EDL Akan Manfaatkan Kerusuhan Inggris Untuk Membakar Masjid
Dewan HAM muslim Inggris (IHRC) memperingatkan bahwa kelompok-kelompok sayap kanan berusaha untuk menggunakan kerusuhan di Inggris sebagai kesempatan untuk membakar masjid dan melakukan perang ras. Lembaga yang berbasis di London ini mengatakan bahwa kelompok-kelompok rasis seperti Liga Pertahanan Inggris (EDL) telah menggunakan situs jejaring sosial untuk mengirim pesan yang simpatisan mereka untuk menargetkan warga non-kulit putih yang ada di negara Inggris.
IHRC mengatakan kehadiran para pendukung EDL di antara demonstran di jalan-jalan di wilayah tenggara London Eltham pada hari Selasa lalu dan pesan yang mereka posting di media sosial ini sangat mengkhawatirkan.Informasi ini datang pada saat pemimpin EDL Stephen Lennon, yang juga dikenal sebagai Tommy Robinson, mengklaim bahwa sampai dengan 1.000 anggota kelompok sayap kanan akan berpatroli di jalan-jalan Inggris selama kerusuhan terus berlanjut.
Ketua IHRC Shadjareh Massoud mengatakan mereka sangat khawatir karena ancaman EDL tampaknya tidak bisa dianggap ringan. "Sementara kita tahu polisi mengambil tindakan untuk membubarkan EDL dari Eltham serta sekelompok orang di Enfield, namun kami sangat prihatin bahwa ancaman kekerasan mereka di hari ini sangat serius," kata Shadjareh. IHRC juga menyertakan link di situs mereka terkait postingan oleh para pendukung EDL, termasuk satu oleh pengguna Facebook yang mengatakan dimanapun kerusuhan "kita semua harus berkeliling dan membakar masjid".(roy/eramuslim)
Lakukan Aksi Pemurtadan, Uzbekistan Misionaris Amerika
Uzbekistan telah mengusir delapan warga negara Amerika dari negara Asia Tengah tersebut atas tuduhan melakukan tindakan "melanggar hukum" dalam upaya untuk memurtadkan warga Uzbek menjadi kristen.
Di bawah kedok pengusaha atau guru bahasa Inggris, delapan warga AS melakukan kegiatan misionaris yang melanggar hukum untuk menarik siswa Uzbekistan ke agama Kristen, AFP melaporkan, mengutip sebuah laporan di situs Uzbekistan yang dikelola negara, gorizont.uz. "Para orang asing yang menjadi misionaris tersebut fasih berbahasa Uzbekistan dan menyebut diri mereka dengan nama Uzbekistan seperti Jahongir, Husan, Jasur, Farhod," kata laporan itu.
Kedutaan Besar AS di Tashkent ibukota Uzbekistan menolak untuk mengomentari insiden tersebut. Uzbekistan sebelumnya telah mendeportasi warga negara AS lainnya dan tujuh warga Korea Selatan atas tuduhan serupa. Semua pekerjaan misionaris agama dilarang di Uzbekistan, yang merupakan negara mayoritas Muslim dengan 90 persen dari 28 juta warganya beragama Islam.(roy/eramuslim)
0 comments