sini dapat dimengerti bahwa pembicaraan haram dan halal selalu bersama-sama. Artinya, pada saat kita membahas makanan haram, secara otomatis kita membahas makanan halal.
Makanan yang baik adalah yang bermanfaat bagi kehidupan orang yang mengkonsumsinya. Manfaat tersebut dapat ditinjau dari segi jasmaniah dan rohaniah. Makanan yang baik dari segi jasmaniah adalah yang tidak mengganggu kesehatan sedangkan makanan yang baik dari segi rohaniah adalah yang tidak membuat rasa permusuhan, rasa kebencian, lupa pada pengingatan Allah, atau lupa shalat.
Adapun makanan haram dan larangan untuk memakannya, telah dijelaskan Allah pada banyak ayat dalam Al-Qur`an:
“Katakanlah, ‘Aku tidak menjumpai dalam yang telah diwahyukan kepadaku yang diharamkan untuk semua orang yang akan memakannya kecuali yang mati atau darah yang mengalir keluar atau daging babi- karena sungguh, masing-masing adalah kotoran- atau ketidakpatuhan dalam bentuk penyembelihan untuk selain Allah. Kecuali jika dalam keadaan terpaksa bukan karena menginginkannya dan bukan pula karena melanggar (batasnya), maka sungguh, Tuhanmu adalah Maha Pengampun, Maha Penyayang).” (QS. An-Nahl: 145)
Juga firman-Nya:
“Dibuat haram bagimu binatang-binatang mati, darah, daging babi, dan yang dipersembahkan kepada selain Allah, dan yang dibunuh dengan cara dicekik, atau dengan suatu pukulan keras atau dengan menjatuhkan kepalanya lebih dahulu atau dengan melukainya dengan tanduk, dan yang dimakan oleh binatang liar kecuali yang kamu sembelih (sebelum kematiannya), dan bahwa yang dikurbankan di atas meja batu, dan yang kamu mencari pembagian dengan anak panah-anak panah ramalan- itu adalah ketidaktaatan yang serius. Hari ini mereka yang tidak beriman telah berputus asa untuk mengalahkan agamamu; maka janganlah takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Hari ini Aku telah menyempurnakan agamamu untukmu dan Aku telah melangkapi Kebaikan-Ku kepadamu, dan Aku telah menyetujui untukmu Islam sebagai suatu agama. Akan tetapi siapapun terpaksa karena kelaparan dengan tanpa keinginan berbuat dosa, kemudian sungguh, Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al-Maidah: 3)
PENTINGNYA MAKANAN HALAL DAN PENGARUHNYA
Memakan makanan halal serta menjauhkan diri dari yang haram sangat penting sekali. Hal ini ditunjukkan dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ( يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ) وَقَالَ (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ) ». ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ »
“Wahai manusia! Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul dalam firman-Nya: ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” (QS. Al-Mu’minun: 51)
Dan Ia berfirman, (yang artinya): “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172). Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdo’a: ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?!”
Dalam hadits di atas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwa makanan yang dimakan seseorang mempengaruhi diterima dan tidaknya amal shalih seseorang. Hal ini tentunya cukup membuat kita memberikan perhatiaan yang serius dan berhati-hati dalam permasalahan ini.
Ibnu Rajab Al-Hanbali –rahimahullah- berkata, “Hadits ini menunjukkan bahwa amal tidak diterima dan tidak suci kecuali dengan memakan makanan yang halal. Sedangkan memakan makanan yang haram dapat merusak amal perbuatan dan membuatnya tidak diterima.”
Hal ini sangat berbahaya sekali, perhatikan lagi sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang lain:
إِنَّهُ لاَ يَرْبُو لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ إِلاَّ كَانَتِ النَّارُ أَوْلَى بِه
“Siapa saja hamba yang dagingnya tumbuh dari (makanan) haram maka Neraka lebih pantas baginya.” (HR. At-Tirmidzi)
Selain itu, berikut beberapa manfaat makanan halal:
1. Bagi umat Islam, mengkonsumsi yang halal dan baik (thayib) merupakan manivestasi dari ketaatan dan ketaqwaan kepada Allah. Hal ini terkait dengan perintah Allah kepada manusia, sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur`an:
“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (thayib) dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertaqwalah kepada Allah dan kamu beriman kepada-Nya.” (QS. Al-Maidah: 88)
2. Memakan yang halal dan thayib merupakan perintah dari Allah yang harus dilaksanakan oleh setiap manusia yang beriman. Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertaqwa kepada Allah, sebagai sebuah perintah yang sangat tegas dan jelas. Perintah ini juga ditegaskan dalam ayat yang lain, seperti:
“Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah: 168)
3. Memakan yang halal dan thayib akan berbenturan dengan keinginan syetan yang menghendaki agar manusia terjerumus kepada yang haram. Oleh karena itu menghindari yang haram merupakan sebuah upaya yang harus mengalahkan godaan syetan tersebut. Mengkonsumsi makanan halal dengan dilandasi iman dan taqwa karena semata-mata mengikuti perintah Allah merupakan ibadah yang mendatangkan pahala dan memberikan kebaikan dunia dan akhirat. Sebaliknya memakan yang haram, apalagi diikuti dengan sikap membangkang terhadap ketentuan Allah adalah perbuatan maksiyat yang mendatangkan dosa dan keburukan. Sebenarnya yang diharamkan atau dilarang memakan (tidak halal) jumlahnya sedikit. Selebihnya, pada dasarnya apa yang ada di muka bumi ini adalah halal, kecuali yang dilarang secara tegas dalam Al Qur’an dan Hadits.
DANPAK MAKANAN HALAL TERHADAP KESEHATAN JASMANI DAN PERILAKU MANUSIA
Memakan makanan yang bergizi disamping halal adalah karena untuk kebaikan manusia itu sendiri. Makanan yang bergizi merupakan makanan yang dibutuhkan untuk memperoleh kualitas kesehatan yang mempunyai pengaruh terhadap kualitas akal dan rohani.
Bahan makanan menurut ilmu pengetahuan baik, belum tentu baik menurut ilmu pengetahuan, seperti otak hewan dikonsumsi oleh orang berpenyakit jantung akan membahayakan jiwanya.
Persyaratan makanan bergizi menurut ilmu gizi adalah memenuhi fungsi:
1. Memenuhi Kepuasan Jiwa
2. Memberi rasa kenyang
3. Memenuhi kebutuhan naluri dan kepuasan jiwa
4. Memenuhi kebutuhan sel-sel baru untuk kebutuhan badan
5. Menggantikn sel-sel yang rusak
6. Mengatur metabolisme
7. Mempertahankan tubuh
Kesehatan jasmani banyak tergantung pada apa yang kita makan. Anak balita membutuhkan protein, sedangkan balita membutuhkan karohidrat lebih banyak dari orang dewasa.
Jumlah dan variasi mkanan yang mempengaruhi kekuatan tubuh, daya kerja, dan daya tahan tubuh terhadap makanan yang halal dan bergizi juga dapat menjaga keseimbangan hormone. Untuk menjaga unsure dasar dalam keharmonisan kesadaran dan perasaan hati manusia serta keseimbangan mental sesuai ungkapan “Akal mental yang sehat terdapat pada tubuh yang sehat.”
Disamping alasan yang bersifat lahir (menjaga keseimbangan tubuh dan kesehatan ). Makanan halal juga memberikan dampak terhadap perilaku seseorang.
1. Menjaga keseimbangan jiwa manusia yang suci dan fitrah untuk tetap mentauhidkan Allah.
2. Menumbuhkan sikap juang yang tinggi karena menjaga kehalalan makananya.
3. Membersihkan hati dan menjaga lisan, karena daging yang tumbuh akan meningkatkan kualitas kesalehan.
4. Menumbuhkan kepercayaan diri dihadapan Allah. Karena Allah akan selalu mendengarkan do’a kita.
Terakhir, marilah kita renungkan hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut ini:
فَمَنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ يَأْكُلَ إِلاَّ طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ
“Maka barangsiapa yang bisa untuk tidak makan sesuatu kecuali yang baik-baik, maka kerjakanlah.” (HR. Al-Bukhari)
Semoga Allah senantiasa memudahkan kita dalam segala usaha dan ibadah kita. Amin. Wallahu A’lamu bish Shawab.



