AWAL PETAKA
Oleh: Hammad
Kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang penuh dengan tipuan belaka, dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain sebagaimana orang-orang berebut untuk melahap isi mangkuk.
Para sahabat bertanya: "Apakah saat itu jumlah kami sedikit?" Rasulullah bersabda: "Tidak bahkan pada saat itu jumlah kamu amat sangat banyak, tetapi seperti air buih didalam air bah karena kamu tertimpa penyakit wahn." Sahabat bertanya: "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?" Rasulullah bersabda: "Penyakit wahn itu adalah kecintaan yang amat sangat kepada dunia dan takut akan kematian. Cinta dunia merupakan sumber utama segala kesalahan."
Sumber segala bencana dimuka bumi ini bermula dari lebih cintanya manusia dengan dunia, sehingga ia takut akan kematian. Karena cinta dunia menyebabkan orang mencuri, korupsi, maling dan merampok tanpa berfikir bahwa apa yang ia lakukan akan merugikan orang lain. Karena cinta dunia menyebabkan orang tidak lagi memperhatikan adap dan tata karma sehingga ia disebut bejat dan kejam. Karena cinta dunia menyebabkan orang saling tindas menindas, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakis sengsara. Maka cinta dunia adalah awal munculnya malapetaka.
Rasulullah merupakan contoh seorang pemimpin yang dicintai sampai ke lubuk hati yang paling dalam. Rasul adalah contoh seorang suami yang benar-benar menjadi suri tauladan dan kebanggaan bagi keluarganya. Rasul juga contoh seorang pengusaha yang dititipi dunia, tapi tidak diperbudak oleh dunia yang dimilikinya. Kalau orang sudah mencintai sesuatu maka dia akan diperbudak oleh apa yang dicintainya. Maka cintailah akhiratmu lebih dari cintamu kepada dunia.
Orang yang sudah cinta terhadap dunia, akan sombong, dengki, serakah dan berusaha dengan segala cara untuk mencapai segala keinginannya, oleh karena itu yakinlah bahwa dunia itu total milik Allah. Segala sesuatu yang kita miliki baik sedikit maupun banyak semuanya milik Allah. Dalam mencari rizki janganlah mempergunakan kelicikan karena dengan kelicikan atau tidak dengan kelicikan datangnya tetap dari Allah.
Hadits keutamaan bulan sya’ban
Pertanyaan:Sebagian Ulama mengatakan bahwa ada beberapa hadits tentang keutamaan pertengahan (tanggal 15) Sya’ban, puasa pada hari tersebut, dan menghidupkan malamnya, apakah hadits-hadits tersebut shahihah atau tidak?
Jika ada hadits shahih, hendaklah diterangkan dengan keterangan yang cukup, jika tidak, maka saya berharap mendapatkan penjelasan, semoga Allah membalas kebaikan para masyaikh?
Jawab :
Terdapat beberapa hadits shahih tentang keutamaan puasa pada hari-hari yang banyak di bulan Sya’ban, tetapi hadits-hadits itu tidak mengkhususkan satu hari dari yang lainnya, di antara hadits-hadits tersebut :
1. Hadits dalam kitab Bukhari dan Muslim bahwa Aisyah berkata, “Saya tidak melihat Rasulullah berpuasa sebulan secara sempurna kecuali bulan Ramadhan, dan saya tidak pernah melihatnya lebih banyak puasa dalam satu bulan dari puasa di bulan Sya’ban, beliau puasa Sya’ban seluruhnya kecuali sedikit.”
2. Dalam hadits Usamah bin Zaid dia berkata kepada Rasulullah “Saya belum pernah melihatmu berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebagaimana kamu puasa di bulan Sya’ban”. Rasulullah bersabda, “Dia adalah bulan yang banyak dilalaikan oleh manusia antara Rajab dan Ramadhan, dia adalah bulan yang pada saat itu segala amal diangkat kepada Rabb alam semesta, maka saya ingin (menyukai) amalku diangkat sedang saya berpuasa.” (HR.Imam Ahmad dan Nasa’i).
Dan tidak shahih hadits yang menyatakan bahwa Rasulullah berusaha untuk berpuasa pada suatu hari tertentu dari bulan Sya’ban atau mengkhususkan beberapa hari dari bulan tersebut dengan ibadah puasa, tetapi ada beberapa hadits yang lemah tentang menghidupkan malam nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban) dan puasa pada siang harinya.
Diantaranya hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Kitab Sunannya bahwa Rasulullah bersabda, “Jika datang malam nisfu Sya’ban, maka bangunlah (hidupkanlah) malam itu, dan puasalah di siang harinya karena Allah Ta’ala turun ke langit terendah ketika matahari terbenam, lalu berkata, ‘Adakah yang memohon ampunan, maka Aku ampuni, adakah yang meminta rezeki, maka Aku memberinya, adakah yang terkena cobaan maka Aku selamatkan dia, adakah yang seperti ini’ sampai fajar terbit’.”
Ibnu Hibban telah menshahihkan (membenarkan) sebagian hadits tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu Sya’ban, di antaranya hadits yang diriwayatkannya dalam shahihnya dari Aisyah bahwa dia berkata, “Saya kehilangan Rasulullah, maka saya keluar (mencarinya), tiba-tiba dia berada di pemakaman Baqi’ mengangkat kepalanya, lalu berkata, ‘Apakah kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan mendzalimimu?’.
Akupun menjawab, Wahai Rasulullah! saya mengira bahwa engkau mendatangi istrimu (yang lain). Lalu Rasulullah berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala turun di malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit yang terendah, lalu memberikan ampunan (kepada hambanya yang jumlahnya) lebih banyak dari jumlah bulu kambing’.”
Imam Bukhari dan ulama hadits lainnya telah melemahkan hadits ini, dan kebanyakan Ulama berpendapat bahwa hadits yang berkenaan dengan keutamaan malam nisfu Sya’ban dan puasa di siang harinya adalah lemah.
Dan sikap menggampangkan dalam menshahihkan hadits (yang dilakukan oleh Ibnu Hibban) adalah hal yang sudah masyhur di kalangan ulama hadits.
Secara global, menurut ulama hadits ahli tahqiq (peneliti hadits) sesungguhnya tidak ada hadits yang shahih tentang keutamaan menghidupkan malam nisfu Sya’ban dan puasa di siang harinya, oleh karenanya mereka mengingkari (perbuatan) menghidupkan malam nisfu Sya’ban dan (mengingkari perbuatan) mengkhususkan siang harinya dengan puasa.
Dan mereka berkata, “Sungguh itu adalah bid’ah (ibadah yang diada-adakan tanpa perintah dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan perbuatan itu ditolak), Dan sekelompok ahli ibadah mengagungkan malam tersebut dengan berpegang kepada hadit-hadits lemah tersebut dan hal itu menjadi masyhur dan diikuti oleh manusia karena prasangka baik dengan mereka, bahkan sebagian mereka berkata karena berlebih-lebihan dalam mengagungkan malam nisfu Sya’ban, ‘Malam nisfu Sya’ban adalah malam yang penuh berkah, malam diturunkannya Al-Qur’an pada mala itulah dijelaskan segala perkara yang bijaksana, dan mereka menjadikannya sebagai penafsiran firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (QS. Ad-Dukhoon : 3)
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah,” (QS. Al-Qodr:4)
Ini (penafsiran di atas) adalah kesalahan yang nyata, dan termasuk perbuatan merubah (makna) al-Qur’an dari tempat yang semestinya, karena sesungguhnya maksud dari malam penuh berkah dalam ayat tersebut adalah lailatul Qadr (malam kemuliaan) berdasarkan firman Allah :
Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Qur’an) pada malam kemuliaan. (QS. Al-Qodr:1)
Dan lailatul Qadr berada di bulan Ramadhan berdasarkan hadits-hadits tentang itu, dan firman Allah, “Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al-Baqoroh:185)
FATWA LAJNAH DA’IMAH
Sumber : http://belajarislam.or.id/archives/category/al-bidah
CINTAI AKHIRAT, JANGAN LUPAKAN DUNIA
(Jangan Jadikan diri kita Qarun-qarun Abad ini)
(Jangan Jadikan diri kita Qarun-qarun Abad ini)
Oleh: Tengku Azhar, Lc.
Allah Subhanahu wa Ta’al berfirman:
وَابْتَغِ فِيمَا آَتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الآَخِرَةَ وَلاَ تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلاَ تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لاَ يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77).
Tafsirul Ayat dan Hubungannya dengan Kisah Qarun
Imam Ibnu Katsir –rahimahullah- ketika menafsirkan ayat ini berkata, “Gunakanlah harta yang banyak ini dan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadamu untuk menta’ati Allah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagaimacam ibadah dan amal shalih yang dapat memberikanmu pahala (ganjaran) yang banyak kelak pada hari kiamat. Dan janganlah engkau melupakan bahagianmu dari negeri dunia, yakni gunakanlah harta tersebut untuk kebutuhan hidup duniamu dari hal-hal yang telah dihalalkan oleh Allah untukmu, seperi makan, minum, pakaian, tempat tinggal, nikah, dan yang lainnya. Karena sesungguhnya Allah punya hak atas dirimu yang wajib engkau tunaikan, begitupula tubuhmu, keluargamu, istrimu, maka berikanlah (tunaikanlah) kepada setiap yang berhak haknya masing-masing. Serta berbuat baiklah kepada makhluk-makhluk Allah lainnya sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah berbuat kerusakan di muka bumi ini, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Syaikh Aly bin Nayif Asy-Syahud dalam kitabnya Durusun wa ‘Ibarun min Qishshati Qarun ketika menjelaskan ayat ini berkata,
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat..”.
Maknanya pergunakanlah apa yang telah diberikan Allah kepadamu berupa harta dan nikmat yang besar dalam ketaatan kepada Rabb-mu, dalam mendekatkan diri kepada-Nya dengan berbagaimacam sarana yang akan menghasilkan pahala untukmu di dunia dan akhirat. Karena sesungguhnya dunia ini adalah ladang untuk kehidupan akhirat.
“dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi”.
Maknanya jangan kamu tinggalkan bagianmu dari kenikmatan dunia yang telah diperbolehkan Allah. Yaitu kelezatan yang berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan istri.
Dari ‘Aun bin Abi Juhaifah dari Ayahnya dia berkata, Rasulullah mempersaudarakan Salman Al-Farisi dengan Abu Darda`. Salman berkunjung ke Rumah Abu Darda` dan dia melihat Ummu Darda` (istri Abu Darda`) memakai pakaian yang sudah usang. Karena itu, Salman bertanya kepada Ummu Darda’, “Ada apa denganmu?” Ummu Darda` menjawab, “Saudaramu, Abu Darda` tidak begitu peduli akan dunia.” Abu Darda` datang. Lalu ia menyuguhkan makanan untuk Salman, seraya berkata, “Makanlah! Aku sedang berpuasa.”
Salman menjawab, “Aku tidak makan, kecuali kalau engkau makan.” Lalu Abu Darda` makan.
Setelah malam tiba, Abu Darda` bangun untuk shalat. Salman berkata, “Tidurlah!” Lalu Abu Darda` tidur, kemudian dia bangun lagi. Salman berkata, “Tidurlah!” Dan setelah sampai di penghujung malam, Salman berkata, “Sekarang, bangunlah!” Kemudian mereka shalat berdua. Selanjutnya Salman berkata kepada Abu Darda`, “Sesungguhnya Rabb-mu memiliki hak atas dirimu, badanmu memiliki hak atas dirimu, dan keluargamu (termasuk Ummu Darda`) memiliki hak atas dirimu. Maka berikanlah kepada yang berhak, haknya masing-masing.”
Berikutnya Abu Darda` mendatangi Nabi. lalu menceritakan hal tersebut kepada beliau. Lantas Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Salman benar.” (HR. Al-Bukhari).
Ini adalah sikap wasathiyah (tengan-tengah) agama Islam dalam kehidupan. ‘Ubaidillah bin Al-‘Aizar berkata, “Aku bertemu seorang Syaikh besar dari Arab di daerah Raml. Aku bertanya kepadanya, ‘Apakah Anda pernah bertemu dengan salah seorang Shahabat Rasulullah?’ Dia menjawab, ‘Benar.’ Aku bertanya lagi, ‘Siapa?’ Dia menjawab, ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash. Aku bertanya lagi, ‘Tidakkah Anda mendengar dia berkata’. Dia menjawab, ‘Aku pernah mendengar dia berkata, ‘Perkirakanlah untuk urusan duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari’.” (Baghyitaul Bahits ‘an Zawaidi Musnadil Harits. (2/983) (1093) di dalam riwayat tersebut terdapat rawi yang tidak diketahui)
“berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”
Maknanya, berbuat baiklah engkau kepada makhluk-Nya sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Perintah ini adalah perintah berbuat baik dalam kontek umum setelah Allah memerintahkan untuk berbuat baik dalam hal harta. Jadi, masuk di dalamnya perintah untuk memberi bantuan dengan harta, kedudukan, wajah yang berseri, sambutan yang baik dan mendengar dengan baik. Artinya di dalamnya tergabung perintah untuk berbuat baik dalam hal materi dan berbuat baik dalam hal adab dan akhlak.
“dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Jangan berniat untuk membuat kerusakan di bumi dengan kezhaliman, kedurhakaan, dan berbuat jahat kepada manusia. Karena Allah akan menghukum orang-orang yang berbuat kerusakan, Allah akan menahan rahmat, pertolongan serta kasih sayang-Nya.
Demikianlah wasiat yang diberikan oleh orang-orang shalih dari kaum Nabi Musa. Sedangkan Qarun adalah orang yang telah dikuasai oleh rasa ‘ujub dengan hartanya dan telah disesatkan oleh kesesatannya, karena dia merasa mampu menyusun kekuasaan dengan harta tersebut.
Orang-orang shalih tersebut menyeru Qarun agar meniti jalan ini dalam urusan hartanya. Jalan yang memiliki kesudahan yang baik dan semakin menyempurnakan nikmat yang telah diberikan Allah kepadanya.
Mereka telah menasehati Qarun agar tidak dikuasai oleh rasa bangga dengan harta yang dimilikinya. Sebenarnya, nasihat ini mampu menyadarkan Qarun dari mabuk harta. Hingga jika dia telah sadar, dia akan diajak untuk mengatur hartanya dengan semestinya. Dia bisa mencari ridha Allah dengan sarana harta ini. Dia bisa mendermakan sebagiannya untuk hal bermanfaat di akhirat kelak dan sebagian yang lain untuk kebaikan urusan hidup dia di dunia. Dengan demikian terkumpulah dalam harta tersebut kebaikan di dunia dan keaikan di akhirat.
Hendaknya dia berbuat baik dengan menginfakkan harta tersebut di jalan kebaikan sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya. Dengan demikian dia berarti menerima kebaikan dari Allah dengan berbuat baik kepada hamba Allah. Yang demikian tersebut merupakan zakat dari kenikmatan ini.
Kemudian dia juga tidak boleh mejadikan harta ini sebagai sarana untuk merusak dan membuat kerusakan di muka bumi; membahayakan manusia; dan mengurangi hak-hak manusia. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Seruan bijaksana tersebut disambut Qarun dengan sikap peremehan dan permusuhan. Ketika mendengar seruan ini kondisi Qarun sama seperti orang yang buta mata karena sekujur tubuhnya telah dirasuki kesenangan. Setiap nasihat dia letakkan di belakang telinga dan punggungnya. Oleh karena itu dia berkata, “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.”
Artinya, saat itu Qarun berkata kepada kaumnya yang telah menasihati dan membimbingnya pada kebaikan, ‘Aku tidak butuh apa yang kalian katakan. Karena Allah telah memberikan harta ini karena Dia tahu bahwa aku pantas menerimanya. Selain itu, aku memiliki pengetahuan dan pengalaman tentang tata-cara mengumpulkan harta. Oleh karena itu aku lebih berhak atas hartaku. Sebagaimana firman Allah, “Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru kami, Kemudian apabila kami berikan kepadanya nikmat dari kami ia berkata: "Sesungguhnya Aku diberi nikmat itu hanyalah Karena kepintaranku.” (QS. Az-Zumar : 49) Artinya karena ilmu yang telah diberikan Allah kepadaku. Dan Allah juga berfirman, “Dan jika kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari kami sesudah dia ditimpa kesusahan, Pastilah dia berkata: "Ini adalah hakku” (QS. Fushilat : 50) Artinya, ‘Aku berhak untuk memilikinya.’
Qarun telah mengingkari campur tangan Allah, meskipun sedikit, atas limpahan harta yang ada padanya. Dia menganggap bahwa harta tersebut didapat karena menejemen yang baik, kerja ulet dan jeli dalam mengumpulkannya. Wal’iayadzu Billah. Wallahu A’lamu bish Shawab.
Bahaya Cinta Dunia
Oleh: Imtihan asy Syafi'i, MIF
“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan.”
Dengan ayat ke-20 dari surat al-Hadid di atas Allah memberitahukan kepada kita mengenai nilai dunia. Dunia dengan segala kemegahannya adalah suatu permainan dan senda gurauan yang dapat melalaikan seorang muslim dari tujuan hidupnya yang sebenarnya: hidup bahagia abadi di akhirat. Untuk itulah setiap muslim mesti waspada jangan sampai di dalam hatinya tumbuh kecintaan kepada dunia. Wahb bin Munabbih berkata, “Dunia dan akhirat itu ibarat seorang laki-laki yang memiliki dua istri. Jika ia membuat senang salah satunya pasti yang satunya tidak senang.”
Sesungguhnya kecintaan kepada dunialah yang membuat neraka terisi, sebagaimana zuhud terhadap dunia yang membuat surga terisi. Mabuk akibat cinta dunia lebih berbahaya daripada mabuk akibat arak. Orang yang mabuk akibat cinta dunia tidak akan sadar kecuali setelah diletakkan di liang lahad. Yahya bin Mu’adz berkata, “Dunia ini adalah araknya setan. Barang siapa yang mabuk dikarenakannya, ia tidak akan sadar kecuali sudah menjadi bagian dari orang-orang mati yang menyesali kehidupannya.”
Dalam kitab “al-Bahru ar-Raiq fiz Zuhdi war Raqaiq” Dr. Ahmad Farid menyebutkan beberapa bahaya cinta dunia.
Pertama, setidaknya cinta dunia akan membuat seseorang “sedikit” dilalaikan dari mencintai Allah dan berdzikir kepada-Nya. Padahal barang siapa yang hatinya lalai dari dzikir kepada Allah niscaya akan ditempati oleh setan. Setan yang dengan cara khas akan menipu manusia dan memperlihatkan berbagai keburukan, dosa, dan kejahatan sebagai kebaikan. Setan akan menggiringnya perlahan-lahan menuju kesesatan.
Kedua, cinta dunia akan membuat perspektif seseorang berseberangan dengan perspektif syariat. Menurut syariat—sebagaimana ditegaskan dalam ayat di atas—dunia adalah sesuatu yang hina. Bahkan dalam hadits Nabi saw. disebutkan bahwa dunia seisinya tidak lebih berharga daripada sehelai sayap nyamuk. Sehelai, bukan dua helai! Orang yang sedang cinta dunia pasti memandang dunia sebagai sesuatu yang berharga. Bahkan mungkin amat berharga atau dunia adalah segalanya. Menyelisihi syariat dalam satu perkara sudah merupakan pintu bagi setan untuk menggelincirkan kita. Apalagi tabiat kemaksiatan dan dosa adalah: satu dosa akan melahirkan dosa berikutnya dan begitu seterusnya sampai seseorang benar-benar menjadi pendosa tulen atau keluar dari Islam.
Ketiga, dunia sudah dilaknat, dimurkai, dan dibenci oleh Allah, kecuali bagian yang digunakan oleh seseorang untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Barang siapa yang mencintai sesuatu yang sudah dilaknat, dimurkai, dan dibenci, sama saja mempersembahkan dirinya untuk dilaknat, dimurkai, dan dibenci. Rasulullah saw bersabda,
أَلاَ إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلاَّ ذِكْرُ اللَّهِ وَمَا وَالاَهُ وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ
“Ketahuilah, dunia ini terlaknat dan terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikrullah dan amalan-amalan yang dekat dengannya, orang yang berilmu, dan orang yang mencari ilmu.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Keempat, ketika seseorang mencintai dunia dia akan menjadikan dunia sebagai target yang diburunya dan menjadikan berbagai amal-aktivitasnya untuk meraihnya. Amal-aktivitas yang—sebagian besarnya—dijadikan oleh Allah sebagai sarana untuk meraih akhirat. Dalam keadaan ini seseorang yang mencintai dunia melakukan dua kesalahan. Pertama, ia menjadikan wasilah sebagai tujuan. Dunia yang mestinya mesjadi wasilah untuk meraih kebahagiaan hidup di akhirat, dirubahnya menjadi tujuan hidupnya. Kedua, ia berusaha meraih dunia dengan berbagai amalan akhirat. Pada tahap terparah, ia akan menjadi seperti yang difirmankan oleh Allah,
“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud: 15-16)
Kelima, mencintai dunia akan membuat seseorang terhalang dari melakukan sesuatu yang bermanfaat di akhirat. Kadar kecintaan seseorang terhadap dunia beragam. Ada yang cintanya kepada dunia menyebabkannya sibuk dari iman kepada Allah dan menunaikan syariat-Nya. Ada yang cintanya kepada dunia menyibukkannya dari mengerjakan banyak kewajban. Ada yang cintanya kepada dunia menyibukkannya dari mengerjakan kewajiban pada waktunya. Ada yang menyibukkannya dari amal hati sehingga ia mengerjakan kewajiban secara lahir, namun batinnya bergentayangan entah ke mana.
Keenam, orang yang mencintai dunia adalah orang yang sejatinya mendapatkan siksa terberat. Dia disiksa di tiga tempat. Di dunia ia disiksa dengan kesulitannya meraihnya. Di alam barzakh ia akan kehilangan semua dunianya dan dihalangi darinya. Sebab dunianya harus ditinggalkannya untuk ahli warisnya, tidak mungkin ia membawanya. Di alam akhirat ia akan dimintai pertanggungjawaban atas semua harta yang dihasilkannya dan dalam hal apa ana saja ia memanfaatkannya.
Ketujuh, orang yang mendahulukan dunia daripada akhirat adalah orang yang paling bodoh dan tolol sedunia. Bagaimana bisa seorang pandai merelakan sesuatu yang real demi mendapatkan mimpi/khayalan. Kenikmatan dunia adalah indahnya mimpi dan kenikmatan akhirat adalah kenikmatan yang sejati.
Wallahu a’lam.
Memahami Essensi Zuhud
By: Ryan Arief Rahman
Fenomena ZuhudBanyak orang salah dalam memahami konsep zuhud, mereka mengira bahwa zuhud adalah meninggalkan harta, menolak segala kenikmatan dunia, dan mengharamkan yang halal. Zuhud sering diartikan sebagai ungkapan atau refleksi sikap anti dunia bahkan menjauh dari dunia itu sendiri, sehingga menimbulkan kesan seakan-akan bahwa seseorang yang zuhud itu harus mengosongkan diri dari segala hal yang berbau keduniawian, harus menjadi seorang yang miskin, berpakaian lusuh, compang-camping, penuh tambalan dan sebagainya.
Zuhud diibaratkan sebagai kebencian terhadap dunia dan maraih kenikmatan akherat, benci kepada selain Allah dan hanya cinta kepadaNya semata. Bagi mereka perbandingan antara dunia dengan akherat bagaikan salju yang terkena sinar matahari yang kemudian hancur binasa dengan mutiara yang tidak akan hancur selamanya. Karenanya mutiara lebih baik dan lebih kekal dibandingkan salju. Maka bagi mereka, meninggalkan salju dan memilih mutiara merupakan tindakan zuhud.
Lalu, benarkah konsep zuhud itu identik dengan kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan dan yang berujung pada suatu keyakinan bahwa dunia itu adalah musuh bagi manusia, dan menghalangi manusia dari Tuhannya sehingga harus ditinggalkan demi mencapai kepuasan batin serta bisa mendekatkan diri padaNya...?? makalah ini insya Allah untuk mendudukkan persoalan tersebut.
Makna Dan Hakekat Zuhud
Zuhud terhadap sesuatu memiliki arti; berpaling dari sesuatu karena dianggap terlalu sedikit dan remeh serta tingginya gengsi terhadapnya. Dikatakan ; syaiun jahid, artinya ’sesuatu yang sedikit dan remeh.’
Ulama salaf menafsirkan zuhud dengan ungkapan yang beraneka ragam, namun secara substansi mengacu kepada makna yang sama. Seperti, Yunus Bin Maisarah belliau berkata, ’zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal atau menghambur hamburkan harta secara sia sia, akan tetapi zuhud itu adalah meyakini secara mendalam terhadap apa yang dimiliki Allah melebihi keyakinan terhadap sesuatu yang dimiliki, ketetapan sikap baik dalam keadaan senang maupun susah, dan menerima pujian dan celaan orang tanpa penilaian yang berbeda.’
Yunus menafsirkan zuhud terhadap dunia dengan tiga poin penting yang seluruhnya merupakan amalan hati bukan amalan fisik.
Pertama; hendaklah seseorang lebih yakin terhadap apa yang di tangan Allah dari pada apa yang ada di tangannya. Sikap ini adalah implementasi dari keyakinan yang kuat bahwa Allah menjamin rizki seluruh hambaNya, sebagaimana firmanNya, ” Dan tidak ada suatu binatang melatapun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Huud:6) Hasan ra berkata, ‘salah satu tanda lemahnya kayakinan seseorang adalah ia lebih merasa yakin terhadap apa apa yang ada di tangannya dari pada apa yang berada di sisi Allah.’ Abu hazim az zahid pernah ditanya, apakah jenis harta yang engkau miliki? Ia mejawab, aku mempunyai dua jenis harta yang dengannya aku tidak hawatir akan miskin, yaitu kayakinan penuh kepada Allah dan pupusnya harapan terhadap apa yang dicari manusia.’ Fudhoil bin iyadh ra berkata, akar sikap zuhud adalah ridha kepada Allah, dan kepuasaan terhadap pemberianNya adalah zuhud dan itulah yang disebut dengan kekayaan sejati.’
Kedua; hendaklah seseorang apabila ditimpa musibah yang menyangkut dunianya seperti hilangnya harta, anak, istri dan selainnya, ia lebih memilih mendapatkan pahala daripada berdoa untuk mendapatkan kembali dunianya itu. Sikap ini juga merupakan implementasi dari keyakinan yang sempurna. Telah diriwayatkan dari ibnu umar bahwa nabi saw di dalam do’anya mengucapkan: “ya Allah, karuniakan kepada kami rasa takut kepadaMu yang bisa mencegah kami dari berbagai perbuatan maksiat kepadaMu, karuniakan kepada kami ketaatan kepadaMu, dan karuniakan kepada kami keyakinan yang bisa meringankan musibah musibah dunia yang menimpa kami.” (H.R.Turmudzi) Perasaan ringan dalam menghadapi musibah dunia merupakan salah satu tanda zuhud dan rendahnya ambisi mengejar dunia. Sebagaimana Ali Bin Abi Thalib berkata, ‘barang siapa zuhud terhadap dunia, maka akan terasa ringanlah musibah dunia yang menimpanya.’
Ketiga: hendaklah seorang hamba memandang sama antara orang yang memuji dan mencelanya dalam kebenaran.
Ada pernyataan lain yang diriwayatkan ulama salaf dalam mendefinisikan makna zuhud, diantaranya yaitu;
Hasan ra berkata, ‘orang yang zuhud adalah orang yang apabila melihat seseorang, ia akan berkata, orang itu lebih baik daripadaku.’ Sebab, orang yang benar benar zuhud adalah orang yang tidak ingin memuji dan mengagungkan dirinya sendiri.
Rabi’ah berkata, ‘puncak kezuhudan adalah menghimpun segala sesuatu dengan haknya dan meletakannya pada haknya.’
Sufyan Ats Tsauri berkata, ‘zuhud terhadap dunia adalah pendek angan angan, namun tidak juga memakan makanan yang keras atau mengenakan pakaian yang kumuh.’
Esensi Zuhud
Sikap zuhud dalam fenomena diatas merupakan suatu sikap yang sangat berlebih lebihan. Dalam hal ini Muhamad Rasyid Ridha menyatakan bahwa islam melarang manusia berlebih lebihan dalam agama dan membrantas ajaran ajaran yang menjerumuskan terhadap penyiksaan diri atas nama agama. Hal ini ditegaskan dengan diperkenankannya memakan makanan yang lezat dan memakai perhiasan, asal tidak berlebih lebihan dan tidak sombong, seperti di sebutkan dalam firman Allah swt,
يَابَنِي ءَادَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَتُسْرِفُوا إِنَّهُ لاَيُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللهِ الَّتِى أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِيَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ اْلأَيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. Katakanlah:"Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah di keluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik". Katakanlah:"Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al’araf:32)
Juga dalam ayat yang lain Allah berfirman, “Katakanlah:"Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". (QS. Al maidah:77)
Meskipun larangan yang terdapat pada ayat di atas ditujukan kepada ahli kitab, namun juga menjadi I’tibar dan peringatan bagi kaum muslimin. Kaum muslimin dituntut untuk tidak berlebih lebihan dan tidak juga untuk meninggalkan keduniawian, karena islam adalah agama rahmat dan mudah. Hadist hadist shahih yang berkenaan dengan larangan bersikap berlebih lebihan, larangan meningggalkan pakaian dan makanan yang baik, larangan melakukan kerahiban dan pengebirian merupakan essensi dari ayat tersebut, juga merupakan justifikasi atas sabda Nabi saw yang menjelaskan islam sebagai ‘agama yang mudah dan shalih li kulli zaman wa makan.’
Berkenaan dengan seruan untuk memakai pakaian yang indah setiap masuk masjid seperti tertuang dalam surat al a’raf ayat 31, juga terucap oleh Rasulullah yang memperkuat seruan tersebut diantaranya sebagaimana yang diriwayatkan dari Ibnu Salam, bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda di atas mimbar jum’at, “alangkah baiknya, jika salah seorang di antara kalian membeli dua pakaian, yaitu untuk hari jum’at selain pakaian untuk kerja.” (H.R.Abu Daud dan Ibn Majah)
Dari Abu Sa’id Al Khudri bahwa Nabi saw bersabda, “wajib bagi setiap muslim mandi di hari jum’at, memakai sebaik baik pakaian, dan jika ia mempunyai wangi wangian, maka hendaklah ia memakainya.’
Pada hadist pertama menunjukan disunnahkannya memakai pakaian yang bagus ketika hari jum’at dan mengkhusukan pakaian yang tidak dipakai pada hari yang lainnya. Sedangkan hadist kedua menunjukan adanya perintah mandi pada hari jum’at dan memakai pakaian yang terbaik serta wewangian.
Kemudian di dalam penciptaan alam semesta terdapat kebaikan, keindahan, keharmonisan, dan keteraturan yang hakiki. Segala sesuatu di dalam alam semesta seperti matahari, bulan, bintang dan sumber sumber alam di atas bumi telah diciptakan untuk dimanfaatkan dan dinikmati manusia. Hal ini sesuai dengan firman Allah swt, ” Dia lah yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu.” (al baqarah: 29)
Islam adalah agama komprehensif yang mengatur segala keperluan dan tuntutan hidup, sejalan dengan itu, islam juga menghubungkan antara tuntutan rohani dan jasmani dengan nilai keadilan dan keserasian. Jika islam menggariskan jalan keberuntungan bagi rahani, maka islam juga menggariskan jalan keberuntungan bagi kehidupan jasmani, namun islam menekankan untuk memperolehnya mengggunakan cara yang baik dan benar serta mendatangkan manfaat.
Berdasarkan fitrah manusia dan ketentuan syar’i, mencintai hal hal yang bersifat duniawi dibenarkan oleh Allah dan RasulNya, berdasarkan ketentuan yang ditetapkan. Karena dengan cara itu, manusia akan memperoleh kebagahiaan di dunia dan di akherat, sebagaimana do’a yang senantiasa diucapkan oleh setiap muslim pada setiap saat dan kesempatan, ’ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akherat dan peliharalah kami dari siksa neraka.’
Apabila kita membenci dunia dan zuhud terhadap hal hal yang bersifat duniawi sehingga kita mengabaikan dan meninggalkan duniawi sebagaimana tercermin dalam fenomena di atas, maka mustahil kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia ini, bahkan justru kita mendapatkan kemelaratan, kesengsaraan dan kepunahan. Bahkan di akherat juga mustahil memperoleh kebahagiaan karena dunia ini adalah sarana dan alat untuk mencapai akherat, tanpa sarana dunia, akherat tidak mungkin bisa dicapai. Sebagaimana diungkapkan Syaikh Yusuf Qardhawi:” ada sebagian orang salah dalam memahami konsep zuhud, mereka berasumsi bahwa untuk mendapatkan akherat harus dengan meninggalkan urusan dunia, argumentasi mereka berangkat dari sebuah keyakinan bahwa dunia dan akherat bagaikan dua anak timbangan yang jika salah satu anak timbangan berat/turun maka yang satunya akan terangkat keatas dan naik. Lantas, mereka berkeyakinan bahwa untuk mendapatkan akherat berarti harus membelakangi dunia secara totalitas.
Menurut ajaran islam, orang beriman dituntut supaya bekerja untuk urusan dunia dengan kesungguhan, berjuang, membangun, mengusahakan kemajuan dan kemakmuran. Tetapi di dalam hatinya bukan sekedar mementingkan dunia, melainkan juga dengan tujuan untuk keselamatan akherat. Orang beriman menjadikan dunia ini sebagai tempat menanam untuk kelak mengharapkan hasil panennya di akherat. Maka, untuk mencapai tujuan itu diperlukan usaha dan kerja keras untuk meraihnya. Selanjutnya, orang beriman merasa dirinya sebagai salah satu dari anggota masyarakat yang utuh, yang harus bekerja dan beramal untuk kepentingan umum. Di mana saja dia bekerja, dilakukannya dengan sebaik baiknya demi meraih kebaikan umat manusia. Seperti halnya para sahabat, mereka ada yang menjadi petani, saudagar, dan yang lainnya. Mempercayai akherat tidak berarti menyebabkan mereka berhenti mengerjakan urusan dunia. Bahkan mereka diperintahkan untuk bekerja dan berusaha dalam keadaan bagaimanapun mekipun kiamat datang menghadang, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, ”ketika kiamat terjadi, sedang di tangan seseorang diantara kamu masih ada sebuah bibit pohon kurma, maka jika ia mampu menanamnya maka hendaklah ia menanamnya.” (H.R.Bukori dan Ahmad)
Maka dari itu, konsep zuhud yang membenci segala yang bersifat duniawi secara prinsiple bertentangan secara diametral dengan ajaran islam, dan mencintai kepada hal hal yang bersifat duniawi seperti yang telah disebutkan diatas juga tidak boleh melebihi cinta kita kepada Allah, RasulNya, dan perjuangan dalam membela islam. Sebagaimana firman Allah swt, ” Katakanlah:"Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. 9:24)
Jadi, berdasarkan fitrah manusia dan ketentuan ketentuan syar’i serta contoh Rasulullah dan para sahabat diatas, kita simpulkan bahwa essensi zuhud itu bukan refleksi sikap anti dunia dan berpaling dari dunia, namun sebenarnya zuhud itu adalah upaya untuk meraih keridhaan Allah dan sarana untuk mendapatkan kebahagiaan dunia dan akherat. Wallahu a’lam
Referensi
1. Az Zuhdu Fi Ad Dunya Syi’ar Al Anbiya Wa As Sholihin, Imam Ibnu Rajab Al Hanbali.
2. Ma Li Wa Lid Dunya, Abul Hasan Ash Shogur.
3. Ihya Ulumudin, Imam Al Ghazali.
4. Mukhtashar Nailul Autar, Syaikh Faishal Ali Mubarak.
5. Tasawuf, Perkembangan Dan Pemurnianyya, Hamka.
6. Hurrimah Al Ibtida’ Fi Ad Din, Abu Bakar Jabir Al Jazairi.
7. Wahyu Ilahi Kepada Muhamad (Terjemahan), Muhamad Rasyid Ridha.
8. Iman Dan Kehidupan (Terjemahan) Syaikh Yusuf Al Qardhawi.
Kasih Sejati Dibawa Mati
Abu Hanan Dzakiya
Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.Abu Hanan Dzakiya
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya dalam menulis.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat menulisnya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Pembaca,.. kisah diatas memberikan pelajaran berharga kepada kita bahwa cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Apapun yang ia miliki akan ia korbankan demi kebahagiaan seorang anak.
Namun kecintaan dan pengorbanan orang tua yang begitu besar terkadang justru dibalas oleh anaknya dengan kejahatan. Berapa banyak anak yang menelantarkan kedua orang tuanya disaat mereka berusia senja. Dibiarkannya mereka hidup sengsara, tetap bekerja keras membanting tulang karena tidak ada satupun anaknya yang menjamin kebutuhan hidupnya. Dibiarkannya mereka mengemis di pasar-pasar sekedar untuk mengisi perutnya, karena sudah tidak mampu lagi untuk bekerja. Dibiarkannya mereka hidup kesepian di panti-panti jompo sambil menunggu uluran dermawan yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada mereka. Bahkan kalau terpaksa mereka mau merawat kedua orangtuanya, yang selalu diharapkan adalah agar orangtuanya segera meninggal dunia karena hanya membuat repot keluarganya saja. Itulah sedikit potret anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya. Air Susu dibalas dengan air tuba. Cinta sejati dibalas dengan doa dan harapan agar cepat mati!! ..
Padahal Rasulullah telah mengingatkan akan adzab Allah diakherat nanti bagi mereka yang durhaka kepada orang tuanya. Bahkan adzab tersebut akan disegerakan disaat mereka masih hidup didunia ini. Wal ‘iyadzu billah.
Rasulullah saw bersabda:
“Semua dosa akan ditangguhkan (adzabnya) oleh Allah -menurut yang Dia kehendaki -sampai hari kiamat nanti kecuali dosa durhaka kepada dua orang tua. Maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan adzab kepada pelakunya di dunia ini sebelum ia meninggal." (HR. Hakim)
Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang. Wallahul Musta’an.
Dua Mata Pedang Syetan
Ketika Syetan dikeluarkan dari Jannah Allah ta'ala, Iblis memelas pada Allah, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalangi-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus." (QS. al-'Araf:16)
Dengan sumpah inilah dia terus menggoda manusia sampai hari ini, tak pernah putus harapan. Ia mampu menjadikan ragu seorang hamba antara dua pilihan yang keduanya salah dan bathil, itulah yang sering disebut oleh para ulama dengan istilah ifrath dan tafrith. Ibnu Qoyyim berkata, "Para ulama salaf telah mengatakan, bahwa tidak ada satu perintah Allah pun kecuali syaithan telah membuat dua perangkap: apakah akan terjebak dalam tafrifh (lalai), atau ifrath (berlebihan). Syaitan tidak memperhatikan dengan yang mana dia akan tergoda."
Pernah tiga seorang shahabat yang dengan tulus menginginkan sebuah pahala: yang pertama mengatakan, "Saya tidak akan pernah memakan daging." Yang kedua mengatakan, "Saya tidak akan pernah menikahi wanita." Dan yang ketiga mengatakan, "Saya tidak pernah tidur di atas tempat tidur." Tapi bagaimana sikap Nabi ketika mengetahui hal demikian. Justru beliau mengatakan, "Mengapa mereka mengatakan ini dan ini, padahal saya shaum dan berbuka, tidur dan bangun, memakan daging, dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang benci dengan sunnahku maka bukan dari golonganku." (HR. Bukhari Muslim)
Jadi, Nabi tidak memandang apa yang dilakukan shahabat tadi terpuji, tapi tercela. Sebaliknya Nabi pun tidak memandang baik mereka-mereka yang tidak melaksanakan qiyamullail, atau terjebak dengan fitnah wanita setelah melaksanakan pernikahan. Maka Nabi pun mencontohkan tetap nikah tanpa terperangkap dalam fitnah wanita, dan tetap tidur juga melaksanakan qiyamullail.
Kedua perangkap itu bak mata pedang syetan yang siap menusuk dari dua arah yang berlawanan. Dengan alasan menghindari kesesatan, malah terjerumus pada kesesatan yang satunya. Jalan Allah hanya satu yaitu jalan yang lurus. Jangan belok ke kanan karena menghindari yang kiri, atau sebaliknya ke arah kiri karena menghindari jalan yang ke kanan. Allah ta'ala berfirman, "Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa." (QS. al-An'am: 153)
