Sembilan
Kewajiban Orang Tua
oleh : Ryan Arif Rahman, Lc
"Setiap kalian adalah ra’in (seorang penjaga, yang diberi amanah ) dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya. Imam a’zham (pemimpin negara) yang berkuasa atas manusia adalah ra’in dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Seorang lelaki/suami adalah ra’in bagi ahli bait (keluarga)nya dan ia akan ditanya tentang ra’iyahnya. Wanita/istri adalah ra’iyah terhadap ahli bait suaminya dan anak suaminya dan ia akan ditanya tentang mereka. Budak seseorang adalah ra’in terhadap harta tuannya dan ia akan ditanya tentang harta tersebut. Ketahuilah setiap kalian adalah ra’in dan setiap kalian akan ditanya tentang ra’iyahnya." (HR. Al-Bukhari no. 5200, dan Muslim no. 4701)
Didalam ajaran Islam, anak yang lahir ke dunia ini memiliki hak-hak dan kewajiban tertentu yang harus ditunaikan oleh kedua orang tuanya sebagai pelaksana tanggung jawab mereka kepada Allah dan untuk kelestarian keturunan. Para ulama menghitung ada banyak hak yang dimiliki anak atau ada banyak kewajiban orang tua terhadap anaknya, diantara yang terpenting adalah sebagai berikut:
Pertama: memilihkan perempuan penyusu bayi yang shalihah untuk anak, apabila ibunya sudah tidak ada. Masa penyusuan yang paling utama adalah dua tahun penuh. Berdasarkan firman Allah swt:
وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan pernyusuan.” (al-baqarah: 233)
Banyak penelitian ilmiyah dan penelitian medis yang membuktikan bahwa masa dua tahun pertama sangat penting bagi pertumbuhan anak secara alami dan sehat, baik dari sisi kesehatan maupun kejiwaaan. Ibnu sina, seorang dokter kenamaan, menegaskan urgensi penyusuan alami dalam pernyataannya,” bahwasanya seorang bayi sebisa mungkin harus menyusu dari air susu ibunya. Sebab, dalam tindakannya mengulum puting susu ibu terkandung manfaat sangat besar dalam menolak segala sesuatu yang rentan membahayakan dirinya.
Kedua: hendaknya ibu mengasuh anaknya khusus pada masa buaian dan masa awal anak-anak. Jangan sampai ibu menyerahkan anak kepada pembantu dan pengasuh. Sebab, dalam aktivitas menyusui, selain ibu menyusukan air susu kepada anak, ia juga memberikan cinta dan kasih sayang yang tidak dimiliki oleh orang lain. Berdasarkan hal inilah dapat difahami hikmah Allah ketika Dia mengembalikan nabi Musa kepada ibunya agar sang ibu menjadi tenang dan tidak bersedih. Allah swt berfirman,
فَرَدَدْنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلاَتَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ اللهِ حَقٌّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لاَيَعْلَمُونَ
“Maka Kami kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (QS. Al qashas:13)
Ketiga: hendaknya orang tua mengajarkan kitab Allah serta ilmu ilmu agama dan dunia yang wajib dikuasainya. Diriwayatkan dari Ali ra bahwa Nabi saw bersabda,”
أدبوا أولادكم على ثلاث خصال: حب نبيكم وحب آل بيته وتلاوة القرآن فإن حملة القرآن في ظل عرش الله يوم لا ظل إلا ظله مع أنبيائه وأصفيائه والوالدان اللذان يهتمان بتعليم أولادهما القرآن لهما الثواب العظيم
“ ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya dan membaca al-qur’an. Sebab, para pengusung al-qur’an berada di bawah naungan arsy Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naunganNya, bersama para nabi dan orang-orang pilihanNya. Dan, kedua orang tua yang memperhatikan pengajaran al-qur’an kepada anak-anak mereka, keduanya mendapatkan pahala yang besar.”
Kaum muslimin generasi awal memahami betul urgensi pengajaran al qur’an, maka mereka berlomba dan bersaing dalam aktivitas ini. Imam Syafi’I berkata, aku telah hafal al qur’an ketika berusia tujuh tahun dan hafal kitab Al-Muwattha’ ketika berusia sepuluh tahun.” Sahl At-Tusturi berkata, ‘aku mencurahkan perhatian kepada al qur’an dan mempelajari al qur’an hingga menghafalnya ketika masih berusia enam atau tujuh tahun.”
Keempat: memberi nafakah hanya dengan harta yang baik dan dari mata pencaharian yang halal. Berdasarkan sabda Rasul saw: “ kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang empat perkara; tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang ilmunya apa yang ia kerjakan dengannnya, tentang hartanya dari mana ia mendapatkan dan untuk apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya untuk apa ia pergunakan.” (H.R. Turmudzi)
Dan makanan yang diberikan kepada anak -anak hendaknya Makanan yang halal. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw kepada Sa’ad Bin Abi Waqhas, “baguskanlah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.” Karenanya, anak dibiasakan untuk mengkonsumsi makanan yang halal, mencari penghasilan yang halal dan membelanjakan kepada yang halal, sehingga ia tumbuh dalam sikap sederhana dan pertengahan, terjauh dari sikap boros dan pelit.
Kelima: mengajarkan anak sholat dan membiasakan untuk mengerjakannya. Berdasarkan firman Allah swt,
وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها لانسئلك رزقا نحن نرزقك والعاقبة للتقوى
“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rizki kepadamu, Kamilah yang memberi rizki kepadamu. Dan akibat(yang baik) itu adalah bagi orang yang bertaqwa.” (QS. 20:132)
Di dalam hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud, Rasulullah saw bersabda, “ perintahkanlah anak anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah agar mereka menunaikannya ketika berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur mereka.”
Keenam: memilihkan teman yang baik bagi anak-anak. Sebab, seorang teman laksana mesin penarik, dan seorang sahabat cenderung meneladani sahabatnya. islam sendiri telah menganjurkan agar berteman dengan orang-orang shalih dan baik, serta memperingatkan untuk tidak berteman dengan orang-orang yang buruk akhlaknya. Di dalam hadist shahih disebutkan, “ janganlah engkau berteman kecuali dengan seorang mukmin, dan jangan ada yang memakan makananmu kecuali orang bertaqwa.”
Memilihkan teman yang baik untuk anak berguna melindungi dari terjatuh ke dalam penyimpangan dan menjauhkan dirinya dari jalan licin keburukan serta lubang lubang kenistaan.
Ketujuh: memberi nafkah kepada anak hingga usia dewasa. Diriwayatkan dari Ummu Salamah, ia berkata, aku bertanya, wahai Rasulullah apakah aku mendapatkan pahala bila aku memberi nafkah kepada anak-anak Abu Salamah, sedangkan aku tidak membiarkan mereka begini dan begini-yakni bertebaran untuk mencari makan begini dan begini-karena mereka itu juga anak-anakku? Beliau menjawab, ya, kamu mendapatkan pahala atas apa yang kamu nafkahkan.” (H.R.Bukhori)
Sangat jelas manfaat pendidikan yang terkandung dalam tindakan memberi nafkah, sebab ini berarti mempersiapkan anak dengan baik untuk mermfokuskan diri dengan pendiidikan pada usia dini.
Kedelapan: memberikan pengajaran. Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dari kakek Ayub Bin Musa Al Quraisy dari Nabi saw bersabda, “ tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.”
Thabrani meriwayatkan dari Jabir Bin Samurah bahwa Rasulullah saw bersabda, “ bahwa salah seorang di antara kalian mendidik anaknya, itu lebih baik baginya dari pada menyedekahkan setengah sha’ setiap hari kepada orang-orang miskin.”
Kesembilan: kedua orang tua mencarikan istri yang shalihah bagi anak laki-lakinya dan suami yang shalih bagi anak perempuannya, kemudian membiayai acara pernikahan anak jika keduanya bercukupan.
Demikian uraian singkat tentang beberapa kewajiban pokok bagi orang tua yang musti ditunaikan kepada anak, mudah-mudahan dengan penjelasan yang sederhana ini saudara pembaca dapat menunaikan kewajiban dan amanah tersebut dengan baik dan totalitas. Amin..
MASUK SURGA KARENA SETIA
PADA suatu hari, Fathimah Radhiyallahu ‘anha (RA) bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah perempuan yang akan masuk surga pertama kali. Rasulullah menjawab, ”Seorang wanita yang bernama Mutiah.”
Tentu saja Fathimah terkejut. Ternyata bukan dirinya, seperti yang dibayangkannya. Mengapa orang lain, padahal dia adalah putri Nabi?
Timbullah keinginan untuk mengetahui siapakah Mutiah itu. Apa gerangan yang diperbuatnya sampai mendapat kehormatan yang begitu tinggi?
Sesudah meminta izin kepada suaminya, Ali bin Abi Thalib RA, Fathimah berangkat mencari rumah Mutiah. Putranya yang masih kecil, Hasan, menangis ingin ikut. Maka digandengnya Hasan.
Tiba di depan rumah yang dituju, Fathimah mengetuk pintu, “Assalaamu’alaikum…!”
“Wa’alaikumsalaam. Siapa di luar?” terdengar jawaban dari dalam rumah. Suaranya cerah dan merdu.
“Saya Fathimah, putri Rasulullah.”
“Alhamdulillah, alangkah bahagia saya hari ini. Fathimah sudi berkunjung ke gubug saya,” terdengar kembali jawaban dari dalam, terdengar lebih gembira, dan makin mendekat ke pintu.
“Sendirian Fathimah?” tanya Mutiah.
“Aku ditemani Hasan.”
“Aduh, maaf ya,” suara itu seperti menyesal. “Saya belum mendapat izin untuk menemui tamu laki-laki.”
“Tapi Hasan masih kecil.”
“Meski kecil, Hasan laki-laki. Besok saja datang lagi, saya akan minta izin kepada suami saya.”
Sambil menggeleng-nggelengkan kepala, Fathimah akhirnya minta permisi.
Besoknya ia datang lagi. Kali ini Husain, adik Hasan, diajak juga. Bertiga dengan anak-anak yang masih kecil itu, Fathimah mendatangi rumah Mutiah.
Setelah memberi salam dan dijawab gembira, Mutiah bertanya dari dalam, “Jadi dengan Hasan? Suami saya sudah memberi izin.”
“Ya, dengan Hasan dan Husain.”
“Ha! Mengapa tidak bilang dari kemarin? Yang dapat izin cuma Hasan, Husain belum. Terpaksa saya tidak bisa menerima juga.”
Lagi-lagi Fathimah gagal bertemu.
Esok harinya barulah mereka disambut baik-baik oleh Mutiah. Keadaan rumah itu sangat sederhana. Tidak ada satu pun perabot mewah, namun semuanya teratur rapi.
Ada tempat tidur yang terbuat dari kayu kasar namun tampak bersih. Alasnya putih, agaknya baru dicuci. Bau di dalam sangat segar. Membuat orang betah tinggal berlama-lama.
Fathimah kagum melihat suasana yang sangat menyenangkan itu. Hasan dan Husain pun yang biasanya kurang begitu senang berada di rumah orang, kali ini tampak asyik bermain-main.
“Maaf, saya tidak bisa menemani Fathimah duduk, sebab saya sedang menyiapkan makan buat suami saya,“ kata Muthiah sambil sibuk di dapur.
Mendekati tengah hari, masakan itu sudah rampung. Mutiah menatanya di atas nampan. Juga, menaruh cambuk.
Fathimah bertanya, ”Suamimu kerja di mana?”
“Di ladang.”
“Penggembala?”
“Bukan. Bercocok tanam.”
“Tapi mengapa kau bawakan cambuk, untuk apa?”
“Oh, itu,” Mutiah tersenyum. “Cambuk itu saya sediakan untuk keperluan lain.”
Fathimah penasaran.
“Maksud saya begini. Kalau suami saya sedang makan, maka akan saya tanyakan apakah cocok atau tidak. Kalau dia bilang cocok, tak akan terjadi apa-apa. Tetapi kalau bilang tidak cocok, cambuk itu akan saya berikan kepadanya agar punggung saya dicambuk sebab tidak bisa menyenangkan hati suami.”
“Atas kehendak suamimukah kau bawa cambuk itu?”
“Oh, sama sekali tidak. Suami saya adalah orang yang lembut dan pengasih. Ini semua semata-mata kehendak saya agar jangan sampai saya menjadi istri yang durhaka kepada suami.”
Usai mendengar penjelasan ini, Fathimah minta permisi. Dalam hati ia berkata, pantas ia akan masuk surga buat pertama kali. Baktinya kepada suami begitu besar dan tulus.
Kesetiaan yang Bersejarah
Bukan berarti Fathimah tidak termasuk tipikal wanita yang setia terhadap suaminya. Kesetiaan dan ketaatan buah hati Rasulullah ini kepada suami tidak diragukan lagi. Kehidupan rumah tangganya serba kekurangan, nemun kesetiaannya yang didasari keimanan dan perjuangan syiar Islam tidak luntur walau sedebu. Darah kesetiaan nampaknya mengalir deras dari ibundanya, Khadijah RA, Muslimah pertama yang mempelopori kecintaan dan kesetiaan kepada suami.
Mari kita kenang kembali peristiwa yang sungguh mendebarkan jantung Rasulullah Shalallaahu 'Alaihi Wasallam (صلى الله عليه و سلم). Peristiwa itu ialah penerimaan wahyu yang pertama di Gua Hira.
Sekembalinya ke rumah, Nabi berkata kepada istrinya yang tercinta, “Aku merasa khawatir terhadap diriku.”
Saat itu Khadijah dengan segala kelembutannya berkata, “Wahai Kakanda, demi Allah, Tuhan tidak akan mengecewakanmu karena sesungguhnya Kakanda adalah orang yang selalu memupuk dan menjaga kekeluargaan, serta sanggup memikul tanggung jawab.
Kakanda dikenali sebagai penolong kaum yang sengsara, sebagai tuan rumah yang menyenangkan tamu, ringan tangan dalam memberi pertolongan, senantiasa berbicara benar dan setia kepada amanah,” tuturnya.
Apakah ada wanita lain yang dapat menyambut sedemikian baik peristiwa bersejarah yang berlaku di Gua Hira seperti yang dilakukan oleh Khadijah? Betapa besarnya kepercayaan (kesetiaan) dan kasih sayang seorang istri kepada suami yang dilandasi iman yang teguh. Sedikit pun Khadijah tidak berasa ragu-ragu di dalam hatinya.
Jika ada wanita yang berkurang kadar kesetiaannya karena alasan penghasilan dan kekayaan, maka Khadijah merupakan wanita kaya dan terkenal. Beliau wanita yang hidup mewah dengan hartanya sendiri. Namun semua itu dengan rela dikorbankannya untuk memudahkan tugas-tugas suaminya. Baginya, apa yang dimiliki tidak lebih mulia daripada mendukung misi suci yang diemban suaminya. Sikap inilah yang menjadi sumber kekuatan rumah tangga Rasulullah sepanjang kehidupan mereka bersama.
Khadijah begitu setia menyertai Nabi dalam setiap peristiwa suka dan duka. Setiap kali suaminya ke Gua Hira, beliau pasti menyiapkan segenap perbekalan dan keperluan. Seandainya Rasulullah agak lama tidak pulang, Khadijah akan mengunjungi untuk memastikan keselamatan suaminya tercinta.
Ketika Rasulullah khusyu’ bermunajat, Khadijah tinggal di rumah dengan sabar sehingga suaminya pulang. Apabila Nabi mengadu kesusahan serta berada dalam keadaan gelisah, istri teladan ini mencoba sedapat mungkin menenteramkan dan menghiburnya sehingga suaminya benar-benar merasakan ketenangan.
Setiap ancaman dan penganiayaan dihadapi bersama. Malah dalam banyak kegiatan peribadatan Rasulullah, Khadijah pasti bersama dan membantu, misalnya menyediakan air untuk mengambil wudhu.
Kecintaan dan kesetiaan itu bukan sekadar kepada suami, namun jelas berlandaskan keyakinan yang kuat tentang keesaan Allah. Segala pengorbanan untuk suaminya adalah ikhlas untuk mencari keridhaan Allah.
Allah Maha Adil dalam memberi rahmat-Nya. Setiap amalan yang dilaksanakan makhluk-Nya dengan penuh keikhlasan, pasti mendapat ganjaran yang berkekalan.
مَنْ عَمِلَ صَالِحاً مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُواْ يَعْمَلُونَ
Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl: 97).
Janji Allah itu pasti benar. Wujud kesetiaan yang telah ditunjukkan oleh Mutiah, Fathimah, dan juga Khadijah bukan sekadar menghasilkan kekuatan yang mendorong kegigihan dan perjuangan suaminya, namun juga membawa barakah yang besar kepada rumah tangga mereka. Anak-anak yang lahir dari wanita-wanita seperti ini adalah anak-anak yang shalih yang mendorong para orangtua menuju surga.
Kalaulah di zaman sekarang ini ada anggapan bahwa kesetiaan di atas merupakan lambang perbudakan pria kepada wanita, jelas itu tidak benar. Justru sebaliknya, itu merupakan cermin cinta, ketulusan, dan pengorbanan kaum wanita yang harus dihargai dengan perilaku yang sama dalam rangka mencari ridha-Nya.*( Hidayatullah.com dengan sedikit perubahan)
Menurut Pandangan Ulama Salaf
Prolog
Jumlah umur yang dapat digunakan manusia guna memperoleh kebaikan tidak mencapai dua puluh tahun dari seluruh umurnya. Jika salah seorang berumur enam puluh tahun, maka sepertiga umur digunakan untuk tidur – dihitung delapan jam tidur perhari, maka ia tidur sepertiga dari harinya- dan lima belas tahun berlalu dalam masa kanak-kanak, yakni waktu sebelum dewasa (disaat belum terkena kewajiban), sehingga sisa umurnya berkisar dua puluh lima tahun, dua tahun digunakan untuk makan tiga kali dalam sehari, membuang hajat, serta perbuatan manusiawi lainnya - memakan waktu dua jam dalam sehari- maka tersisa umurnya sepertiga dari umur yang hanya dua puluh tiga tahun, yakni waktu yang seharusnya digunakan untuk menyibukkan diri meraih kebaikan sebanyak mungkin. Sepertiga umur tersebut terkadang tidak digunakan dengan baik hingga menyebabkan manusia merugi.
Data empiris tersebut di atas mengingatkan kita untuk berusaha mengamalkan amalan yang dapat memperpanjang usia kita. Dalam makalah ini -insya Allah- akan membahas pandangan para ulama perihal memperpanjang usia dengan amalan shalih.
Makna Memperpanjang Umur
Disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Anas bin Malik a, Rasulullah n bersabda, “Barang siapa menyukai dirinya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” (Imam Al Bukhari Dalam Pembahasan Adab Bab Man Basatha Lahu Firrizki Bi Shilaturrahmi : 10/429)
Para Ulama berbeda pendapat dalam menjelaskan makna ‘memperpanjang’ yang disebutkan dalam hadits di atas, dan akan penulis ketengahkan pendapat ulama tersebut. penulis menukil pendapat Imam an Nawawi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan al Hafidz Ibnu Hajar. Adapun pendapat mereka sebagai berikut:
Imam Nawawi berkata, maksud al Atsaru yakni ajal, karena ajal ialah suatu hal yang mengiringi kehidupan. Sedangkan bastur rizki adalah melapangkan rizki dan memperbanyak, dan disebutkan maknanya yakni ‘keberkahan’. Adapun penundaan ajal menjadi sebuah pertanyaan yang banyak diperdebatkan, karena ajal dan rizki keduanya ketentuan Allah yang tidak bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana firman Allah l “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. al ‘araf: 34)
Para ulama menjelaskan hal penundaan ajal ini dengan penjelasan yang masuk akal, diantaranya; Pertama: penambah keberkahan dalam umurnya, pemberian taufiq Allah dalam ketaatan, menjadikan waktunya termanfaatkan dengan baik (tidak terbuang) dan berlalu dengan sia-sia. Kedua: penundaan ajal yang dinisbatkan kepada pengetahuan Malaikat dan apa yang tercatat dalam Lauhil Mahfudz bahwa umurnya sampai pada enam puluh tahun, kecuali jika ia menyambung tali silaturrahim akan bertambah baginya empat puluh tahun. Dan Allah mengetahui apa yang akan terjadi bagi seorang hamba, sebagaimana firmanNya, “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh).” (QS. ar Ra’du:39)
Ayat ini menjelaskan bahwa pengetahuan Allah atas apa yang Ia tentukan tidak mengalami perubahan. Dan menjelaskan hal yang terjadi pada makhlukNya seperti penambahan umur berdasarkan ketentuan Allah semata. Dan inilah maksud dari hadits yang kita bahas kali ini. Ketiga: kelestarian seolah-olah tidak mengalami kematian. Ini adalah pendapat al Qadhi dan pendapat ini lemah bahkan batil adanya. Wallahu ‘alam. (Shahih Muslim Bi Syarh An Nawawi Bab Silaturrahmi Wa Tahrimu Qati’atiha : 16/114)
Imam Ibnu Taimiyah berkata, adapun maksud firman Allah “Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuz).Sesungguhnya yang demikian itu bagi Allah adalah mudah.” (QS. Faathir:11) Sudah ada kejelasan di dalam ayat tersebut yang berarti tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula dikurangi umurnya. Maksud pemanjangan dan pengurangan umur dalam hal ini mengandung dua makna, pertama; mengenai hal yang memperpanjang umur dan hal yang memperpendek umur , maka pengurangan umur, dimana umurnya pendek jika dibandingkan umur lainnya, seperti itu pula umur panjang melebihi umur lainnya. Kedua; terkadang makna berkurangnya umur yakni berkurangnya umur dari yang telah ditentukan, sebagaimana umur bertambah dari umur yang telah ditentukan pula. Di dalam Shahihain disebutkan, Nabi n bersabda, “Barang siapa yang menyukai dririnya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” Sebagian orang berpendapat dalam hadits tersebut mengenai keberkahan dalam umur ialah beramal dalam waktu yang singkat, dan amalan tersebut secara rasio dapat dikerjakan oleh seorang yang berumur panjang. Karena rizki dan ajal telah ditentukan. Dan disebutkan mengenai keberkahan, yakni bertambahnya amal serta manfaat yang diperoleh. Inipun termasuk taqdir yang ditentukan dan mencakup segala hal.
Penjelasan jawaban yang benar dalam masalah ini: Sesungguhnya Allah menentukan ajal seorang hamba dalam lembaran catatan Malaikat, jika seorang hamba tersebut menyambung silaturrahim maka akan bertambah umur yang telah ditentukan itu, dan jika ia beramal dengan suatu amalan yang dapat mengurangi umurnya, maka akan berkurang pula umur yang telah ditentukan . Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits riwayat Imam at Turmudzi dan juga selain beliau , Nabi n bersabda, “ Ketika Adam meminta kepada Allah untuk menampakkan seorang nabi dari keturunannya, kemudian Allah tampakkan untuknya sosok laki-laki yang bercahaya, Adam berkata, “Ya Rabb, siapa ini ?” Allah menjawab, “dia anakmu Daud”. Adam berkata, “berapa umurnya?” Allah menjawab, “empat puluh tahun”. Adam berkata, “berapa umurku?” Allah menjawab, “seribu tahun”. Adam berkata, “aku berikan padanya enam puluh tahun dari umurku”. Kemudian dicatatlah ketentuan tersebut dan disaksikan para Malaikat. Ketika kematian akan menjemput Adam, iapun berkata, “aku masih punya umur enam puluh tahun”. Para malaikat berkata, “sisa umur itu engkau berikan kepada anakmu Daud”, kemudian Adam mengingkarinya sehingga Malaikat mengeluarkan catatan tersebut. Nabi n bersabda, “ Adam lupa, maka lupa pula anak keturunannya, dan Adam membangkang, maka membangkang pula anak keturunannya.” (al-Hakim:2/325)
Dan disebutkan dalam sebuah riwayat bahwa disempurnakan umur Adam dan Daud sesuai umur keduanya. Awal Umur Daud yang ditentukan adalah empat puluh tahun, kemudian ditambah baginya enam puluh tahun.
Dan disebutkan dalam sebuah riwayat, Umar berdo’a “ Ya Allah, jika Engkau tentukan aku menjadi orang yang menderita, maka ubahlah dan tentukan aku menjadi orang yang bahagia, karena Engkau adalah Dzat yang dapat merubah dan menentukan.”
Allah swt adalah Dzat Yang Maha mengetahui sesuatu apa yang terjadi dan mengetahui sesuatu yang belum terjadi serta mengetahui pula akan kejadiannya. Dan Allah mengetahui apa yang ia tentukan dan sesuatu yang ia tambah bagi setiap hamba setelah ketentuan itu. Sedangkan Malaikat tidak mengetahui akan ketentuan Allah tersebut kecuali apa yang telah Allah sampaikan kepada mereka, dan Allah mengetahui sesuatu sebelum terjadi dan setelah terjadi.
Olah sebab itu Ulama berpendapat bahwa penghapusan dan penetapan hanya berada pada catatan Malaikat saja, sedangkan Ilmu Allah l tidak menyelisihi dan tidak nampak bagi Malaikat yang belum Allah sampaikan kepada mereka. Maka dalam Ilmu Allah sebenarnya tidak ada penghapusan dan penetapan terhadap jatah umur manusia.
Ibnu Taimiyah berkata dalam pembahasan lain, “Ada dua jenis ajal, yakni ajal yang mutlak dan hanya Allah yang tahu, dan ajal yang terikat. Pembagian inilah yang menjelaskan makna sabda Nabi n ,’Barang siapa menyukai dirinya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.’ Allah memerintahkan Malaikat untuk menulis ajal seorang hamba dengan berfirman, ’Jika seorang hamba menjalin hubungan silaturrahim maka tambahlah umurnya’. Sedangkan Malaikat sama sekali tidak tahu pertambahannya dan apa saja yang akan terjadi pada seorang hamba, semuanya ada pada pengetahuan Allah saja. Jika ketetapan Allah tersebut memang berlaku baginya, maka tidak dapat diakhirkan dan dipercepat.
Ibnu Hajar berkata, Ibnu Attin mengutarakan secara dhahir makna hadits tersebut bertentangan dengan firman Allah “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya. (QS.al ‘Araf: 7/34)
Adapun jawaban untuk mengkomparasikan antara hadits dan ayat tersebut ditinjau dari dua segi berikut ini;
Pertama: penambahan umur ini sebagai arti dari keberkahan umur yang digunakannya dalam ketaatan, dan perpanjangan waktu hidupnya dikerjakan demi mendapat manfaat di negri akhirat, dan memelihara waktunya dari perbuatan yang sia-sia. Sebagai contoh hal ini telah disebutkan Nabi, beliau memberitakan bahwa umur umatnya jika dibandingkan dengan umur umat-umat sebelumnya sangatlah pendek, sehingga Allah memberikan keutamaan malam Lailatul Qadar, juga keutamaan pada silaturrahim sebagai jalan mendapatkan taufiq untuk berbuat ta’at dan terpelihara dari kemaksiatan. Dan termasuk dari taufiq yang Allah berikan adalah ilmu yang bermanfaat bagi orang sepeninggalnya, shadaqah jariyah dan anak keturunan yang shalih.
Kedua: penambahan umur secara hakiki. Sedangkan makna yang terkandung pada ayat bahwa ajal tidak dapat diundur dan dimajukan, dinisbatkan pada pengetahuan Allah l. Allah menentukan umur seseorang menjadi seratus tahun contohnya jika ia menjalin silaturrahim, dan menentukan enam puluh tahun jika memutusnya. Dan Allah Maha Mengetahui apakah seseorang menyambung silaturrahim atau memutusnya. Maka pengetahuan Allah tentang umur seseorang tidak dapat dimajukan dan diakhirkan meskipun hanya sedetik. Sedangkan pengetahuan umur yang diketahui Malaikat bisa bertambah dan berkurang. Hal ini dikuatkan dengan firman Allah l “Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan disisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh). QS. ar Ra’du:13/39)
Maka penghapusan dan penetapan hanya terjadi pada pengetahuan Malaikat, sedangkan pengetahuan Allah l tidak ada penghapusan sedikitpun. Hal ini disebut dengan ketentuan Allah yang diputuskan ( Qadha Mubram ) sedangkan pengetahuan Malaikat disebut dengan ketentuan yang bersifat sementara (Qadha Mu’allaq).
Qadha Mubram lebih tepat digunakan untuk menjelaskan hadits panjang umur tersebut, karena umur mengiringi keadaan suatu hal, jika diakhirkan maka mengandung hal yang baik. At-Thayyibi berkata, “Lebih tepat untuk memaknai maksud hadits tersebut adalah Qadha mubram”.
Diantara ulama yang menjelaskan pembahasan ini adalah Syaikh Nashiruddin Al-bany dan Syaikh Muhammad al-Utsaimin, berikut nukilan penjelasannya;
Al ‘Allamah Nashiruddin Albani dalam menjelaskan hadits Nabi n “Barang siapa menyukai dirinya mendapat kelapangan rizki dan umur yang panjang, hendaklah ia menyambung hubungan silaturrahim.” beliau berkata, “maksud hadits tersebut berdasarkan dzahirnya Allah menentukan dalam kebijaksanaanNya bahwa dengan menjalin silaturrahim menjadi sebab syar’i yang dapat memperpanjang umur, begitupun akhlak yang baik seperti akhlak kepada tetangga yang banyak disebutkan dalam hadits shahih, dan hal ini tidak bertentangan dengan ketentuan bahwa ajal ialah suatu hal yang telah ditentukan Allah, karena ketentuan ajal ditinjau dari segi penutup kehidupan baik bahagia atau binasa. Kedua keadaan tersebut telah ditentukan bagi setiap manusia, dan ketentuan Allah pula kebahagiaan dan kebinasaan itu tergantung dari jalan yang ia tempuh, sebagaimana sabda Nabi n, “Beramallah kalian, karena sesuatu mudah sesuai dengan ketentuanNya, jika seseorang ditentukan menjadi orang yang bahagia, maka ia akan dimudahkan untuk berbuat amalan yang dilakukan orang yang bahagia, dan siapa yang tercatat menjadi orang yang binasa, maka ia akan dimudahkan untuk mengerjakan perbuatan orang yang binasa.” Kemudian Nabi membaca firman Allah, “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertaqwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (jannah), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. (QS. 92:5-10)
Hal ini sebagaimana iman yang bartambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan perbuatan maksiat, perubahan tersebut tidak menyelisihi apa yang telah tercatat dalam Lauh Mahfudz. Begitu pula dengan umur bisa bertambah dan berkurang tergantung sebab yang melatar belakanginya, dan hal ini tidak bertentangan dengan apa yang telah ditetapkan dalam Lauh mahfudz. Maka perhatikanlah masalah ini, karena hal ini penting menyelesaikan permasalahan yang beragam. Oleh sebab itu disebutkan dalam banyak hadits shahih dan atsar mauquf menjelaskan do’a agar dipanjangkan umur.
Sedangkan Syaikh Muhammad al Utsaimin berkata, “Hadits tersebut tidak menjelaskan bahwa manusia mempunyai dua umur; umur jika menyambung silaturrahim dan umur jika memutus silaturrahim. Akan tetapi umur manusia hanya satu, yakni umur yang telah ditentukan Allah. Manusia yang telah Allah tentukan dapat menjalin silaturrahim niscaya manusia itu akan menjalin silaturrahim, sedangkan orang yang telah Allah tentukan memutus tali silaturrahim niscaya ia akan memutus tali silaturrahim. Rasulullah n ingin menganjurkan umatnya mengerjakan amalan baik, sebagaimana anda mengatakan kepada orang yang ingin mempunyai anak untuk segera menikah, dan pernikahan telah ditentukan, begitu pula anak. Jika Allah menghendaki anda mempunyai anak, maka Allah menghendaki anda menikah, meskipun sebenarnya pernikahan dan anak dua hal yang telah ditentukan Allah. Begitu pula dengan urusan rizki dan menjalin tali silaturrahim dua hal yang telah ditentukan, namun anda tidak mengetahui hal ini. Maka dari sinilah Nabi n menganjurkan dan menjelaskan jika anda menjalin silaturrahim niscaya Allah melapangkan rizki dan memanjangkan umur anda, meskipun kedua hal tersebut Allah tentukan untuk anda. Ketika menjalin silaturrahim menjadi amalan yang harus dilaksanakan manusia, maka Nabi n menganjurkan hal tersebut dengan menjelaskan jika manusia ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah menjalin silaturrahim, meskipun sebenarnya menjalin silaturrahim perbuatan yang telah ditentukan Allah l. Kemudian yang harus diketahui pula bahwa perpanjangan umur dan pelapangan rizki suatu hal yang nisbi ( yang relatif berdasar kehendak Allah ). Dan kita pun menemukan sebagian orang yang menjalin silaturrahim mendapatkan kelapangan rizki akan tetapi umurnya tetap saja pendek, maka kita katakan jika orang yang menjalin silaturrahim saja umurnya masih pendek terlebih orang yang tidak menjalin silaturrahim umurnya akan semakin pendek. Hanya Allah yang metentukan seseorang akan menjalin silaturrahim dan umurnya akan berakhir dalam batas ketentuannya.
Dari penjelasan Ulama di atas, maka kita dapatkan makna perpanjangan umur dalam hadits tersebut berkisar antara tiga makna berikut:
Pertama: keberkahan pada umur,
Kedua: perpanjangan umur secara hakiki,
Ketiga: reputasi baik yang dikenang setelah kematiannya.
Penulis tidak menemukan seorang ulama pun yang menerangkan makna perpanjangan tersebut dengan makna yang ketiga di atas, jarang sekali ulama yang mengulasnya. Imam an Nawawi menukil makna tersebut dari al Qadhi al Iyadh namun beliau melemahkannya. Imam Ibnu Hajar menukilnya dari Ibnu Attin, kemudian at Thayyibi membenarkannya. Namun tak ada salahnya jika makna tersebut dijadikan salah satu makna dari perpanjangan umur yang dimaksud dalam hadits. Dan keutamaan Allah hanya didapatkan oleh orang-orang yang dikehendaki Allah, dan Ia adalah Dzat Yang Maha memiliki keutamaan yang agung. Sedangkan makna pertama dan kedua benar sesuai dengan maksud hadits. Karena hadits-hadits perihal berlipatnya pahala amal termaktub dalam hadist.
Kesimpulan yang harus kita ambil dari perbedaan makna memperpanjang umur dalam hadits tersebut baik secara hakiki atau kiasan, hendaknya tujuan memperpanjang umur demi menginvestasikan waktu agar dapat meraih kebaikan sebanyak mungkin. Sedangkan siapa saja yang umurnya panjang namun amalnya jelek adalah sejelek-jeleknya manusia.
Doktor Yusuf al Qardhawi mengatakan sebenarnya umur manusia yang hakiki bukanlah jumlah tahun yang ia lalui dari hari kelahiran hingga wafatnya, akan tetapi umur yang sebenarnya ialah apa yang tercatat dalam timbangan amal di sisi Allah dari amal shalih yang dilakukannya yang penuh dengan kebaikan. Dan tidak mengherankan jika kita dapati manusia berumur lebih dari seratus akan tetapi tidak diimbangi dengan ketaqwaan kepada Allah dan memberi manfaat kepada sesama, maka (umur yang ia lalui) tidak bernilai sama sekali bahkan berakibat lebih buruk dari lagi, Namun ada sebagian orang meninggal di waktu sangat muda tapi timbangan amalnya penuh dengan kebaikan.
Seorang ulama berkata, “Berapa banyak umur yang panjang masanya namun sedikit muatan amalnya, dan berapa banyak umur yang pendek masanya namun banyak muatan amalnya. Barang siapa yang diberikan keberkahan umur, ia akan mendapatkan karunia Allah dalam waktu yang relatif singkat”.
Referensi
Kaifa Tuthilu Umruka Al Intaji, Dr. Muhamad Bin Ibrahim An –Nu’aim
Al Majmu’ Al Utsaimin Min Fatawa Fadilatus Syaikh Muhammad Bin Shalih Al Utsaimin
Shahih Al Adab Al Mufrad Lil Imam Bukhari, Karangan Nashiruddin Albany
Fathul Bary Kitab Al Adab Bab Man Basatha Lahu Fir Rizqi Bi Silaturrahmi
Oleh: Tengku Azhar, Lc.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُون
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)
Tafsir Ayat
Al-Mufassir Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata: “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab, dan lihatlah amal shalih apa yang telah kalian tabung untuk diri kalian sebagai bekal di hari kebangkitan dan hari diperhadapkannya kalian kepada Rabb kalian.”
Jangan sampai kalian menyesal, ketika kematian menjemput kalian sama sekali tidak memiliki bekal, dan kemudian kalian meminta penangguhan kepada Allah. Padahal itu mustahil akan terjadi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ . وَأَنْفِقُوا مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوْلَا أَخَّرْتَنِي إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُنْ مِنَ الصَّالِحِينَ . وَلَنْ يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: ‘Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 9-11)
Imam Syihabuddin Mahmud bin Abdullah Al-Husaini Al-Alusi dalam Kitab Tafsirnya ‘Ruhul Ma’ani’ berkata, “Setiap perbuatan manusia yang telah dilakukan pada masa lalu, mencerminkan perbuatan dia untuk persiapan di akhirat kelak. Karena hidup di dunia bagaikan satu hari dan keesokan harinya merupakan hari akhirat, merugilah manusia yang tidak mengetahui tujuan utamanya.”
Hidup di dunia kita mesti memiliki bekal sekalipun jumlahnya sedikit. Terlebih lagi kelak di akhirat. Kehidupan akhirat tidaklah sama dengan dunia. Di dunia kita masih bisa mendapatkan pertolongan dan bantuan dari orang lain jika kita kekurangan bekal dan penghidupan. Namun kelak di akhirat tidak akan ada orang yang bisa menolong kita sedikitpun, sekalipun itu orang terdekat kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَإِذَا جَاءَتِ الصَّاخَّةُ . يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيه
“Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua). Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya. Dari ibu dan bapaknya. Dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.” (QS. Abasa: 33-37)
Pada ayat di atas (QS. Al-Hasyr ayat 18), Allah Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kaum mukminin agar tidak nekat mati. Karena kematian bukanlah akhir dari segala permasalahan yang dihadapi oleh manusia. Mati adalah pindah dari kehidupan duniawi menuju kehidupan ukhrawi.
Kematian merupakan kelanjutan kehidupan dunia ini. Di akhirat, manusia kelak akan menerima dan mendapatkan ganjaran yang sesuai dan setimpal atas apa yang telah mereka perbuat di dunia ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ . وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az-Zilzalah: 7-8)
Dan firman Allah:
وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا
“Dan diletakkanlah Kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: ‘Aduhai celaka kami, Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak Menganiaya seorang juapun.” (QS. Al-Kahfi: 49)
Si Cerdas Yang Berbekal
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ
“Orang yang cerdas adalah mereka yang mampu menahan hawa nafsunya dan beramal (berbekal) untuk kehidupan setelah mati. Orang yang bodoh adalah mereka yang mengumbar hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah (diampuni dosa-dosanya).” (HR. At-Tirmidzi)
Inilah orang yang cerdas. Orang yang mampu mengendalikan hawa nafsunya dan kemudian beramal untuk bekal di kehipan akhirat kelak. Adapun si Bodoh, mereka yang memperturutkan hawa nafsu mereka, dan kemudian mereka berangan-angan pasti akan di ampuni oleh Allah dan pasti masuk jannah. Tepatnya orang-orang bodoh akan berangan-angan: Kecil di manja, Muda kaya raya, Tua poya-poya, dan Mati masuk surga.
Untuk itu pulalah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang kita dari meremehkan kebaikan sekecil apapun ia. Karena kebaikan sekecil apapun kelak akan dibalas oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Syaikh Khalid Abu Shalih dalam bukunya Az-Zair Al-Akhir, telah menghimpunkan untuk kita beberapa amalan yang terbaik untuk kita jadikan sebagai bekal kelak di akhirat.
Beliau –hafizhahullah- berkata:
Saudaraku, berikut ini merupakan bekal bagi kita untuk menuju alam akhirat. Dengan bekal ini diharapkan perjalanan panjang yang akan kita lalui menjadi mudah. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memudahkan kita semua dalam melewati alam barzakh, makhsyar, hisab, mizan, dan sirath. Bekal-bekal tersebut di antaranya adalah:
1. Keimanan kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, para Rasul-Nya dan hari Akhir serta Qadar baik dan buruk.
2. Menjaga shalat fardhu lima waktu di masjid dengan mengerjakannya secara berjama’ah pada waktunya, dengan penuh kekhusyu’an dan memahami makna-maknanya. Sedangkan bagi wanita, shalat di rumah adalah lebih utama.
3. Mengeluarkan zakat wajib pada waktunya sesuai dengan ukuran dan sifat-sifatnya yang telah disyari’atkan.
4. Puasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan pengharapan pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.
5. Haji yang mabrur, sebab tiada balasan baginya kecuali surga dan berumrah di bulan Ramadhan yang pahalanya setara haji bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
6. Mengerjakan hal-hal yang sunnah, yaitu yang di luar shalat lima waktu, zakat, puasa dan haji. Dalam hadits Qudsi, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Dan senantiasalah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan hal-hal yang sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Ahmad)
7. Segera bertaubat yang sebenarnya dari semua perbuatan maksiat dan munkar serta bertekad untuk memanfaatkan waktu-waktu yang tersedia dengan memperbanyak istighfar, dzikir, dan beragam jenis keta’atan.
8. Berbuat ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan meninggalkan riya’ dalam segala urusan. (Baca: QS. Al-Bayyinah: 5)
9. Mencintai Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya yang hanya bisa terealisir dengan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. (Baca: QS. Ali ‘Imran: 31)
10. Mencinta karena Allah, membenci karena Allah, loyal karena Allah dan memusuhi karena Allah. Dan konsekuensi dari hal ini adalah mencintai kaum mukminin sekali pun mereka jauh, dan membenci orang-orang kafir sekali pun mereka dekat.
11. Takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Yang Maha Agung, mengamalkan wahyu-Nya, rela hidup berkekurangan serta bersiap diri menyambut hari kepergian (saat kematian). Inilah hakikat takwa.
12. Bersabar atas bencana yang menimpa, bersyukur di saat mendapatkan kesenangan, merasa selalu dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap kondisi serta berharap mendapatkan karunia dan pemberian-Nya.
13. Bertawakkal dengan baik kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Baca: QS. Al-Ma’idah: 23)
14. Menuntut ilmu yang bermanfa’at dan berusaha untuk menyebarkan dan mengajarkannya. (Baca: QS. Al-Mujadilah: 11; Ali 'Imran: 187)
15. Mengagungkan Al-Qur`an dengan mempelajari dan mengajarkannya, menjaga batasan-batasan dan hukum-hukumnya, mengetahui halal dan haramnya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Sebaik-baik kamu adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhari)
16. Berjihad di jalan Allah, murabathah di jalan-Nya, tegar menghadapi musuh dan tidak lari dari medan peperangan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Janganlah kamu mengangankan bertemu musuh, mintalah keselamatan kepada Allah; jika kamu bertemu mereka, maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga berada di bawah kilatan pedang.” (Muttafaqun ‘alaih)
17. Menjaga lisan dari hal-hal yang diharamkan seperti berdusta, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu-domba), mencaci, melaknat, berkata kotor dan musik. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (Muttafaqun ‘alaih)
18. Menepati janji, menunaikan amanah, tidak berkhianat dan licik. (Baca: QS. Al-Ma'idah: 1; QS. Al-Baqarah: 283)
19. Tidak melakukan zina, minum khamr, membunuh jiwa yang diharamkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kecuali dengan haq, berbuat zhalim, memakan harta orang lain secara batil, memakan riba dan memakan sesuatu yang secara syari'at bukan miliknya. (Baca: QS. Al-A'raf: 33)
20. Wara’ (menjaga kesucian diri) dalam hal makanan dan minuman serta menghindari sesuatu yang tidak halal darinya. (Baca: QS. Al-Maidah: 3)
21. Berbakti kepada kedua orangtua, menyambung tali rahim, mengunjungi teman-teman, bersabar atas tingkah polah mereka, mengupayakan berbuat baik, terhadap orang dekat atau pun jauh. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang memenuhi hajat saudaranya, niscaya Allah akan memenuhi hajatnya dan barangsiapa yang menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di dunia yang dihadapi seorang mukmin, niscaya Allah akan menghilangkan satu dari kesulitan-kesulitan di hari Kiamat yang dihadapinya." (Muttafaqun ‘alaih)
22. Menjenguk orang sakit, berziarah kubur, mengiringi jenazah, sebab hal itu dapat mengingatkan akhirat dan membuat zuhud dalam kehidupan di dunia.
23. Tidak memakai pakaian yang diharamkan seperti sutera, emas, tidak berpakaian melebihi mata kaki bagi laki-laki (Isbal) dan menggunakan bejana-bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk makan dan minum.
24. Berhemat dalam nafkah, menjaga nikmat dan tidak berbuat mubazir. (Baca: QS. Al-Isra': 26)
25. Tidak dengki, iri, memusuhi, saling membenci dan menjatuhkan kehormatan kaum Muslimin dan Muslimah dengan tanpa haq.
26. Beramar ma’ruf nahi munkar, berdakwah mengajak orang kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan cara hikmah dan Mau’izhah Hasanah.
27. Berlaku adil terhadap manusia, tolong-menolong dalam berbuat kebajikan dan takwa. (Baca: QS. Al-An’am: 152)
28. Berakhlak mulia seperti Tawadhu’ (rendah hati), kasih sayang, lemah lembut, malu, halus hati, menahan emosi, dermawan, tidak sombong, angkuh, dan sebagainya.
29. Menjalankan hak-hak anak-anak dan isteri secara penuh dan mengajarkan mereka masalah-masalah agama yang diperlukan.(Baca: QS. At-Tahrim: 06)
30. Memberi salam dan membalasnya, mendoakan orang yang bersin, memuliakan tamu dan tetangga, menutupi aib pelaku maksiat semampunya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang menutupi (aib) saudaranya sesama muslim, maka Allah akan menutupi (aibnya) pada hari Kiamat.” (Muttafaqun ‘alaih)
31. Zuhud di dunia, pendek angan-angan sebelum ajal menjemput.
32. Cemburu (sensitif) terhadap kehormatan, memicingkan mata dari hal-hal yang diharamkan.
33. Menghindari hal yang sia-sia dan bermain-main serta melakukan perkara-perkara positif.
34. Mencintai shahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan keluarga beliau (pen), berlepas diri dari orang-orang yang membenci atau mencela mereka. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa yang mencela para shahabatku, maka atasnya laknat Allah, malaikat dan seluruh manusia.” (HR. Ath-Thabarani, dinilai Hasan oleh Syaikh Al-Albani)
35. Mendamaikan sesama manusia, menengahi beda pendapat di antara dua orang yang berselisih pendapat sehingga jurang perselisihan dan perpecahan tidak meluas.
36. Tidak mendatangi dukun, ahli nujum, para tukang sihir, para peramal dan sebagainya.
37. Wanita hendaknya patuh terhadap suaminya, menjaganya dalam harta, anak dan ranjangnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Bila seorang wanita menunaikan shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan mena’ati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, “Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.!” (HR. Ibnu Hibban, dinilai Shahih oleh Syaikh Al-Albani)
38. Tidak berbuat bid’ah (mengada-ada) di dalam agama atau menyeru kepada kebatilan dan kesesatan.
39. Kaum wanita hendaknya tidak menyambung rambutnya dengan rambut lain (menyanggul atau rambut Wig), tidak mentato, mencukur alis, meratakan gigi dengan tujuan hanya untuk mempercantik diri.
40. Tidak mematai-matai kaum Muslimin dan mengungkap aurat serta menyakiti mereka.
Wallahu A’lamu bish Shawab
Muqadimah
Shahabat Ali bin Abi Thalib –radhiyallahu ‘anhu- pernah memberikan wasiat,
وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الآخِرَةِ ، وَلاَ تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا ، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلاَ حِسَابَ ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلاَ عَمَلَ
“Masing-masing dari keduanya memiliki generasi (penggemar), maka jadilah generasi akhirat, dan janganlah menjadi generasi dunia, karena sesungguhnya hari ini (di dunia) adalah tempat berjuang (beramal) belum ada perhitungan (hisab), sedangkan besok (di akhirat) adalah hari perhitungan, tidak ada lagi amal.” (HR. Al-Bukhari)
Generasi akhirat mungkin jarang diperbincangkan, apalagi didambakan banyak orang. Karena memang sebagian orang masih ragu dengan alam akhirat, apakah nyata ataukah sekedar dongeng (mitos) belaka. Memang negeri akhirat adalah ghaib (abstrak), belum terjadi, tetapi pasti terjadi. Dan generasinya pun juga pasti ada.
Semua manusia bergerak dan berusaha demi kenikmatan yang menjadi tujuan. Garis besarnya ada dua titik akhir yang diharapkan. Ada yang menginginkan dunia sebagai terminal akhir perjalanan, ada pula yang menatap lebih jauh ke depan, mereka jadikan akhirat sebagai akhir perjalanan yang didambakan. Masing-masing titik tujuan, ada penggemarnya. Ada yang banting tulang demi nikmat dunia yang didamba, ada yang bekerja keras demi kejayaan hidup setelah dunia menjadi sirna.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ اْلأَخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَالَهُ فِي اْلأَخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ
“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)
Sebagai mukmin sejati, akhirat adalah terminal dan tujuan terakhir kita. Apapun yang kita perbuat di dunia ini adalah wasilah (jembatan) untuk kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ - رضى الله عنهما - قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - بِمَنْكِبِى فَقَالَ « كُنْ فِى الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ » . وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ ، وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ ، وَمِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ
Dari Abdullah bin Umar –radhiyallahu ‘anhu- ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memegang pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia seperti orang asing, atau orang yang sedang dalam perjalanan (untuk mampir sementara)’. Dan Ibnu Umar berkata, ‘Apabila telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu pagi. Jika telah datang waktu soremu, maka jangan menunggu-nunggu datangnya waktu sore. Gunakanlah masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, dan masa hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al-Bukhari)
Karakter Generasi Akhirat
Setiap generasi memiliki karakter. Generasi akhirat memiliki karakter sebagaimana generasi dunia juga memiliki karakter.
Dunia diibaratkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam lebih hina dari bangkai cempe (anak kambing). Perumpamaan yang sangat pantas juga bagi para pemuja dan pemburunya. Wal’iayadzubillah.
Para ulama juga telah memberikan perumpamaan tentang dunia dengan perumpamaan yang cukup rendah dan hina.
Perumpamaan pertama datang dari Bisyr bin Al-Harits Al-Hafi –rahimahullah-. Beliau berkata, “Dunia itu laksana biji-bijian yang dikumpulkan semut di musim panas sebagai simpanan menghadapi musim dingin. Tanpa sadar, tatkala semut sedang asyik membawa sebutir biji di mulutnya, datanglah seekor burung yang mematuk sang semut beserta sebutir biji yang sedang dibawanya. Maka semut itu tak sempat menikmati makanan yang dikumpulkannya, tidak pula mendapatkan apa yang diharapkannya.” Terapkanlah permisalan tersebut, di mana biji-bijian itu adalah kenikmatan dunia, semut itu adalah manusia, sedangkan burung tersebut ibarat malakul maut. Betapa banyak manusia sibuk mengumpulkan harta, hingga kematian tiba-tiba menyergapnya di saat dia masih mengumpulkan dunianya, dan dia belum sempat mengenyam semua hasil jerih payahnya.
Perumpamaan kedua datang dari seorang ulama yang sangat faqih di Abad 6 H, Ibnu Al-Jauzi –rahimahullah-. Beliau mengumpamakan dunia laksana perangkap yang ditebar di dalamnya biji-bijian. Sedangkan manusia ibarat seekor burung yang menyukai biji-bijian. Burung-burung itu hanya asyik menikmati bijian-bijian itu, tanpa menaruh waspada terhadap perangkap yang akan menjeratnya sekejap mata. Cukup jelas, pemburu dunia terperangkap kenikmatan yang menipu, akhirnya mendekam dalam kesengsaraan tanpa batasan waktu.
Perumpamaan yang lebih menohok dibuat oleh senior tabi’in, Imam penduduk Bashrah, Imam Hasan Al-Bashri –rahimahullah-. Beliau berkata, “Wahai anak Adam, pisau telah diasah, dapur api telah dinyalakan, sedangkan domba masih sibuk menikmati makanan.”
Berbeda dengan generasi akhirat, dunia bukanlah tujuan tetapi ladang dan jembatan menuju negeri akhirat yang kekal.
Berikut beberapa karakter generasi akhirat, semoga kita bisa meneladaninya.
1. Peribadatan Secara Mutlak Hanya Untuk Allah.
Generasi akhirat adalah generasi yang mampu menundukkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dengan penuh ketundukan dan kepasrahan.
Sifat mereka tersebut Allah jelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an. Di antaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan hamba-hamba Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka. Dan orang-orang yang berkata: “Ya Rabb kami, jauhkan adzab Jahannam dari kami, sesungguhnya adzabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.” Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal shalih, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. an orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: “Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam jannah) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya. Jannah itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman.” (QS. Al-Furqan: 63-76)
2. Bersifat jujur
Sifat ini merupakan karakter para generasi akhirat. Mereka berlaku jujur kepada Allah, Rasul-Nya dan kepada dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا
“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya).” (QS. Al-Ahzaab: 23)
Maka kejujuran merupakan syiar bagi mereka, dan menepati janji sebagai selimut bagi mereka. Oleh karena itu, Allah Ta’ala memerintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman agar senantiasa bersama dengan golongan orang-orang yang jujur. Allah Ta’ala berfirman:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Dan Allah Ta’ala juga telah memuji mereka dalam firman-Nya:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam keta’atannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyu’, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzaab: 35)
3. Berani Dalam Membela Kebenaran
Inilah sifat diantara akhirat, dan termasuk sifat seorang mukmin pemberani, berani dalam membela kebenaran serta berqudwah (mengambil suritauladan) kepada orang terdahulu dari para Nabi dan Rasul.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ اْلأَخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al-Ahzaab: 21)
Dalam ayat lain, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha mengetahui.”
Dan tentunya, masih banyak sifat dan karakter generasi akhirat lainnya. Yang pasti akhirat akan datang dan dunia akan berlalu. Jadilah kita generasi pemburu akhirat bukan pemburu dunia. Wallahu A’lamu bish Shawab.
Peneliti INSISTS Nirwan Syafrin mengatakan tidak semua yang dibawa oleh kaum liberal adalah sesuatu yang rasional. “Kalau menurut saya isu pluralisme agama sangat sulit diterima semua akal sehat. Sekarang buat apa orang Kristen dan orang Islam capek-capek berdakwah jika semua agama itu sama. Buat apa pula Rasulullah mati-matian berdakwah jika semua agama sama,” katanya kepada Eramuslim.com, Rabu (14/12/2011).
Maka Nirwan mengatakan julukan yang pas disematkan kepada kelompok liberal adalah kelompok yang menghina akal sendiri. “Makanya saya bilang mereka sedang menghina akal sendiri. Termasuk ketika mereka mengatakan akal tidak bisa menerima kebenaran. Padahal di satu sisi mereka suka sekali menyanjung-nyanjung akal. Dalam Islam, ada yang bisa diterima akal ada yang tidak,” kata menantu Ketua MUI, KH. Kholil Ridwan ini.
Klaim kaum liberal sebagai kelompok pembaharu pun masih bisa diperdebatkan. Karena apa yang mereka bawa tidak lebih dari pengulangan sejarah Kristen di Barat. Mereka ingin mentransformasikan pengalaman Kristen di Barat untuk diterapkan dalam dunia Islam. “Mereka ingin mengkristenkan Islam. Jadi seakan Islam itu agama tanpa syaraiat, mereka kan anti sekali terhadap syariat. Dan itu terjadi di Kristen hingga Kristen banyak terpecah dalam aliran-aliran,” tukasnya.
Karenanya, Nirwan bersyukur bahwa tradisi keilmuan Islam di masyarakat masih berjalan, meski hal itu harus lebih ditingkatkan. “Maka itu saya fikir kenapa mereka tidak berhasil, karena Islam memiliki tradisi ilmu yang kuat. Termasuk kajian-kajian di majelis ta’lim yang terus ada di masyarakat. Menurut saya kita harus kembali ke tradisi ilmu, dan upaya ini harus terus berjalan,” jelasnya panjang lebar. (roy/eramuslim)
Masyarakat di wilayah Jubba Afgadud, Somalia Selatan mengatakan, mereka menemukan tiga jenazah orang yang dipancung oleh milisi Al Shabaab, pada Ahad kemarin. Sebelumnya diberitakan, kelompok pejuang Al Shabaab memenggal tiga orang di desa Afgadud yang menjadi salah satu benteng Al Shabaab. Ketiga orang itu dituduh sebagai mata-mata untuk Pemerintah Federal Transisi Somalia (TFG) dan Angkatan Pertahanan Kenya (KFD) di wilayah perang Al Shabaab.
Penduduk setempat seperti dilansir media Shabelle.net mengatakan, tiga orang yang dipenggal kepalanya adalah anak-anak muda, sedangkan satu lagi seorang pria tua. Mereka dipancung kemudian mayat mereka diletakkan di desa Afgadud untuk memperingatkan penduduk setempat agar tidak menjadi mata-mata pemerintah maupun tentara Kenya.
Sejak beberapa pekan terakhir, Al Shabaab dilaporkan melakukan serangkaian operasi penangkapan terhadap orang-orang yang dicurigai menjadi mata-mata atau berhubungan dengan tentara pemerintah maupun tentara Kenya yang kini mulai menyerang benteng-benteng Al Shabaab. [roy/muslimdaily.net]
Al-Shabaab Somalia Mulai Gunakan Twitter untuk Menjangkau Dunia
Kelompok pejuang Al-Shabaab Somalia telah membuka akun Twitter, menyusul adanya invasi dari militer negara Afrika Kenya. Al-Shabaab telah mentweet tentang serangan mereka terhadap militer Kenya selama dua minggu terakhir. Dengan lebih dari 5.000 followers, Al-Shabaab mentweets dalam bahasa Inggris, bukan bahasa Somalia, dan jelas hal ini dimaksudkan untuk audiens yang berada di luar negeri.
Situs jejaring sosial Twitter, yang berbasis di San Francisco, memiliki sekitar 100 juta pengguna. Seorang juru bicara perusahaan, Matt Graves, menolak untuk mengomentari kasus Al-Shabaab yang telah memanfaatkan situs mereka.
Pada bulan Oktober lalu, Kenya mengirim tentara ke perbatasan ke Somalia untuk mengejar pejuang Al-Shabaab, yang dituduh berada di balik penculikan beberapa orang asing di wilayahnya. Namun Al-Shabaab telah membantah keterlibatan mereka dalam hal tersebut.(roy/fq/prtv)



